Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Efektivitas ekstrak etanol daun ungu (Gratophyllum pictum (L.)) untuk menurunkan kadar TNF-α dan NO Tjahjani, Nur Patria; Kristina, Tri Nur; Lestari, Endang Sri
Pharmaciana Vol 6, No 2 (2016): Pharmaciana
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.361 KB) | DOI: 10.12928/pharmaciana.v6i2.3610

Abstract

Ethanol extract of Gratophyllum pictum L (G. pictum L). leaves contain phytochemical compounds such as alkaloids, tannins and flavonoids, which have antibacterial activity against Staphylococcus aureus. This study aims to prove the effectiveness of  ethanol extract of G. pictum L. to reduce the level of TNF-α and NO in Swiss mice infected with S. aureus.The study treated 30 Swiss mice divided into 5 groups, consist of: K (-) normal mice ; K (+) mice were infected with S. aureus ; P1, P2, P3 were infected with S. aureus and given the ethanol extract of G. pictum leaves,75,150, and 300 mg/kgBW/day for 7 days . Mean levels of TNF-α of group K(-), K (+), P1, P2, P3 were 300.29; 550.29; 390.34; 517.67; 327.55 pg / mL respectively. One Way ANOVA test showed that there were significant differences between all treatment groups (p = 0.001), LSD Post Hoc test revealed P1 and P3 groups different significantly with K (+) with p= 0.013 and p = 0.001. Mean levels of NO of group K (-), K (+), P1, P2, P3 were 1.32; 3.56; 2.50; 2.64; and 1.56 μM/mL respectively. Kruskal WallisTest showed that the levels of NO not significantly different, although NO levels at 300 mg/kgBW/day similar with to the levels of NO group K(-). Spearman correlation test showed that there were correlations between TNF-α and NO with the variation results on each treatment groups. Ethanol extract of G. pictum leaves at 300 mg/kgBW/day for 7 days is regarded as the effective dose to reduce TNF-α and NO levels in Swiss mice infected by S. aureus.
ANALISIS PERBEDAAN KADAR KAFEIN PADA KOPI BUBUK HITAM DAN KOPI BUBUK PUTIH INSTAN SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis. Nur Patria Tjahjani; Afra Chairunnisa; Hana Handayani
Cendekia Journal of Pharmacy Vol 5, No 1 (2021): Cendekia Journal of Pharmacy
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/cjp.v5i1.90

Abstract

Coffee is famous for its high caffeine content, with the main role of caffeine in the body is to improve psychomotor work so that the body stays awake and provides a physiological effect in the form of increased energy with a limit on coffee consumption of no more than 3-4 cups of coffee a day. Caffeine is a type of xanthine alkaloid that has two carbon rings with four nitrogen atoms and has a bitter taste. This study aims to determine the caffeine levels in black ground coffee and white ground coffee, analyze the differences and to find out the theoretical caffeine levels in one cup of coffee. The method used for qualitative analysis using UV- Vis Spectrophotometer at wavelength of 273 nm, the experiment was carried out three times the replication. The results of the study of caffeine content in black coffee powder samples and instant white coffee powder in a row were : H1 4,8mg: H2 3,65 mg; H3 4,85 mg; H4 3,95 mg; H5 3,85 mg; P1 9,85 mg; P2 8,8 mg; P3 9,6 mg; P4 7,4 mg; P5 6,45 mg. T tests results showed significant differences in caffeine levels of black ground coffee and white ground coffee with a value of p=0,00. According to the Indonesian Pharmacopoeia (1995), if it is theoretically reviewed in one consumption / sachet of black powdered coffee and instant white powdered coffee is still within reasonable limits or does not exceed the usual dose, which is 300 -600 mg.
Gambaran Senyawa Bioaktif dalam Sediaan Celup Binahong (Anredera Cordifolia (Ten) Steenis) Nur Patria Tjahjani; Yusniawati Yusniawati
Cendekia Journal of Pharmacy Vol 1, No 1 (2017): Cendekia Journal of Pharmacy
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.744 KB) | DOI: 10.31596/cjp.v1i1.8

