p-Index From 2021 - 2026
1.877
P-Index
This Author published in this journals
All Journal CJPP
. Satiningsih
Universitas Negeri Surabaya

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

HUBUNGAN PSYCHOLOGICAL CAPITAL DENGAN KINERJA PADA KARYAWAN DI PERUSAHAAN X Alvira Diamond Triccia; . Satiningsih
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 04 (2020): Character: Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v7i04.36342

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara psychological capital dengan kinerja karyawan pada perusahaan X. Penelitian ini melibatkan 70 karyawan kontrak dengan jumlah perempuan sebanyak 8 orang (11,4%) dan laki-laki sebanyak 62 orang (88,6%). Karyawan perusahaan berusia 27 hingga 45 tahun. Rata-rata karyawan berusia 35 tahun. Karyawan berasal dari berbagai divisi yaitu operasional, teknik, logistik dan peralatan, keuangan, dan sales. Karyawan dengan status karyawan tetap sebanyak 30 orang dan karyawan kontrak sebanyak 70 orang. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data berupa kuisioner. Data penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan dua instrumen, yaitu skala kinerja karyawan yang disusun berdasarkan teori Bernardin (2003) dan skala psychological capital yang diadaptasi dari Luthans, Yousef, dan Avolio (2007). Data dianalisis menggunakan uji pearson product moment dengan bantuan SPSS 25 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara psychological capital dengan kinerja karyawan pada perusahaan X. Psychological capital karyawan yang tinggi dapat meningkatkan kinerja pada karyawan. Hal tersebut karena efikasi, harapan, optimisme dan resiliensi seseorang dapat mendorong kinerja menjadi lebih baik dan meningkatkan kepuasan kerja. Kata Kunci: Psychological Capital, Kinerja, Karyawan Abstract This study aims to determine the relationship between psychological capital with employee performance in X company. This study involved 70 contract employees with a total of 8 women (11.4%) and 62 men (88.6%). Company employees aged 27 to 45 years. The average employee is 35 years old. Employees come from various divisions, namely operational, engineering, logistics and equipment, finance, and sales. There are 30 permanent employees and 70 contract employees. This research method uses quantitative methods with data collection techniques in the form of questionnaires. The data of this study were collected using two instruments, namely employee performance scale compiled based on the theory of Bernardin (2003) and psychological capital scale adapted from Luthans, Yousef, and Avolio (2007). Data were analyzed using the pearson product moment test with the help of SPSS 25 for windows. The results showed that there was a positive and significant relationship between psychological capital and employee performance in X company. High employee psychological capital can improve employee performance. This is because efficacy, hope, optimism and resilience of a person can encourage better performance and increase job satisfaction. Keyword: Psychological Capital, Performance, Employees
SELF ACCEPTANCE PADA REMAJA DENGAN DISLEKSIA Nazla Alkatiri; . Satiningsih
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 1 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v8i1.38526

