Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

DESAIN VIHARA BUDDHA DENGAN KONSEP KESEDERHANAAN SEBAGAI IDENTITAS DI KAWASAN MANGGA BESAR Theodorus, Pricilia Angelina; Husin, Denny
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30944

Abstract

The negative impact phenomenon in the Mangga Besar area occurs because modernization and globalization have resulted in the transformation of an area that was once rich in Chinatown culture into a place famous for its nightlife. The issue of the area as the center of economic and cultural activities for the Chinese community, with its culinary diversity, religious rites and typical Chinatown architecture, is undergoing drastic changes. The biggest change that is clearly visible is the transformation of the area's function. The problem is, once filled with traditional shops, it has now been filled with the nightlife industry. This marks a shift in focus from traditional economic activities to a modern entertainment industry that accommodates Jakarta's rapidly growing urban lifestyle. This research aims to rebalance elements of Chinese culture and public perception and highlight the potential of the area through placemaking. The method used is qualitative with the concept of simplicity and naturalness of Buddhist Temple design. His findings by adding new functions that can balance activities in this area can be a solution to increase positive perceptions and achieve environmental balance in this area. The novelty is a building that can balance and provide calm amidst the busy nightlife in Mangga Besar. Keywords: architecture; degradation; function; placemaking; temple Abstrak Fenomena dampak negatif di kawasan Mangga Besar terjadi karena modernisasi dan globalisasi terhadap transformasi sebuah kawasan yang dahulunya kaya akan budaya pecinan menjadi sebuah tempat yang terkenal akan kehidupan malamnya. Isu kawasan sebagai pusat kegiatan ekonomi dan budaya masyarakat Tionghoa, dengan keberagaman kuliner, ritus keagamaan, dan arsitektur khas pecinannya tengah mengalami perubahan yang drastis. Perubahan terbesar yang terlihat jelas adalah transformasi fungsi kawasan. Masalahnya, dahulu kawasan ini dipenuhi dengan toko-toko tradisional, kini telah dipenuhi oleh industri hiburan malam. Hal ini menandai pergeseran fokus dari kegiatan ekonomi tradisional ke industri hiburan modern yang mengakomodasi gaya hidup urban yang berkembang pesat di Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menyeimbangkan kembali elemen budaya pecinan serta persepsi masyarakat dan menonjolkan potensi kawasan melalui placemaking. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan konsep kesederhanaan dan kealamian desain vihara Buddha. Temuannya dengan menambahkan fungsi baru yang dapat menyeimbangkan kegiatan di kawasan ini dapat menjadi solusi untuk meningkatkan persepsi positif dan mencapai keseimbangan lingkungan di Kawasan ini. Kebaruannya adalah bangunan yang dapat menyeimbangkan dan memberikan ketenangan di tengah kepadatan kehidupan malam di Mangga Besar.