Windyaningrum, Sabatina
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

EFEK PROTEKTIF PROBIOTIK KEFIR PADA ORGAN REPRODUKSI HEWAN COBA Windyaningrum, Sabatina
Media Husada Journal of Midwifery Science Vol. 3 No. 1 (2025): Januari
Publisher : LPPM Widyagama Husada Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33475/mhjms.v3i1.22

Abstract

Kefir merupakan produk probiotik yang berasal dari fermentasi susu kambing atau susu sapi. Fermentasi kefir menggunakan kefir grains yang memiliki komposisi mikrobiologi kompleks, meliputi bakteri asam laktat, ragi (yeast), dan fungi. Kefir memiliki kandungan yang unik, yaitu kefiran yang merupakan jenis eksopolisakarida potensial pada kefir grains memiliki aktivitas antioksidan yang kuat. Selain sebagai antioksidan poten, manfaat kefir juga sebagai agen antimutagenik, antitumor, antiinflamasi, radical scavenging, dan agen pereduksi stres oksidatif. Banyak sekali khasiat kefir bagi kesehatan, tetapi belum banyak yang menguji efek kefir pada organ reproduksi. Oleh karena itu, pada tinjauan literatur ini akan memaparkan beberapa hasil penelitian mengenai efek protektif kefir sebagai probiotik dan agen antioksidan pada organ reproduksi hewan coba betina dan jantan. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan melakukan penelurusan data sekunder. Data yang diambil pada tinjauan literatur kali ini berasal dari hasil penelitian eksperimental pada hewan coba. Sumber data didapatkan dari publikasi jurnal dengan kriteria true experimental, open access berbahasa Inggris yang terindeks Google Scholar dengan rentang waktu 2014-2024, jenis kefir yang digunakan dalam penelitian adalah yang berbahan susu, dan efek proteksi kefir yang diteliti terhadap organ reproduksi hewan coba baik jantan maupun betina. Studi literatur menunjukkan efek protektif kefir pada organ reproduksi ovarium, uterus, testis, dan karakteristik air mani hewan coba.
The Relationship Between Long-Term Usage Of Hormonal Contraception And Sexual Dysfunction And Quality Of Women's Sexual Life Windyaningrum, Sabatina; K.W.M. Justus, Dwi Murwani K.W.M. Justus; Rahmawati, Wenny Rahmawati
Media Husada Journal of Midwifery Science Vol. 3 No. 2 (2025): Juli
Publisher : LPPM Widyagama Husada Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33475/mhjms.v3i2.27

Abstract

Long-term use of hormonal contraception is suspected to have side effects, decreasing women's libido,thus affecting their sexual function and quality. Experts call this sexual dysfunction. This study aims todetermine the relationship between long-term use of hormonal contraception and sexual dysfunction andthe quality of women's sexual lives at TPMB Mudjiasri. The study was conducted from August toNovember 2024. The research method used an analytical observational approach with a cross-sectionalapproach. A sample of 30 people was drawn using total sampling that met the inclusion and exclusioncriteria. Statistical tests used univariate and bivariate Spearman Rank analysis. The results showed that12 respondents (40%) had used hormonal contraception for 3-6 years, 10 people (33.3%) had used it formore than 6 years up to 9 years, and 8 people (26.7%) had used hormonal contraception for more than9 years. Furthermore, of the 30 respondents, 93.3% (28 people) experienced sexual dysfunction and 6.7%(2 people) did not experience sexual dysfunction. In addition, 83.3% (25 people) had an unsatisfactoryquality of sexual life and 16.7% (5 people) had a satisfactory quality of sexual life. The correlation testusing Spearman Rank obtained a p-value of 0.112 in the relationship between the duration of hormonalcontraceptive use and sexual dysfunction, which means there is no relationship between the twovariables. In addition, no significant relationship was found between the duration of hormonalcontraceptive use and the quality of women's sexual life with a p-value of 0.416. The duration of hormonalcontraceptive use does not directly affect the state of sexual dysfunction and the quality of a woman'ssexual life. In addition, the causes of sexual dysfunction experienced by acceptors can be influenced byseveral factors, including age, occupation, knowledge, social environment, and communication, whichstill require further in-depth research. The conclusion of this study is that there is no relationship betweenthe duration of hormonal contraceptive use and sexual dysfunction and the quality of women's sexual life.
Hubungan Pola Menstruasi dan Status Gizi Berdasarkan Indeks Massa Tubuh dengan Kadar Hemoglobin pada Remaja Putri Maghfiroh, Dinda Oktia; Windyaningrum, Sabatina; Mutiasari, Dellis Eka; Itsnainy, Naila Farihatul
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i3.24510

