Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pembinaan Pecandu Narkoba Melalui Tazkiyatun Nafs Di Pondok Pesantren Al-Qodir Cangkringan Sleman Yogyakarta Muwefik, Muhammad
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 19 No. 3 (2021): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53515/qodiri.2022.19.3.701-717

Abstract

Pondok pesantren menjadi lembaga yang menarik untuk diteliti, terlebih saat ini pondok pesantren menjadi tempat pelaksanaan tazkiyatun nafs atau purifikasi jiwa bagi para pecandu narkoba. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui alasan pondok pesantren al-Qodir membimbing para pecandu narkoba melalui tazkiyatun nafs atau purifikasi jiwa; 2) Mengetahui pelaksanaan Tazkiyah An-Nafs atau purifikasi jiwa di Pondok Pesantren Al-Qodir Cangkringan Sleman dalam membina pecandu narkoba; 3) Mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam membimbing para pecandu narkoba melalui Tazkiyah An-Nafs atau purifikasi jiwa di pondok pesantren Al-Qodir Cangkringan Sleman. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Lokasi penelitian ini adalah di Pondok Pesantren Al-Qodir Cangkringan, Sleman Yogyakarta. Kemudian teknik pengumpulan data memakai tiga teknik, yaitu observasi berperan serta (participant obsevation), wawancara mendalam (in depth interview) dan dokumentasi. Hasil penelitian ini ialah 1) pondok pesantren al-qodir sebagai tempat penyucian jiwa karena merespon terhadap faktor eksternal dan karena faktor internal pondok pesantren al-Qodir dengan pendekatan religiusnya yang berupa tazkiyatun nafs atau purifikasi jiwa; 2) Bimbingan tazkiyatun nafs atau purifikasi jiwa bagi para pecandu narkoba ialah pertama, menetapkan pondasi awal bimbingan bagi pecandu narkoba, kedua sarana-sarana takiyatun nafs, ketiga, output tazkiyatun nafs adalah akhlak yang baik; 3) Faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan bimbingan tazkityatun nafs adalah pertama, faktor pendukungnya ialah motivasi dan kerjasama keluarga serta lingkungan; kedua, faktor penghambatnya adalah, keluarga kurang koperatif, diri sendiri yang malas, bertemu teman lama. Keywords: Pecandu Narkoba, Pondok Pesantren Al-Qodir, Tazkiyatun Nafs.
Strategi Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (P3AKB) dalam Menangani Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Kabupaten Bondowoso Muhammad Muwefik; Hikmatul Hasanah
Journal Review of Islamic and Social Studies Vol. 2 No. 1 (2026): Journal Review of Islamic and Social Studies
Publisher : Atha Publishing Globalindo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64845/riss.v2i1.150

Abstract

Kekerasan seksual terhadap anak merupakan permasalahan serius yang masih terjadi di Kabupaten Bondowoso dan berdampak luas terhadap kondisi fisik, psikologis, dan sosial korban. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (P3AKB) Kabupaten Bondowoso dalam menangani kasus kekerasan seksual terhadap anak serta mengidentifikasi faktor penghambat pelaksanaannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian meliputi kepala UPTD PPA, pendamping, dan pihak terkait. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman dengan uji keabsahan melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanganan kasus dilakukan melalui delapan layanan utama, yaitu konseling psikologis, pendampingan medis, bantuan hukum, perlindungan, pelayanan sosial, pendidikan, rujukan, dan pemantauan. Strategi tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi lintas sektor dengan rumah sakit, kepolisian, dan lembaga bantuan hukum guna mengatasi keterbatasan internal lembaga. Faktor penghambat utama meliputi keterbatasan sumber daya manusia, struktur organisasi yang belum optimal, serta minimnya fasilitas pendukung seperti ruang konseling dan rumah aman. Meskipun demikian, strategi berbasis kolaborasi dinilai efektif dalam memberikan perlindungan dan pendampingan komprehensif bagi anak korban kekerasan seksual.