Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

PELATIHAN BAGI PENGRAJIN KONVEKSI PASAR MINGGU MENGGUNAKAN PENDEKATAN PROSES KREATIF DESAIN ARSITEKTURAL Husin, Denny; Choandi, Mieke; Sanjaya, Rio
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1221.537 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v1i1.1893

Abstract

Pasar Minggu artisans group need to provide additional knowledge and improve their design and application skills, in relation to the need of artisans communities for additional training and income in the future. This need has become an urgent need due to development of technology and increasing competition in the city of Jakarta. Realizing this, the group welcomed the community service as a continuation of the Lawang Gallery 'Understanding body workshop, Department of Architecture Tarumanagara University in 2014 which examines the relationship between Architecture and Fashion, stating the importance of involvement, potential and problems of craftsmen in Indonesia, and the fact that they need additional training to better compete with other regional craftsmen. Using descriptive qualitative methods, this paper explains how to apply architectural fashion theory to textile crafts. The management of the Pasar Minggu textile crafts community lacks facilities for craftsmen to improve their skills and income, however this activity will potentially improve their skill so that they can better follow the development of more complex fashion, especially those related to architectural technology and softwareABSTRAK: Kelompok pengrajin Pasar Minggu membutuhkan memberikan tambahan pengetahuan dan peningkatan keterampilan rancangan dan aplikasinya, berkenaan dengan komunitas pengrajin yang membutuhkan tambahan keterampilan dan pendapatan di masa mendatang. Kebutuhan ini menjadi kebutuhan mendesak karena arus perkembangan jaman dan kompetisi di kota Jakarta yang makin pelik. Terdesak dengan keadaan kelompok ini menerima dengan tangan terbuka kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagai kelanjutan wokshop ‘Understanding body’ Galeri Lawang, Jurusan Arsitektur Universitas Tarumanagara pada tahun 2014 mengangkat hubungan Arsitektur dan Fashion menyatakan pentingnya keterlibatan, potensi dan masalah pengrajin di Indonesia, dan kondisi mereka yang membutuhkan keterampilan tambahan sehingga lebih dapat berkompetisi dengan pengrajin daerah lain. Dengan metode kualitatif deskriptif, menerangkan cara penerapan teori fashion arsitektur untuk diterapkan pada kreasi fabrik atau kain. Pihak pengurus komunitas pengrajin tekstil Pasar Minggu kekurangan fasilitas bagi para pengrajin untuk meningkatkan keterampilan dan penghasilan mereka, kegiatan ini akan berpotensi menambah wawasan mereka agar lebih dapat mengikuti perkembangan fashion yang lebih kompleks, terutama yang berkaitan dengan teknologi dan software arsitektural.
STUDI BIOKULTUR KOMBUCHA UNTUK PENGEMBANGAN MATERIAL BANGUNAN LEMBARAN TERURAI HAYATI Lianto, Fermanto; Trisno, Rudy; Husin, Denny
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v5i2.13047