Abstract

ABSTRACT Adolescence is a phase of life that carries a high risk of anemia, particularly iron deficiency anemia, influenced by increased nutrient requirements during growth and blood loss due to menstruation. Menstrual patterns and nutritional status (BMI/Age) are factors suspected of contributing to variations in hemoglobin levels in this age group. This study aimed to analyze the relationship between menstrual patterns and nutritional status based on body mass index and hemoglobin levels in adolescent girls. The study used an observational analytical design with a cross-sectional approach. A total of 70 adolescent girls from SMKN 3 Malang were recruited as respondents using a purposive sampling method. Data on menstrual patterns were obtained through questionnaires, while nutritional status (BMI/Age) and hemoglobin levels were measured directly. Data analysis included univariate and bivariate analyses (Pearson and Chi-Square test). The Pearson analysis showed a significant relationship between menstrual patterns and hemoglobin levels (p=0.035), with respondents with irregular menstrual patterns tending to have lower hemoglobin levels. In contrast, body mass index did not show a significant association with hemoglobin levels using the Chi-Square test (p=0.642). Adolescents with irregular menstrual patterns tend to have a higher risk of anemia compared to those with regular menstrual patterns. Meanwhile, nutritional status (BMI/Age) is not a major factor influencing hemoglobin levels in this population and does not necessarily reflect micronutrient adequacy, particularly iron. Keywords: Adolescent Girls, Menstrual Patterns, Nutritional Status, Hemoglobin, Anemia.  ABSTRAK Masa remaja putri merupakan fase kehidupan yang memiliki risiko tinggi terhadap terjadinya anemia, khususnya anemia defisiensi besi, yang dipengaruhi oleh peningkatan kebutuhan zat gizi selama pertumbuhan serta kehilangan darah akibat menstruasi. Pola menstruasi dan status gizi (IMT/U) merupakan faktor yang diduga berkontribusi terhadap variasi kadar hemoglobin pada kelompok usia ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola menstruasi dan status gizi berdasarkan indeks massa tubuh dengan kadar hemoglobin pada remaja putri. Penelitian dilakukan menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 70 remaja putri SMKN 3 Malang dilibatkan sebagai responden dengan metode purposive sampling. Data mengenai pola menstruasi diperoleh melalui kuesioner, sedangkan status gizi (IMT/U) dan kadar hemoglobin diukur secara langsung. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat (uji Pearson dan Chi-Square). Hasil analisis Pearson menunjukkan bahwa pola menstruasi memiliki hubungan yang signifikan dengan kadar hemoglobin (p=0,035), di mana responden dengan pola menstruasi tidak normal cenderung memiliki kadar hemoglobin yang lebih rendah. Sebaliknya, indeks massa tubuh tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kadar hemoglobin melalui uji Chi-Square (p=0,642). Remaja dengan pola menstruasi tidak teratur cenderung memiliki risiko anemia yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang memiliki pola menstruasi teratur. Sementara status gizi (IMT/U) bukan merupakan faktor utama yang memengaruhi kadar hemoglobin pada populasi ini dan belum tentu mencerminkan kecukupan mikronutrien, khususnya zat besi. Kata Kunci: Remaja Putri, Pola Menstruasi, Status Gizi, Hemoglobin, Anemia.