Abstract

Binahong (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) adalah tanaman obat, asli dari Amerika Selatan, dikenal memiliki khasiat penyembuhan yang luar biasa oleh sebab itu digunakan sebagai obat tradisional.Zat bioaktif dalam tanaman binahong dapat membantu proses penyembuhan penyakit-penyakit degeneratif seperti kerusakan ginjal, diabetes, pembengkakan jantung, strok, wasir dan asam urat. Skrining fitokimia ekstrak etanol menunjukkan daun binahong mengandung senyawa bioaktif fenolik, flavonoid, triterpenoid, β-sitosterol, alkaloid dan saponin. Masyarakat sering menggunakan rebusan air binahong sebagai minuman tradisional untuk menyembuhkan beberapa penyakit, antara lainpenyakit maag, asam urat, diabetes, menjaga daya tahan tubuh, serta melancarkan buang air kecil. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran senyawa bioaktif yang terkandung dalam ekstrak air sediaan celup binahong.Daun binahong dikeringkan, dilakukan sortasi dan pengecilan ukuran  dengan menggunakan blender, selanjutnya dimasukkan dalam kemasan celup.Metode yang digunakan dalam pembuatan ekstrak air sediaan celup binahong adalah metode maserasi dengan menggunakan pelarut air panas. Identifikasi kandungan senyawa bioaktif digunakan reaksi kimia kualitatif, yaitu reaksi warna dan reaksi pengendapan. Uji yang dilakukan adalah uji fenolik, flavonoid, saponin, steroid, terpenoid, dan uji alkaloid.Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada daun binahong dapat disimpulkan bahwa kandungan senyawa bioaktif yang terdapat pada ekstrak air  sediaan celup Binahong (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) adalah Fenolik, Saponin dan Alkaloid.
EFEKTIVITAS GETAH POHON YODIUM (Jatropha Multifida Linn) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus SECARA IN VITRO Nur Patria Tjahjani; Putri Ridho Ramadhan
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama Vol 6, No 1 (2017): Edisi Maret 2017
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1476.759 KB) | DOI: 10.31596/jcu.v2i5.166

Abstract

Pohon Yodium (Jatropha multifida Linn) biasa digunakan oleh masyarakat untuk mengobati luka pada kulit, misalnya luka gores ataupun luka sayat. Getah pohon yodium ini memiliki senyawa fitokimia flavonoid, fenolik dan terpenoid yang mempunyai aktivitas antibakteri terhadapStaphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan konsentrasi hambat minimum dan waktu kontak efektif getah pohon yodium (Jatropha multifida Linn) untuk menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.Metode penelitian ini adalah eksperimental dengan Post Test Only Control group design. Sampel getah yang diperoleh dibuat konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80%, 100% kemudian ditambah dengan suspensi bakteri Staphylococcus aureus dengan waktu kontak selama 3 jam dan 6 jam. Masing-masing kelompok konsentrasi getah pohon yodium dan supensi bakteri yang sudah digoreskan pada media MSA dan diinkubasi selama 24 jam 37°C, dihitung jumlah koloninya pada hari berikutnya.Konsentrasi 20% dengan waktu kontak 3 jam dan 6 jam mampu menghambat pertumbuhan koloni bakteri S. aureus hingga 70% dan 40% dari kontrol positif. Hasil uji Regresi menunjukkan perbedaan bermakna pada setiap kelompok konsentrasi dengan p = 0,006 untuk waktu kontak 3 jam dan p = 0,027 untuk waktu kontak 6 jam. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank menunjukkan adanya perbedaan bermakna dengan p =0,043, pada kontak waktu 3 jam dan 6 jam.Getah pohon yodium 20 % merupakan konsentrasi hambat minimum dan  waktu kontak 3 jam efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus secara in vitro.Kata kunci : Konsentrasi Hambat  Minimum,Waktu kontak efektif, Getah pohon yodium, Staphylococcus aureus.
Efektivitas ekstrak etanol daun ungu (Gratophyllum pictum (L.)) untuk menurunkan kadar TNF-α dan NO Nur Patria Tjahjani; Tri Nur Kristina; Endang Sri Lestari
Pharmaciana Vol 6, No 2 (2016): Pharmaciana
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.361 KB) | DOI: 10.12928/pharmaciana.v6i2.3610