Abstract

Bioculture development in Indonesia is considered limited in comparison to its global phenomena. It is influenced by Western culture and mainly dictated by market demand. Indonesian advanced bio culture development is dominated by food technology. Few focus on the fashion industry, while the rest is categorized as a traditional home industry. Although Indonesia has many natural and cultural potencies, bio culture has not been developed progressively, especially building material. One of the most promising organic materials that are currently trending is kombucha. It is locally and globally popular in the current situation for herbal tea and cosmetic consumption. Although it is traditionally known for herbal tea production, kombucha SCOBY (Symbiosis Culture of Bacteria and Yeast) is also potentially developed as a synthetic material. It has great economic value, unique character and can be created at home. This paper investigates other benefits of kombucha beyond natural remedies. It is planned to be developed at home by anyone as an alternative building material. The research concentrates on developing kombucha SCOBY as a sheet for making a raw sample for building material and another product design. An experimental method is used by modifying conventional and traditional methods for kombucha brewing. This research emphasizes the variety of nutrients in the form of nutrient solutions and bio culture productivity. This research proves that to produce quality SCOBY. The determinants are a starter, medium (tea and sugar), and room quality, respectively. In the trial, only green tea and black tea that produced SCOBY met the sample criteria. In this trial, the results show that the sample quality is equivalent to paper or leather. It can be developed into wallpaper, space dividers, synthetic leather, and edible food packaging.Keywords: building; bio culture; biodegradable; kombucha; material.AbstrakPengembangan biokultur untuk material bangunan di Indonesia masih sangat terbatas dan digeneralisasi oleh tren mancanegara. Umumnya perkembangan biokultur terdikte oleh permintaan industri dan langka dikembangkan dalam skala rumah tangga. Industri rumahan saat ini lebih banyak didominasi pangan dan sandang daripada papan dan dikelola secara tradisional. Padahal Indonesia memiliki potensi kekayaan material alam dan budaya yang beragam, khususnya biokultur perlu mendapatkan kesempatan dalam pengembangan material bangunan baik untuk kebutuhan harian maupun potensi skala lebih besar. Jamur kombucha adalah salah satu material organik yang cepat berkembang dan tersedia di seluruh pelosok negri. Nilai ekonomis, karakter yang unik dan dapat dikembangkan di rumah merupakan salah satu potensinya, sementara masalahnya material ini sensitif, kurang menarik secara visual dan perlu pengelolaan khusus. Penelitian ini bermaksud mengekplorasi potensi lain biokultur kombucha sebagai bahan bangunan terurai hayati dari sekedar minuman tradisional. Metode percobaan eksperimental melalui pengembangan metode primordial yakni fermentasi berskala rumah tangga: mengeksplorasi pertumbuhan jamur dengan media bervariasi dan menghasilkan material bangunan berupa lembaran. Penelitian ini menekankan pada variasi nutrisi berupa larutan bernutrisi dan produktivitas biokultur. Penelitian ini membuktikan bahwa untuk menghasilkan SCOBY (Symbiosis Culture of Bacteria and Yeast) yang berkualitas, faktor penentu secara berurutan adalah: starter, media (teh dan gula) dan kualitas ruangan. Pada uji coba hanya teh hijau dan teh hitam yang menghasilkan SCOBY memenuhi kriteria sampel. Pada uji coba ini hasil menunjukkan kualitas sampel setara kertas atau kulit sehingga berpotensi dikembangkan menjadi wallpaper, pembatas ruang, kulit sintetis dan kemasan makanan yang bersifat edible. 
KONSEP GEOMETRI SAMPEL JARINGAN KAMPUNG TANJUNG GEDONG MENGGUNAKAN METODE GENOMIK ARSITEKTUR Husin, Denny; Komala, Olga Nauli; Saryatmo, Mohammad Agung
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v8i1.23795

Abstract

Tanjung Gedong is one of the most developed urban kampung located in West Jakarta, existed formerly to support the nearby campuses and commercials activities. This kampung grows in the midst of educational area, its existence has proofed resiliency and great city’s supports, thus suitable as a stable sample for questioning kampung’s geometrical qualities. Less researches were interested to investigate kampung’s architectural concept. Kampung is often labeled as irregular, disorder or non-standard rather than respecting its potency. Dissecting kampung networks may present new facts regarding type’s domination and recession especially at the kampung gate as a prime transitional location. The research aims to target geometry as an architectural concept, a fundamental formula for kampung configuration. Typo-morphology is combined with etymology for revealing its geometrical concept with a focus only on the layout. QGIS is utilized as an instrument to extract building silhouette, simplified in the form of diagrams, while categorized by using tabulation. The outcome reveals a specific geometrical character based on arithmetic sequence: a particular order. Keywords: Architecture; Concept; Genomic; Geometry; Kampung Abstrak Tanjung Gedong adalah kampung kota di kawasan pendidikan Jakarta Barat dan telah berkembang bersama dengan kampus dan bangunan komersial di sekitarnya. Kampung ini tumbuh bersama-sama dengan kawasan, dan berkembang untuk mendukung fungsi pendidikan. Fenomena kehadirannya menunjukkan potensi resiliensi keruangan sehingga cocok menjadi sampel percontohan dan penelitian terkait perkembangan suatu jaringan kota. Lepas dari prasangka yang kerap melabeli kampung sebagai yang tidak teratur, kumuh dan tidak sehat; kampung Tanjung Gedong kerap menjadi pilihan utama warga kampus dan menjadi sentra informal untuk kawasan sekitar. Penelitian ini bertujuan mengangkat konsep geometri kampung yang menjadi formula pembentukan jaringan. Membedah geometri jaringan memunculkan potensi dan masalah dominasi dan resesi yang terjadi dalam rangkaian ruang kampung. Gerbang kampung adalah jaringan utama yang mengandung gen transisi arsitektur formal dan informal yang tepat diinvestigasi sebagai proyek pilot. Metode kualitatif interpretatif mengkombinasi tipo-morfologi dan etimologi untuk mengangkat abstraksi geometri pada peta jaringan menggunakan QGIS. Fokus penggambaran adalah denah yang dikonversi menjadi diagram untuk memunculkan siluet dialektika ruang berdasarkan citra satelit. Tabulasi mengkategorisasi dan menyeleksi tipe dan bentuk berdasarkan genomik arsitektur. Hasilnya mayoritas geometri kampung menunjukkan keberaturan dan simetri, berkebalikan dengan persepsi ketidakberaturan yang kerap menjadi stigma. Pengulangan bilangan prima dan genap banyak ditemukan pada dimensi, sudut maupun unit yang mendukung formalitas formula. Kebaruan penelitian merekomendasi deret spesifik kampung Tanjung Gedong.
Tabulasi genomik rangkaian massa Kampung Tambora Husin, Denny; Komala, Olga Nauli
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 9 No 1 (2024): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Januari 2024 ~ April 2024
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v9i1.2778

