Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PENERAPAN KONSEP ECO-CULTURAL TOURISM DALAM PENGEMBANGAN KAMPUNG BATIK CIWARINGIN DI CIREBON Nurwinata, Sharron; Carina, Nina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27498

Abstract

Cirebon is a city in West Java that is not only famous for its nickname of Shrimp City but also for its rich batik cultural heritage. In addition to Trusmi, which has now become a national tourist attraction, Cirebon also has Ciwaringin area that produces Ciwaringin Batik. Ciwaringin Batik comes from Ciwaringin Village, Cirebon Regency, Ciwaringin Batik has maintained the tradition of written batik for three generations. Ciwaringin Batik Village, especially in Kebon Gedang Block, is the center of a community of batik artisans who produce written batik with traditional processes. The difference between Ciwaringin Batik and Trusmi Batik is that besides the difference in motifs, Ciwaringin Batik is made using natural dyes. Currently, the potential of Ciwaringin Batik is not widely known due to several obstacles such as limited production facilities, lack of physical and non-physical marketing facilities, hard-to-reach locations due to limited transportation systems. This results in the next generation of Ciwaringin culture is also less interested in preserving and developing Ciwaringin Batik. Through Empathy Architecture and the use of the concept of Eco-Cultural Tourism in the design, the author conducts research using qualitative descriptive methods to be able to identify the real needs to propose facilities. This facility is expected to promote local culture, improve the quality of life and economic conditions of the residents, and encourage the growth of Ciwaringin Batik art at the national and international levels. This is necessary in order to ensure the continuity and sustainability of the heritage of Ciwaringin Batik art. Keywords: batik ciwaringin, cirebon, eco-cultural tourism, empathic architecture Abstrak Cirebon merupakan Kota di Jawa Barat yang tidak hanya terkenal dengan julukan Kota Udang namun juga dengan kekayaan warisan budaya batiknya. Selain Trusmi yang saat ini sudah menjadi obyek kunjungan wisata nasional, Cirebon juga memiliki Kawasan Ciwaringin yang memproduksi Batik Ciwaringin. Batik Ciwaringin berasal dari Kampung Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Batik Ciwaringin telah mempertahankan tradisi batik tulis selama tiga generasi. Kampung Batik Ciwaringin, terutama di Blok Kebon Gedang, menjadi pusat komunitas pengrajin batik yang menghasilkan batik tulis dengan proses tradisional. Perbedaan antara Batik Ciwaringin dengan Batik Trusmi selain perbedaan motif, Batik Ciwaringin dibuat menggunakan pewarna alam. Saat ini potensi Batik Ciwaringin belum dikenal luas akibat beberapa kendala seperti keterbatasan fasilitas produksi, kurangnya fasilitas fisik dan non fisik pemasaran, lokasi yang sulit dijangkau akibat keterbatasan sistem transportasi. Hal ini mengakibatkan generasi penerus budaya Ciwaringin juga kurang tertarik untuk melestarikan dan mengembangkan Batik Ciwaringin. Melalui Arsitektur Empati dan penggunaan konsep Eco-Cultural Tourism pada penelitian, penulis melakukan penelitian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk dapat mengidentifikasikan kebutuhan riil guna mengusulkan fasilitas. Wadah ini diharapkan dapat mempromosikan budaya lokal, meningkatkan kualitas hidup ,kondisi ekonomi penduduk, serta mendorong pertumbuhan seni Batik Ciwaringin di tingkat nasional dan internasional. Hal ini diperlukan agar dapat menjamin keberlangsungan dan keberlanjutan warisan dari seni Batik Ciwaringin ini.