Abstract

Ethanol extract of Gratophyllum pictum L (G. pictum L). leaves contain phytochemical compounds such as alkaloids, tannins and flavonoids, which have antibacterial activity against Staphylococcus aureus. This study aims to prove the effectiveness of  ethanol extract of G. pictum L. to reduce the level of TNF-α and NO in Swiss mice infected with S. aureus.The study treated 30 Swiss mice divided into 5 groups, consist of: K (-) normal mice ; K (+) mice were infected with S. aureus ; P1, P2, P3 were infected with S. aureus and given the ethanol extract of G. pictum leaves,75,150, and 300 mg/kgBW/day for 7 days . Mean levels of TNF-α of group K(-), K (+), P1, P2, P3 were 300.29; 550.29; 390.34; 517.67; 327.55 pg / mL respectively. One Way ANOVA test showed that there were significant differences between all treatment groups (p = 0.001), LSD Post Hoc test revealed P1 and P3 groups different significantly with K (+) with p= 0.013 and p = 0.001. Mean levels of NO of group K (-), K (+), P1, P2, P3 were 1.32; 3.56; 2.50; 2.64; and 1.56 μM/mL respectively. Kruskal WallisTest showed that the levels of NO not significantly different, although NO levels at 300 mg/kgBW/day similar with to the levels of NO group K(-). Spearman correlation test showed that there were correlations between TNF-α and NO with the variation results on each treatment groups. Ethanol extract of G. pictum leaves at 300 mg/kgBW/day for 7 days is regarded as the effective dose to reduce TNF-α and NO levels in Swiss mice infected by S. aureus.
Kelainan Genetik Klasik: Tinjauan Penciptaan Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an Nur Patria Tjahjani; Anggun Zuhaida
MUDARRISA: Jurnal Kajian Pendidikan Islam Vol 5, No 2 (2013)
Publisher : Prodi PGMI IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.887 KB) | DOI: 10.18326/mdr.v5i2.222-250

Abstract

Allah telah menciptakan manusia dari tanah dan keturunannya diciptakan dari sel sperma dan ovum, untuk membentuk zigot, embrio dan kemudian menjadi janin dan akhirnya akan lahir manusia yang akan menjadi khalifah baru di bumi. Dalam penciptaannya, manusia akan menjadi manusia sempurna atau tidak sempurna dan itu menjadi tanda-tanda kekuasaan Allah. Penyakit genetik atau kelainan genetik adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh kelainan dari satu atau lebih gen yang menyebabkan kondisi fenotipe klinis. Hal ini dapat terjadi karena peristiwa nondisjunction, yaitu proses di mana sel telur dan sperma mereplikasi diri dan membagi. Penelitian ini difokuskan untuk mengetahui adanya kelainan-kelainan genetik pada manusia yang dilihat dalam tinjauan penciptaan manusia dalam perspektif al-Qur’an. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif menggunakan metode non interaktif. Kelainan genetik yang terjadi membutuhkan serangkaian pemeriksaan dan sitogenetik molekul yang lengkap. Meskipun masalah genetik dan fisik bagi orang-orang dengan kelainan kromosom tidak dapat diatasi, pendidikan dan perawatan yang tepat setelah berkomunikasi dengan seorang konselor genetik akan meningkatkan kualitas hidup mereka. Allah has created man from the land and his descendants were created from the sperm cell and ovum, to form a zygote, embryo and then into a fetus and eventually be born human beings who will be the new caliph in the earth. In its creation, it would be a perfect or imperfect human being and it became the signs of Allah’s power. Genetic disease or genetic disorder is a condition caused by abnormalities of one or more genes that cause a clinical phenotype condition. The causes of genetic diseases are due to abnormalities of chromosome number. This can occur due to nondisjunction, which is a process in which egg and sperm self-replicate and divide. This study is focused to detect genetic abnormalities in humans is seen in the review of the creation of man in the perspective of the al-Qur’an. This research is a qualitative descriptive approach using non-interactive methods. Genetic disorder requires a series of checks and molecular cytogenetic complete. Although genetic and physical problems for people with chromosomal abnormalities can not be overcome, education and proper care after communicating with a genetic counselor will improve the quality of their lives. Kata kunci: kelainan genetik, penciptaan manusia, al-Qur’an
Pengenalan Profesi Apoteker dan Mengenali Obat Sejak Usia Dini Christina Astutiningsih; Nur Patria Tjahjani; Listyani Listyani
Jurnal Abdidas Vol. 2 No. 3 (2021): Pages 459-724
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdidas.v2i3.344