Abstract

Well known as one of the most crowded and problematic urban kampungs in ASEAN since 2020, Tambora has been struggle with health, fire, and social problems. Its density is related to the composition between solid and void especially on the boundary as they control the accessibility while influencing the overall gesture of the kampung. Unfortunately, the majority of research related to boundaries is more interested in delineation rather than 3D relationships. Further investigation is required to understand its series of volumetric composition, configuration, and orientation to comprehend its architecture as a continuation of its geometrical investigation. As boundaries are relatively considered more stable locations, they exhibit intensity, complexity, and hybridity between formal and informal. A diverse collection of houses at these particular locations displays specific language while providing correlation. Genomic tabulation is utilized to interpret the kampung massing series' spatial quality. The QGIS instrument converts lines into volumes, with steps are follows: 1) collection of data, 2) conversion of 2D into 3D, and 3) interpretation of the samples. By focusing on the massing series at the kampung boundaries, the typology and morphology are emerged, providing various gaps and potentials as alternative solutions for building the kampung network.
REPRESENTASI ELEMEN RUANG KOTA SEBAGAI PEMBENTUK URBAN INTERFACE DARI KEHADIRAN MAKANAN PADA MEDIA SOSIAL (INSTAGRAM) Komala, Olga Nauli; Husin, Denny
NALARs Vol. 24 No. 1 (2025): NALARs Vol 24 No 1 Januari 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.24.1.33-44