Abstract

Abstrak Disleksia adalah gangguan berbahasa yang berpengaruh dalam hal membaca, menulis, berbicara dan mendengarkan. Ini adalah disfungsi atau gangguan dalam penggunaan kata-kata. Disleksia merupakan salah satu gangguan perkembangan fungsi otak yang terjadi sepanjang rentang hidup berdasarkan penyebab internal pada individu tersebut. Pada penelitian ini, peneliti ingin meneliti bagaimana self acceptance pada remaja dengan disleksia. Penerimaan diri adalah keinginan untuk memandang diri seperti adanya, dan mengenali diri sebagaimana adanya. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan mengenai gambaran penerimaan diri pada remaja disleksia dan untuk memahami faktor-faktornya yang mempengaruhi penerimaan diri remaja disleksia tersebut. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif studi kasus, yaitu dengan mengolah data yang sifatnya deskriptif, seperti; transkip wawancara, catatan lapangan, gambar foto, dan lain-lain. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 2 orang. Subjek 1 dalam penelitian ini berinisial R yang berusia 18 tahun, subjek 2 berinisial M yang berusia 18 tahun dengan masing-masing 2 significant others. Hasil dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa anak dengan disleksia dapat memiliki penerimaan diri yang baik karena adanya faktor-faktor yang menunjang penerimaan diri seseorang, yaitu; adanya pemahaman tentang diri sendiri, adanya harapan yang realistik, tidak adanya hambatan didalam lingkungan, sikap-sikap anggota masyarakat yang menyenangkan, tidak adanya gangguan emosional yang berat, pengaruh keberhasilan yang dialami, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, identifikasi dengan orang yang memiliki penyesuaian diri yang baik, adanya perspektif diri yang luas, pola asuh dimasa kecil yang baik, konsep diri yang stabil. Kata Kunci: disleksia, self acceptance Abstract Dyslexia is a language disorder which influences reading, writing, speaking and listening. This is a dysfunction or disruption in the use of words. Dyslexia is one of the developmental disorders of brain function that occurs throughout the life span based on internal causes in these individuals. . In this study, researchers wanted to examine how self-acceptance in adolescents with dyslexia. Self acceptance is the desire to see oneself as it really is, and recognize oneself as they really are. This study is to describe the picture of self acceptance in dyslexic adolescents and to understand the factors that influence the self-acceptance of dyslexic adolescents This study uses qualitative case study research, anamely by processing descriptive data, such as; interview transcripts, field notes, photographic images, video recordings, and others. The subjects in this study were 2 people. Subject 1 in this study had the initial R aged 18 years, subject 2 had the initial M aged 18 years with 2 significant others each. The results in this study reveal that children with dyslexia can have good self acceptance because of the factors that support self acceptance, that are; have self understanding, realistic expectations, no obstacles in the environment, pleasant attitude of community members, the absence of severe emotional disturbances, the effect of success experienced, both qualitatively and quantitatively, identification with people who are well adjusted, have a perspective broad self, good parenting in childhood, stable self-concept. Keywords: dyslexia, self acceptance
DAMPAK PSIKOLOGIS PADA PEREMPUAN YANG PERNAH MENGALAMI KEKERASAN DALAM PACARAN (DATING VIOLENCE): STUDI KASUS DI KALIMANTAN TIMUR Nur Hidayah Astriani; . Satiningsih
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 7 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v8i7.41894

Abstract

Abstrak Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui dampak psikologis yang terjadi pada perempuan dengan pengalaman kekerasan dalam pacaran dan bagaimana partisipan mengatasi dampak tersebut. Prevalensi di Indonesia menyebutkan bahwa persentase kekerasan lebih banyak terjadi kepada perempuan yang dilakukan oleh orang terdekat atau pasangan yang belum menikah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek pada penelitian ini merupakan dua orang perempuan dengan kriteria yang sesuai dan dibutuhkan peneliti dengan masing-masing partisipan memiliki dua significant other. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan menggunakan pedoman wawancara dan menggunakan teknik analisis pengkodean terhadap data yang sudah diperoleh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa memiliki pengalaman yang sama mengenai kekerasan dalam pacaran bukan berarti memunculkan dampak psikologis yang sama pula. Berdasarkan hasil dari penelitian, dampak psikologis yang muncul juga dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya yaitu rendahnya usia, interval kasus berlangsung, perilaku mendukung kekerasan, dan rentannya dikontrol dan dipaksa melakukan sesuatu. Dampak psikologis yang muncul pada kedua partisipan antara lain, terganggunya aktivitas harian, tertekan, kecemasan, kepercayaan dan harga diri rendah, dan konsep diri negatif. Kata Kunci: Dampak psikologis, kekerasan dalam pacaran, perempuan Abstract This study aims to determine the psychological impact that occurs on women with experiences of dating violence and how participants cope with these impacts. The prevalence in Indonesia states that the percentage of violence is more prevalent against women perpetrated by close people or unmarried couples. This study uses a qualitative method with a case study approach. The subjects in this study were two women with the appropriate criteria and needed by researchers with each participant having two significant others. Data were collected through semi-structured interviews using interview guidelines and using coding analysis techniques on the data that had been obtained. The results of this study indicate that having the same experience of dating violence does not mean that it has the same psychological impact. Based on the results of the study, the psychological impact that appears is also influenced by several factors, one of which is low age, the interval of cases taking place, behavior that supports violence, and the vulnerability to being controlled and forced to do something. Psychological impacts that appear on the two participants include disruption of daily activities, depression, anxiety, low self-esteem and confidence, and negative self-concept. Keywords: Psychological impact, dating violence, women
PENERIMAAN IBU YANG MEMILIKI ANAK DOWN SYNDROME Agung Ruli Vebrianto; . Satiningsih
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 7 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v8i7.42057