Abstract

Mengenalkan profesi apoteker dan obat sejak usia dini kepada anak sekolah dasar dirasa sangat perlu untuk memberikan tambahan wawasan kepada anak-anak  tentang profesi apoteker, mengenalkan cara mendapat, menggunakan, menyimpan, dan membuang (DAGUSIBU) obat dengan benar. Untuk mendukung hal tersebut maka dilakukan kegiatan pengabdian ini untuk memberikan informasi terkait profesi apoteker dan edukasi penggunaan obat yang tepat. Kegiatan sosialisasi dilaksanakan di SD Negeri Sendangmulyo 02 Semarang dengan sasaran siswa kelas V menggunakan metode ceramah yaitu dengan memaparkan berbagai informasi tentang pengenalan apoteker, apoteker cilik (APOCIL). Kegiatan ini diawali dengan apel bersama selanjutnya kegiatan pemberian materi di dalam kelas, dengan memberikan materi terkait profesi  apoteker  tugas dan wewenangnya, materi tentang apoteker cilik disajikan dengan bernyanyi lagu yang berjudul “Apoteker Cilik” dan selanjutnya disampaikan materi Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan obat (Gema Cermat). Kesimpulan yang diperoleh dari kegiatan ini adalah dapat dicapai tujuan kegiatan yaitu adanya  peningkatan citra positif siswa siswi terhadap profesi apoteker dan mampu menumbuhkan semangat anak-anak untuk dapat mengenal dan mencintai profesi apoteker yang akan tertuang ketika mereka menjadi Apoteker Cilik (Apocil). Dan siswa siswi yang masih berusia belia semakin mengenal hal-hal yang berkaitan dengan obat yaitu cara mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat yang benar (DAGUSIBU).
Efektivitas Pemberian Sari Mentimun (Cucumis Sativus L) sebagai Terapi Non- Farmakologi pada Penderita Hipertensi di Desa Donorejo Kabupaten Demak Nur Patria Tjahjani; Ayu Aprilia Atika Sari
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 6 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v4i6.9218

Abstract

Hipertensi adalah kondisi seseorang yang tekanan darah sistoliknya diatas 140 dan tekanan darah diastoliknya diatas 90 mmHg. Salah satu cara untuk menurunkan tekanan darah tinggi adalah dengan metode farmakologi (menggunakan obat) dan non-farmakologi (tanpa menggunakan obat) yaitu dengan menggunakan terapi sari mentimun. Sari mentimun dapat menurunkan hipertensi karena mengandung potassium, magnesium, kalium dan fosfor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rata-rata tekanan darah responden sebelum dan sesudah pemberian sari mentimun serta untuk menganalisis perbedaan tekanan darah responden sebelum dan sesudah pemberian sari mentimun. Jenis penelitian ini adalah survey observational analitik yang dilakukan pada bulan Februari 2022. Populasi pada penelitian ini adalah masyarakat yang menderita hipertensi baik laki-laki maupun perempuan di Desa Donorejo Kecamatan Karangtengah Kabupaten Demak. Desain penelitian yang digunakan adalah One Group Pretest Posstest Design. Penelitian ini dilakukan selama 7 hari dengan pemberian sari mentimun satu hari sekali. Instrumen penelitian ini menggunakan tensimeter digital dan lembar observasi. Dari hasil penelitian didapatkan rata-rata penurunan dari 148,30/89,93 mmHg menjadi 132,46/83 mmHg dengan selisih penurunan sebesar 15.84/6.93 mmHg. Hasil dari normalitas data didapatkan data tidak berdistribusi normal, kemudian dilanjutkan dengan uji Wilcoxon Sigh Rank Test didapatkan hasil ada perbedaan yang bermakna pada pemberian sari mentimun sebelum dan sesudah perlakuan terhadap penurunan tekanan darah di Desa Donorejo Kabupaten Demak.
POTENSI EKSTRAK ETANOL 70% DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis.) DAN EKTRAK ETANOL 96% DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle L.) TERHADAP BAKTERI Proteus mirabilis Nur Patria Tjahjani; Dyah Widhi Lestari
Jurnal Pranata Biomedika Vol 1, No 1: Maret 2022
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/jpb.v1i1.3331

