Khudrotun Nafisah
Universitas Darul Ulum

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Situs Watugaluh Identitas dan Bukti Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno Devit Alfariski; Khudrotun Nafisah
Jurnal Pengabdian Masyarakat Universitas Darul Ulum Vol 4 No 1 (2025): DIMAS-UNDAR
Publisher : Universitas Darul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32492/dimas-undar.v4i1.4104

Abstract

Penelitian ini mengkaji Situs Watugaluh sebagai bukti peninggalan Kerajaan Mataram Kuno, dengan tujuan mengidentifikasi aset historis dan budaya di sekitar situs, merumuskan visi pelestarian komunitas, serta menghasilkan rekomendasi pelestarian yang berkelanjutan. Hasil identifikasi mengungkap keberadaan “Batu Mbah-Mbeh” sebagai aset utama masyarakat sekaligus peninggalan kerajaan Mataram Kuno. Sebagaimana dibuktikan melalui Prasasti Anjukladang tahun 937 M. Berdasarkan konsensus komunitas, disepakati langkah-langkah strategis seperti pemasangan signboard dan pendaftaran situs di Google Maps untuk meningkatkan kesadaran dan aksesibilitas publik. Temuan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat lokal melalui partisipasi aktif mampu memperkuat komitmen pelestarian dan menyediakan model replikasi bagi upaya pelestarian situs sejarah lainnya. This study examines the Watugaluh Site as evidence of the legacy of the Ancient Mataram Kingdom, with the aim of identifying historical and cultural assets around the site, formulating a community preservation vision, and producing recommendations for sustainable preservation. The identification results reveal the existence of “Batu Mbah-Mbeh” as the main asset of the community as well as a legacy of the Ancient Mataram Kingdom. As evidenced by the Anjukladang Inscription dated 937 AD. Based on community consensus, strategic steps were agreed upon such as installing signboards and registering the site on Google Maps to increase public awareness and accessibility. These findings indicate that empowering local communities through active participation can strengthen the commitment to preservation and provide a replication model for efforts to preserve other historical sites.
Makna Kejahatan Cyber Harassment Pada Generasi Zillenial Di Era Digital Network Society Khudrotun Nafisah; Abu Tazid; Izzatul Lutfiyah; Farichatun Nisa
Journal of Public Power Vol. 8 No. 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Universitas Darul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32492/jpp.v8i1.8103

Abstract

Cyber harassment merupakan kata-kata yang dikirimkan secara pribadi berupa cacian dan makian yang dilakukan secara terus menerus secara digital. Jenis teknologi yang digunakan biasanya adalah media sosial seperti Instagram, telegram, twitter dsb. Generasi zillenial yang dianggap sebagai generasi digital dianggap sebagai generasi yang lahir dan tumbuh dengan teknologi. Sehingga diperlukan pengetahauan dan pemahaman terkait dengan harassment guna meminimalisir tingkat kejahatan cyber pada generasi zillenial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teori Fenomenologi milik Alfred Schutz. Dalam meneliti fenomena ini, penulis melakukan wawancara pada 10 subjek dengan fokus penelitian menggunakan because motive atau motif sebab dan in order to motive atau motif tujuan. Penelitian ini menghasilkan tuga temuan terkait dengan harassment yaitu pemenuhan kepuasan dan balas dendam, pemenuhan narsistik, serta pengisi waktu luang