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerimaan pada orang tua yang memiliki anak down syndrome. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subjek penelitian berjumlah 5 orang berdasarkan teknik purposive sampling. Proses pengambilan data menggunakan teknik wawancara semi terstruktur. Data yang telah diperoleh diolah menggunakan teknik analisis data Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerimaan orang tua yang memiliki anak dengan down syndrome terutama bagi ibu dapat digambarkan melalui proses pengalaman penerimaan, penerimaan sosial, proses kelanjutan setelah menerima dan penolakan. Proses pengalaman penerimaan ditunjukkan melalui perasaan terkejut, kecewa, sedih, shock dan tidak percaya orang tua atas kondisi yang menimpa buah hatinya. Perasaan sedih ditunjukkan oleh orang tua terlebih seorang ibu dengan anak down syndrome yang selalu khawatir akan masa depan sang anak. Penerimaan sosial orang tua mendapat pengaruh terbesar dari lingkungan sosial seperti keluarga dan tetangga sehingga mampu memberikan kekuatan dan energi positif untuk merawat buah hatinya. Penerimaan orang tua terhadap anak dengan down syndrome juga dimunculkan dalam bentuk penolakan berupa mengabaikan anak pada saat-saat tertentu. Kata Kunci : Penerimaan, Orang Tua, Anak down syndrome Abstract This study aims to determine the acceptance of parents who have children with down syndrome. This study uses a qualitative method with a phenomenological approach. The research subjects were 5 people based on purposive sampling technique. The data collection process used a semi-structured interview technique. The data that has been obtained is processed using data analysis techniques Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The results showed that the acceptance of parents who have children with Down syndrome especially for mothers can be described through the process of acceptance, social acceptance, continuation after acceptance and rejection. The process of acceptance is shown through feelings of surprise, disappointment, sadness, shock and distrust of parents over the conditions that befell their children. Feelings of sadness are shown by parents, especially a mother with a child with Down syndrome who is always worried about her child's future. Social acceptance of parents gets the greatest influence from the social environment such as family and neighbors so that they are able to provide strength and positive energy to take care of their children. Parental acceptance of children with Down syndrome is also raised in the form of rejection in the form ofignoring the child at certain times Key Word : Acceptance, panrental, Down syndrome children
Hubungan antara Emotional Intelligence dan Grit Pada Siswa SMA Olahraga Jatim Ridha Cahya Utanto; . Satiningsih
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 1 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v9i1.45847

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara emotional intelligence dan grit pada siswa SMA Olahraga Jatim. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional. Partisipan penelitian ini yaitu 147 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan skala emotional intelligence dari Goleman (1995/2016) dan skala grit dari Duckworth (2016). Teknik analisis data menggunakan korelasi product moment dengan software SPSS 25.0. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara emotional intelligence dan grit pada siswa SMA Olahraga Jatim. Koefisian korelasi sebesar 0,676 menunjukkan hubungan yang positif dan signifikan, semakin tinggi emotional intelligence siswa, maka grit-nya juga semakin tinggi. Kata Kunci: Emotional intelligence, grit, siswa. Abstract This study aims to determine the relationship between emotional intelligence and grit in East Java Sports High School students. The method used is correlational quantitative. The participants of this study were 147 students. Data collection techniques used the emotional intelligence scale from Goleman (1995/2016) and the grit scale from Duckworth (2016). The data analysis technique uses product moment correlation with SPSS 25.0 software. This study shows that there is a relationship between emotional intelligence and grit in East Java Sports High School students. The correlation coefficient of 0.676 indicates a positive and significant relationship, the higher a student's emotional intelligence, the higher their grit. Keywords: Emotional intelligence, grit, students.
Kesejahteraan Psikologis Ibu Tunggal Pasca Suami Meninggal Dunia (Studi Fenomenologi di Bali) Sayidatul Qisti Adillah; . Satiningsih
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 1 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v9i1.45848

