PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) merupakan penyedia layanan logistik petikemas ekspor-impor yang memiliki peran strategis dalam konektivitas logistik wilayah barat dan timur Indonesia. Pada tahun 2024, TPS mengalami penurunan produktivitas BCH (Box/Crane/Hour) secara signifikan, dengan capaian terendah sebesar 23,27 BCH pada April, di bawah standar minimum 26 BCH. Kondisi ini mengindikasikan adanya gangguan dalam proses bongkar muat. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kesiapan alat Rubber Tyred Gantry (RTG), sumber daya manusia, dan truck round time (receiving) terhadap produktivitas bongkar muat menggunakan metode regresi linear berganda. Hasil analisis uji regresi linear berganda mengindikasi bahwa, model Regresi 2 (Y → X₁, X₃) merupakan model paling layak dan handal, dengan nilai R² sebesar 0,821. Artinya, 82,1% variasi produktivitas dapat dijelaskan oleh kesiapan alat dan truck round time. Model ini juga memiliki MAE terendah (1,1486) dan standar deviasi sebesar 1,022, menunjukkan tingkat akurasi prediksi yang tinggi. Selain itu, hasil analisis uji regresi linear berganda secara keseluruhan menghasilkan persamaan Y = 1,121 + 0,161X₁ + 0,103X₂ + 0,141X₃, yang menunjukkan bahwa ketiga variabel yang digunakan berkontribusi secara signifikan pada produktivitas bongkar muat. Dari ketiga variabel, kesiapan alat RTG menjadi faktor paling dominan, dengan nilai signifikansi 0,000 pada Model Regresi 2 dan 0,024 pada model keseluruhan.hal ini menunjukkan pentingnya efektivitas alat dalam menunjang kelancaran operasional TPS.