Abstract

Latar belakang : Daun binahong (Anredera  cordifolia (Ten.) (Steenis) dan daun sirih hijau (Piper betle L.) sudah banyak dikenal masyarakat sebagai antiseptik alami untuk perawatan dan pencegahan berbagai macam penyakit yang diakibatkan virus dan bakteri seperti, infeksi saluran kemih yang diakibatkan oleh bakteri Proteus mirabilis. Daun binahong dan daun sirih hijau dapat sebagai antiseptik karena mempunyai kandungan zat aktif bakterisida.Tujuan penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan potensi antibakteri ekstrak etanol 70% daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) dan ekstrak etanol 96%  daun sirih hijau (Piper betle L.) terhadap bakteri Proteus mirabilis.Metode : Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode difusi cakram Kirby Bauer. Pada metode ini dilihat zona jernih yang dihasilkan dari disk kosong yang telah diberi ekstrak daun binahong dan ekstrak daun sirih hijau dengan konsetrasi 20%, 40%, 60% dan 80% untuk diinkubasi pada suhu dan waktu yang sesuai.Hasil dan Kesimpulan : Dari penelitian yang dilakukan replikasi sebanyak 3 kali dapat disimpulkan ekstrak etanol 96% daun sirih hijau (Piper betle L.) menunjukkan potensi antibakteri yang lebih kuat dalam menghambat pertumbuhan bakteri Proteus mirabilis dibandingkan dengan ekstrak etanol 70% daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) dalam berbagai konsentrasi.
Daya Hambat Ekstrak Etanol Daun Tekelan (Chromolaena Odorata L.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus Aureus Nur Patria Tjahjani; Afra Chairunnisa; Agustinus Krisdianto
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 5: April 2023
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v2i5.1488

Abstract

Daun tekelan (Chromolaena odorata) merupakan bahan alam yang memiliki khasiat mengobati berbagai penyakit, seperti perawatan luka ringan, luka bakar, dan infeksi pada kulit. Selain itu juga dimanfaatkan sebagai antibakteri. Daun tekelan memiliki kandungan senyawa seperti tanin, steroid, saponin, fenolik dan flavonoid. Senyawa tersebut yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak etanol daun tekelan (Chromolaenaodorata) terhadap pertumbuhan bakteri Staphyloccocus aureus menggunakan metode dilusi. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan menguji ekstrak daun tekelan dengan berbagai konsentrasi yaitu 40%, 60%, 80%, 100%. Simplisia daun tekelan diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Etanol merupakan pelarut organik yang dapat menarik sebagian besar senyawa-senyawa bioaktif yang terdapat didalam simplisia, metode maserasi dengan larutan penyari etanol 96% digunakan untuk menyari senyawa-senyawa fenolik khususnya flavonoid dan tanin. Dari penelitian ini didapatkan hasil pada pengujian daya hambat ekstrak etanol daun tekelan terhadap pertumbuhan bakteri Staphyloccocus aureus dengan konsentrasi 40%, 60%, 80%, 100%, dan pada kontrol negatif (K-) tidak terdapat pertumbuhan bakteri, hal ini menunjukkan bahwa pada konsentrasi tersebut ekstrak etanol daun tekelan dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.