Abstract

Abstrak Kehilangan pasangan akibat kematian akan membuat individu berada dalam fase kedukaan. Bagi perempuan yang memiliki anak dan suami meninggal dunia akan mengemban status sebagai ibu tunggal. Keragaman budaya dan adat di Bali mengakibatkan terdapat istilah bagi ibu tunggal yang berpisah dengan suami karena meninggal dunia yaitu perempuan balu. Menjadi perempuan balu bukanlah hal yang mudah terlebih di Bali menjunjung tinggi sistem patriakal. Ibu tunggal yang memilih untuk tidak menikah lagi dan tinggal bersama keluarga suami tentunya akan mengalami berbagai tantangan dan persoalan hidup. Hal ini sejalan dengan diharuskannya ibu tunggal di bali menjalankan awig-awig (aturan adat). Perubahan peran dan banyaknya aturan yang mengatur kehidupan ibu tunggal di Bali semasa melewati fase kedukaan akan memengaruhi kesejahteraan psikologis serta kualitas kehidupan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran kesejahteraan psikologis yang dimiliki oleh ibu tunggal di Bali. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan fenomenologi. Subjek dari penelitian ini adalah lima orang ibu tunggal di Bali yang tinggal dengan keluarga mendiang suami, serta bekerja sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga. Teknik analisis data menggunakan metode interpretative phenomenological analysis (IPA). Hasil dari penelitian ini menunjukkan permasalahan yang dialami kelima orang ibu tunggal di Bali meliputi, penambahan peran sosial, permasalahan ekonomi, stigma negatif masyarakat, perasaan duka yang dialami ibu tunggal seperti kehilangan dan kesedihan. Selain itu, faktor penting yang mendukung kesejahteraan psikologis ibu tunggal di Bali yaitu adanya dukungan sosial, penerimaan diri, dan harapan hidup untuk melanjutkan keberlangsungan hidup. Kata Kunci: Ibu Tunggal, Kesejahteraan Psikologis, Adat Bali. Abstract Losing a partner due to death will make the individual in a phase of grief. For women who have children and husbands who die, they will carry the status of single mothers. The diversity of culture and customs in Bali has resulted in a term for single mothers who separated from their husbands due to death, namely balu women. Being a balu woman is not easy, especially in Bali, which upholds the patriarchal system. Single mothers who choose not to remarry and live with their husbands' families will certainly experience various challenges and problems in life. This is in line with the requirement for single mothers in Bali to practice awig-awig (customary rules). Changes in roles and the many rules that govern the lives of single mothers in Bali during the grieving phase will affect psychological well-being and quality of life. Therefore, this study aims to determine how the description of the psychological well-being of single mothers in Bali. This research is a qualitative research that uses a phenomenological approach. The subjects of this study were five single mothers in Bali who lived with the family of their late husband, and worked as the main breadwinner in the family. The data analysis technique used the interpretative phenomenological analysis (IPA) method. The results of this study indicate that the problems experienced by the five single mothers in Bali include the addition of social roles, economic problems, negative community stigma, feelings of grief experienced by single mothers such as loss and sadness. In addition, important factors that support the psychological well-being of single mothers in Bali are social support, self-acceptance, and life expectancy to continue living. Keywords: Single Mother, Psychological Well-Being, Balinese Culture.
HUBUNGAN ANTARA GREEN ATTITUDES DENGAN GREEN CONSUMER BEHAVIOUR DALAM PEMBELIAM PRODUK ECO-FREINDLY PADA MAHASISWA Cynara Nafisa Amanah; . Satiningsih
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 1 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v9i1.46595