Abstract

Penggunaan hashtag merupakan salah satu cara untuk menelusuri keterlibatan pengguna sosial yang memiliki kesamaan, keterikatan, dan keterhubungan dengan hal – hal terkait makanan. Dalam penelitian ini, penekanan kehadiran makanan di media sosial ada pada urban interface atau ruang antara privat dan publik. Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk menelusuri elemen pembentuk urban interface dan pola kombinasi antara elemen yang paling dominan dalam merepresentasikan ruang kota dan makanan pada media sosial Instagram melalui hashtag pada konten. Penelitian ini mempertanyakan bagaimana dominasi dan representasi elemen urban interface terkait makanan dan ruang kota pada unggahan di Instagram melalui hashtag #jktfooddestination. Penelusuran terhadap elemen urban interface menekankan pada dominasi pola atau pengulangan dari elemen ruang kota dan makanan, baik melalui media teks (caption) maupun gambar atau video pada laman feed Instagram. Penelitian ini menerapkan metode penelitian campuran (mixed-methods) yang melingkupi tujuh tahapan proses analisis terhadap foto dan video antara lain data cleaning, data integration, data selection, data transformation, data mining, data evolution, dan knowledge representation. Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa setting tempat merupakan salah satu hal penting dalam menginformasikan kehadiran makanan. Di sisi lain, temuan penelitian ini juga mengungkapkan bahwa semakin kuat hubungan visual dan fisik antara ruang privat dan publik maka semakin beragam pula pola kombinasi elemen urban interface, serta sebaliknya. Temuan ini dapat menjadi arahan bagi pengembangan kawasan terkait dengan makanan yang dapat menarik pengunjung dan berkontribusi dalam penciptaan ruang kota yang aktif.Using hashtags is one way to trace the involvement of social users who have similarities, attachments, and connections to food-related matters. This study emphasizes the presence of food on social media in the urban interface or the space between private and public. This study aims to explore the elements that form urban interfaces and the combination patterns between the most dominant elements in representing urban space and food on Instagram social media through hashtags in the content. This study questions how the dominance and representation of urban interface elements related to food and urban space in Instagram uploads through hashtags #jktfooddestination. Searching for urban interface elements emphasizes the supremacy of patterns or repetition of urban space elements and food through text media (captions) or images or videos on the Instagram feed page. This study applies a mixed-methods method that covers seven stages of the analysis process on photos and videos, including data cleaning, data integration, data selection, data transformation, data mining, data evolution, and knowledge representation. This study's findings indicate that the place's setting is one of the essential things in informing the presence of food. On the other hand, the findings of this study also reveal that the stronger the visual and physical relationship between private and public spaces, the more diverse the combination pattern of urban interface elements, and vice versa. These findings can serve as a direction for the development of food-related areas that can attract visitors and contribute to the creation of active urban spaces.
Algorithm as a Pattern of Kampung : Case Study: Cilincing Fisherman Village husin, Denny; Komala, Olga Nauli
Border: Jurnal Arsitektur Vol. 6 No. 2 (2024): NOVEMBER 2024
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Architecture and Design, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/border.v6i2.1088

Abstract

Fisherman Village is one of the Jakarta informalities that has been growing with the city since its former role as a port city. This phenomenon not only contributes to the city’s economic value but also to its overall dynamic sectors. Its existence confirms the important role of its built environment; the research objective is to reveal the kampung pattern for preserving and developing this kampung. Unlike other urban grains, this kampung consists of naval and maritime qualities, despite general critique towards environmental and spatial conditions. The morphology is utilized to detect its architectural form; thus, its algorithm can be extracted through QGIS, steps are: 1) mapping, 2) massing, and 3) algorithm. QGIS converts mapping into a massing series, unraveling the geometry of the kampung house silhouette as an algorithm pattern. The outcome is Kampung’s algorithm pattern. The discovery involves nautical and maritime influences, while the originality is the Kampung Cilincing order formula. This research promotes a specific housing unit and type as a local potency to stimulate the development of Kampung’s module guideline. The dominant type can be used for typical replication while questioning the recessive type to stimulate innovation as a guide.
A comparative structural module study of Balla Lompoa and Ba’anjung Lianto, Fermanto; Husin, Denny; Trisno, Rudy
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 9 No 3 (2024): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | September 2024 ~ Desember 2024
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v9i3.3598

Abstract

The phenomena of modernization have questioned the world of architecture due to the occurrence of generic design. One of the adaptive solutions to internationalization and standardization without losing architectural roots is to develop architecture by using vernacular modules. This alternative may be suitable to address the stagnancy issue which is still a common problem in developing architecture beyond tradition, including cases like Balla Lompoa and Ba’anjung. The research aims to present a creative fabric by comparing both modules while understanding their pattern and possible connections. Typology is used as a method to raise the pattern, using the grid as the instrument for the case study. The steps are 1) Architectural redrawing, 2) Module extraction, and 3) Algorithm pattern. The output is an architectural algorithm as the patterns. The finding is the similarities and differences in their structural modules. The research novelty is a module guideline for modernizing Balla Lompoa and Ba’anjung, stimulating the development of a hybrid between the two.
KONSEP ARSITEKTUR TERAPEUTIK UNTUK DESAIN RUANG KONSELING BAGI PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN SEKSUAL DI JAKARTA Christanto, Verin Novella; Husin, Denny
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27494

