Ashar Mapule
Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Dari Tenda ke Teknologi: Telaah Hermeneutik Kisah Para Rasul 18:2-4 dalam Rancang Misi Era Society 5.0 Ardin Sitompul; Ashar Mapule
LAMPO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 2 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI STAR RIAU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63832/t8ww6293

Abstract

Penelitin ini memberikan dasar teologis bagi kolaborasi antara misi penginjilan dan teknologi serta mendorong gereja dan pelayan misi agar mampu merancang strategi pelayanan yang relevan dengan era Society 5.0. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika umum. Hasil penelitian menunjukan terdapat tiga aspek utama signifikansi dari analisis Kisah Para Rasul 18:2-4 bagi misi di era Society 5.0 yaitu: penguatan jaringan sosial dalam pelayanan, integrasi antara pekerjaan dan pelayanan, serta fleksibilitas dalam menjangkau berbagai audiens. Penelitian ini menunjukan bahwa Kisah Para Rasul 18:2–4 mengilustrasikan bagaimana aktivitas profesional Paulus sebagai pembuat tenda tidak hanya menjadi sarana pemeliharaan diri, tetapi juga medium strategis untuk membangun relasi dan memberitakan Injil. Dalam dunia yang semakin terhubung secara digital dan cepat berubah, menuntut gereja untuk lebih fleksibel dan kreatif dalam menjangkau jiwa-jiwa melalui berbagai saluran yang ada. Kesempatan untuk menggabungkan pekerjaan dan pelayanan, serta membangun hubungan yang kuat dalam jaringan sosial, membuka ruang bagi misi penginjilan di era Society 5.0 untuk berperan aktif dalam misi Tuhan di tengah masyarakat yang dinamis ini.
Pergaulan yang Bijak: Analisis Amsal 13:20 dan Aplikasinya terhadap Generasi Z Vinny Elvira Walintukan; Ashar Mapule
Jurnal Ilmiah Tafsir Alkitab Vol. 1 No. 2: JUITA (Jurnal Ilmiah Tafsir Alkitab) 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69668/juita.v1i2.14

Abstract

Social interaction is an unavoidable condition in social life. Scanning the social interactions of Generation Z in the current era, it is very free. Free social interaction means unlimited or uncontrolled interaction that can damage the morals of Generation Z. This research aims to discover Theological Principles in Proverbs 13:20 as advice for Generation Z in their daily interactions. This research method uses qualitative research methods with a literature study approach. The research results show that the theological principles in Proverbs 13:20 are: First, a wise person is one who processes with God. Second, a wise person is one who is consistent. Third, the role of community in social interaction. Fourth, choices and consequences. Fifth, the concept of foolishness. Proverbs 13:20 teaches the importance of choosing friends and social environments. Generation Z is expected to apply these principles of wisdom in their lives to achieve a meaningful life that aligns with God's will.
Apologi Kelahiran Yesus: Studi Kata “εὑρέθη” Dalam Matius 1:18 Ashar Mapule; Chenny Meilianty
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 4 No. 6 (2024): Juni
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v4i6.2209

Abstract

Berdasarkan catatan-catatan yang tertulis dalam Alkitab, kelahiran Yesus terjadi bukan melalui proses alamiah seperti biasa, melainkan merupakan suatu peristiwa supranatural yang melibatkan campur tangan langsung dari Roh Kudus. Alkitab menyebutkan bahwa Maria, ibu dari Yesus, mengandung anak tersebut bukan dari hasil hubungan suami-istri seperti kebanyakan manusia, melainkan karena kuasa Roh Kudus yang mengakibatkan ia mengandung seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Yesus. penelitian ini akan membahas proses kelahiran Yesus berdasarkan Injil Matius 1:18. Apakah dalam teks Matius 1:18 terdapat kata penting yang dapat menjelaskan bahwa Yesus bukan anak biologis dari Yusuf? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang melibatkan kajian pustaka sebagai sumber data utama. Hasil penelitian menunjukan bahwa bayi Yesus yang dikandung oleh Maria bukanlah hasil tindakannya sendiri tetapi oleh karena karya ilahi dari Roh Kudus dan tidak ada indikasi sedikitpun bahwa Maria telah melakukan hubungan seksual dengan Yusuf selama masa pertunangan.
Teologi Penderitaan: Makna dan Implikasi Frasa “Mengutuki Hari Kelahirannya” dalam Ayub 3:1 Suryandi Marino Pandie; Ashar Mapule
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 5 No. 1 (2025): Januari
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v5i1.2720

Abstract

Penderitaan memengaruhi respons iman seseorang secara beragam: ada yang menerimanya dan semakin beriman, namun ada pula yang kehilangan iman. Ayub, seorang tokoh Alkitab yang dikenal beriman, menghadapi penderitaan mendalam yang memunculkan pertanyaan teologis. Penelitian ini bertujuan merumuskan teori teologi penderitaan berdasarkan makna frasa "mengutuki hari kelahirannya" dalam Ayub 3:1. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan Ayub mengutuki hari kelahirannya bukanlah penolakan literal terhadap eksistensi atau penghujatan kepada Allah, melainkan ekspresi puitis yang tulus atas penderitaannya. Dalam perspektif teologis, Ayub mengajarkan bahwa pergumulan iman tidak bertentangan dengan pengakuan terhadap keagungan Allah. Ekspresi penderitaan yang jujur justru dapat menjadi bagian dari perjalanan spiritual seseorang. Kajian ini merumuskan tiga implikasi teologis utama: pertama, Allah mengakui kejujuran ekspresi manusia dalam penderitaan; kedua, terdapat perbedaan mendasar antara ratapan dan penghujatan; dan ketiga, kesadaran akan kedaulatan Allah menjadi fondasi iman dalam menghadapi penderitaan. Implikasi ini membentuk kerangka teologis yang komprehensif dan seimbang untuk memahami serta merespons penderitaan dalam perspektif iman.