Abstract

Abstrak Isu keberlanjutan dan kelestarian lingkungan saat ini menjadi hal penting dan mendesak untuk segera diatasi, salah satunya melalui kegiatan manusia sebagai konsumen yang mulai mengarah pada proses konsumsi yang ramah lingkungan menjadi latar belakang penelitian ini dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan green attitudes dengan perilaku pembelian produk eco-friendly pada mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Sample penelitian ini adalah mahasiswa yang pernah membeli atau mengonsumsi produk eco-friendly sejumlah 389 responden. Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan pearson product moment. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner dari skala green attitudes dan skala green consumer behaviour. Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara green attitudes dengan green consumer behaviour dalam pembelian produk eco-friendly pada mahasiswa. Mahasiswa yang memiliki sikap kesukaan dan kepedulian terhadap lingkungan yang tinggi juga memiliki perilaku konsumsi pada produk eco-friendly. Kata Kunci: green attitudes, green consumer behaviour, mahasiswa Abstract The issue of sustainability and environmental sustainability is now an important and urgent matter to be addressed immediately, one of which is through human activities as consumers who are starting to lead to an environmentally friendly consumption process which is the background of this research. The purpose of this study was to determine the relationship between green attitudes and the behavior of purchasing eco-friendly on students. This research is a quantitative research. The sample of this research is students who have bought or consumed eco-friendly a total of 389 respondents. Hypothesis testing in this study using Pearson's product moment. Data collection techniques in this study used a questionnaire from the green attitudes scale and green consumer behavior. The results of the hypothesis test show a significance value of 0.000 <0.05, which means that there is a significant relationship between green attitudes and green consumer behavior in purchasing products eco-friendly for students. Students who have a high liking and concern for the environment also have a consumption behavior for eco-friendly. Keywords: green attitudes, green consumer behaviour, students
DAMPAK SIBLING RIVALRY PADA REMAJA KEMBAR Yustika Dwi Rahayu; . Satiningsih
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 6 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi.
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v9i6.47432

Abstract

AbstrakKehidupan anak kembar merupakan hal yang menarik untuk diteliti, termasuk dalam hal sibling rivalry atau biasa disebut sebagai persaingan antar saudara. Terlebih apabila hal tersebut terjadi pada saudara yang kembar identik, dengan usia yang sama, jenis kelamin yang sama dan memiliki kemiripan pada wajah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dampak sibling rivalry terhadap perkembangan emosi remaja kembar identik. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara semi-terstruktur. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 10 orang atau 5 pasang remaja kembar dengan ketentuan seorang remaja kembar secara identik yang berusia 16 sampai 19 tahun. Teknik analisis data penelitian menggunakan IPA (Interpretative Phenomenological Analysis). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka diperoleh hasil bahwa bentuk sibling rivalry dapat dijelaskan melalui pola asuh orang tua, hubungan dengan saudara kembar, dan lingkungan sosial. Sibling rivalry sesekali muncul diantara anak kembar seperti pada saat ingin bersaing untuk menunjukkan siapa yang lebih unggul, namun hal tersebut tidak berlangsung lama. Dampak dari sibling rivalry yang mengarah pada perkembangan emosional yaitu secara positif dapat ditunjukkan dari rendahnya sibling rivalry seperti pada saudara kembar yang merasa bahwa perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh orang tua telah melimpah dan adil. Selain itu, perkembangan emosi positif juga dimunculkan melalui saling memahami antar saudara kembar.Kata Kunci: remaja kembar, sibling rivalry, perkembangan emosi.AbstractThe life of twins is an interesting thing to study, including the competition between siblings. Especially if it happens to an identical sibling, of the same age, the same gender and has a similarity to the face. This study aims to determine how the impact of sibling rivalry on the emotional development of identical twins adolescents. The approach used in this research is a qualitative approach with a phenomenological method. The data collection technique used is semi-structured interview. Participants in this study found 10 people or 5 pairs of teenage twins with the provision of identical twins aged 16 to 19 years. The research data analysis technique uses IPA (Interpretative Phenomenological Analysis). Based on the research that has been done, it is obtained that the form of sibling rivalry can be explained through parenting patterns, relationships with twins, and social environment. Sibling rivalry arose between the twins as when competing to show who was superior, but it didn't last long. The impact of sibling rivalry that leads to emotional development can be positively demonstrated by the low level of sibling rivalry as in twins who feel that the attention and affection given by parents is abundant and fair. In addition, the development of positive emotions is also raised through mutual understanding between twins.Keywords: twins, sibling rivalry, emotional development.
STUDI KASUS: KELELAHAN (BURNOUT) AKADEMIK PADA SISWA KELAS XII PASCA KEMATIAN ORANGTUA Paurin Chika Amanda; . Satiningsih
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 7 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v9i7.48136

Abstract

PENERIMAAN ORANGTUA DENGAN ANAK AUTIS Rahma Gita Syafitri; . Satiningsih
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 7 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v9i7.48137

Abstract