Abstract

High rates of sexual violence in Jakarta cause severe psychological trauma, including post-traumatic stress disorder, anxiety, depression, behavior changes, and insecurity. The issue lies in the insufficient number of hospitals with Integrated Service Centers (PPT) for sexual violence victims, leading to a shortage of counseling and therapy rooms. This research, utilizing qualitative methods such as interviews and literature studies, seeks to address the problem by exploring a spatial concept to overcome trauma. Results indicate that the physical environment, particularly room conditions, significantly impacts victims' physical and psychological health. Introducing therapeutic architecture to counseling and therapy rooms is proposed to support the healing process by reducing stress and creating a comfortable treatment atmosphere. The research findings highlight that implementing appropriate design strategies in these rooms can effectively address the trauma of sexual violence victims, contributing significantly to understanding the link between the physical environment and mental health. Additionally, it introduces a new therapeutic direction for helping victims overcome the profound psychological impact of such traumatic experiences. Keywords: architecture; counseling; sexual;  therapeutic; violence Abstrak Fenomena tingginya angka kekerasan seksual di Jakarta memberikan dampak serius terhadap trauma psikologis, termasuk gangguan stres pasca-trauma, kecemasan, depresi, perubahan perilaku, dan perasaan tidak aman. Isu yang muncul adalah ketidakselarasan jumlah rumah sakit yang menyediakan Pusat Pelayanan Terpadu (PPT), khususnya untuk korban kekerasan seksual di Jakarta. Adapun masalah yang ditemukan adalah bahwa ruang konseling maupun terapi untuk korban kekerasan seksual yang sudah ada belum cukup mewadahi korban. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan konsep dalam mengatasi trauma akibat kekerasan seksual melalui ruangan menggunakan metode kualitatif melalui studi kasus wawancara dan studi literatur untuk mengeksplorasi permasalahan ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan sekitar, terutama kondisi ruangan, memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesehatan fisik dan psikis korban. Untuk mengatasi permasalahan ini, penerapan konsep arsitektur terapeutik pada ruang konseling dan terapi untuk korban kekerasan seksual dapat mendukung proses penyembuhan. Konsep ini bertujuan untuk mengurangi tingkat stres dan menciptakan suasana yang nyaman selama perawatan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan strategi desain yang tepat pada ruang konseling dan terapi dapat menjadi solusi efektif untuk mengatasi trauma korban kekerasan seksual. Temuan ini tidak hanya memberikan kontribusi signifikan pada pemahaman tentang korelasi antara lingkungan fisik dan kesehatan mental, namun juga arah baru dalam pendekatan terapeutik untuk membantu korban mengatasi dampak psikologis yang mendalam dari pengalaman traumatis tersebut.
PENGALAMAN MULTISENSORI TEMAN TULI DALAM PERANCANGAN EDUKASI-HIBURAN DI KEMBANGAN Collin, Stella Felicia; Husin, Denny
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27495

Abstract

There is still a spatial phenomenon that concerns Deaf Friends' accessibility and their availability of facilities, including jobs and education. This acts as a consequence of Jakarta's present space shortage for edutainment facilities that might encourage employment and education. Furthermore, a significant number of public spaces fail to accommodate the visual demand of Deaf Friends demand. By enhancing the Deaf Friends' sensory experience, this research attempts to establish a non-formal edutainment area with a forum for social interaction between Deaf Friends and hearing friends. For the purpose of investigating Deaf Friends as users, the author employed a qualitative method that involved reading literature reviews and analyzing prior research on deaf rooms and special schools in Jakarta, with conducted interviews and observations. Theoretically, Deaf Friends' senses affect the way they move and go about their everyday lives. To ensure that the experience of space is felt holistically, the steps involve considering all senses. This designated outcome includes an educational-entertainment for art talent interest, exhibition and amphitheater, community cafe, indoor and outdoor park for motor sensory, as well as hearing examination and therapy area. The inventions are in the form of an edutainment area that stimulates Deaf Friends' five sensory and an interaction space that allows hearing friends to feel what Deaf Friends feel in a room. The novelty of the three programs collaboration can bring good influence both to Deaf Friends and the Hearing Friends environment. Keywords: deaf; interaction; edutainment; sensory Abstrak Fenomena ruang akses teman tuli dalam fasilitas tuli masih kurang, termasuk dalam pendidikan dan pekerjaan. Hal tersebut dapat terjadi karena isu ruang yang berkaitan dengan ruang kreativitas yang dapat menunjang pendidikan dan pekerjaan di Jakarta yang masih jarang. Tidak hanya itu, banyak fasilitas umum belum memenuhi visualisasi yang dibutuhkan oleh teman tuli. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan mengangkat ruang edukasi-hiburan yang bersifat non-formal dengan wadah interaksi sosial antara teman tuli dan teman dengar, dengan memaksimalkan sensori teman tuli. Metode kualitatif digunakan dengan membaca kajian literatur dan membedah preseden yang sudah ada terkait ruang tuli dan sekolah luar biasa di Jakarta, serta didukung dengan wawancara dan observasi untuk mendalami teman tuli sebagai pengguna. Secara hipotesis indra teman tuli berpengaruh terhadap kesehariannya dalam beraktvitas, bergerak, dan berpindah, karena sensori dan perilaku merupakan sebuah kesinambungan. Langkah yang digunakan yaitu mempertimbangkan semua indra dalam pengalaman ruang agar dapat dirasakan secara holistik. Desain yang dihasilkan berupa area edukasi-hiburan untuk minat bakat kesenian, pameran dan amphitheater, kafe komunitas, area dalam dan luar untuk sensorik motorik, serta area pemeriksaan pendengaran dan terapi. Temuannya berupa desain pelatihan dan area sensorik motorik yang menstimuli kelima indra sensori teman tuli dan ruang interaksi agar teman dengar dapat merasakan yang dirasakan oleh teman tuli pada suatu ruangan. Kebaruan dari penyatuan ketiga program dapat membawa pengaruh baik bagi teman tuli dan lingkungan teman dengar.
KONSEP LANSIA AKTIF DALAM PERANCANGAN PANTI JOMPO DI KEMANG SELATAN Haryadi, Sesilia Revalina; Husin, Denny
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27496

Abstract

The phenomenon of the number of elderly facilities is still quite insufficient and not proportional to the number of elderly people. The issue of space in nursing homes also still does not meet safety and security standards for the elderly who experience physical limitations. This can cause the elderly to feel uncomfortable and can even experience accidents in living their daily lives. The purpose of this design is to design the needs of the elderly that are intensively met in the design of senior living based on active ageing strategies. Qualitative research methods are carried out by surveys and interviews with individual elderly people or elderly people living in institutions. The steps are carried out by finding data collection surveys and interviews, then determining the needs according to the results of the data that has been found by applying appropriate concepts to existing problems. The design results consist of residential services for independent elderly, non-self-occupancy, elderly care clinic, gardening area as the main program and intergenerational activities as supporting programs such as food court, cooking class, sewing, knitting, music club, book club, and movie club. The project findings are the merging of senior living with intergenerational programs. The novelty of combining the two programs can have a positive impact on both the elderly and the younger generation. Keywords: active; elderly; living; senior living Abstrak Fenomena jumlah fasilitas lansia yang masih cukup kurang dan tidak sebanding dengan jumlah lansia di Indonesia terbilang cukup penting. Isu ruang dalam panti jompo juga belum memenuhi standar keselamatan dan keamanan bagi lansia yang mengalami keterbatasan fisik. Hal tersebut dapat mengakibatkan lansia merasa kurang nyaman bahkan dapat mengalami kecelakaan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk mendesain kebutuhan lansia yang terpenuhi secara intensif dalam rancangan hunian lansia berbasis strategi active ageing. Metode penelitian kualitatif dilakukan dengan survei dan wawancara kepada lansia individu ataupun lansia yang tinggal di panti. Langkah penelitian dimulai dengan mencari data, lalu menentukan kebutuhan sesuai dengan hasil dari data yang sudah ditemukan dengan penerapan konsep yang sesuai untuk permasalahan yang ada. Hasil desain terdiri dari layanan hunian lansia mandiri, hunian non-mandiri, klinik perawatan lansia, area berkebun sebagai program utama dan aktivitas  antargenerasi sebagai program penunjang seperti pujasera, kelas memasak, menjahit, merajut, ruang musik, ruang baca, dan ruang menonton. Temuan proyek adalah penggabungan senior living dengan program antargenerasi. Kebaruan dari penggabungan kedua program dapat memberi dampak positif pada lansia maupun generasi muda.