jamaludin jamaludin
akperkrida

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PENGARUH TERAPI GUIDED IMAGERY DAN IRINGAN MUSIK TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA PASIEN DENGAN POST APENDIKTOMI HARI I DI RUANG CEMPAKA RSUD SUNAN KALIJAGA DEMAK jamaludin jamaludin; nur khikmatul ulya
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v4i2.37

Abstract

Ada dua tipe dasar intervensi keperawatan untuk penatalaksanaan nyeri yaitu pendekatan farmakologi dan pendekatan nonfarmakologi. Pendekatan farmakologi merupakan pendekatan kolaborasi antara perawat dan dokter yang menekankan pada pemberian obat yang mampu menghilangkan sensasi nyeri9. Sedangkan pendekatan nonfarmakologi merupakan pendekatan untuk menghilangkan nyeri dengan menggunakan teknik manajemen nyeri yang meliputi: stimulasi dan masase kutaneus, kompres hangat dan dingin, stimulasi saraf elektris transkutan (TENS), distraksi, imajinasi terbimbing (guided imagery), hipnosis dan teknik relaksasi; seperti tarik nafas dalam. Salah satu penatalaksanaan nonfarmakologis yang dapat dilakukan adalah guided imagery. Guided imagery (imajinasi terbimbing) merupakan penciptaan khayalan pasien dengan tuntunan dari pemberi pelayanan keperawatan untuk mendorong pasien mevisualisasikan atau memikirkan pemandangan atau situasi yang disenangi pasien. Iringan musik juga dapat digunakan untuk menjadi faktor penunjang dalam penatalaksanaan guided imagery. Penelitian ini merupakan laporan kasus yang bertujuan untuk mengetahui hasil penurunan nyeri pada pasien post apendiktomi hari ke-1 di Ruang Cempaka RSUD Sunan Kalijaga Demak dengan menggunakan terapi guided imagery dan iringan musik. Rancangan penelitian yang digunakan adalah single case study non-exeprimental. Penelitian dengan studi kasus tunggal (case study) lazim untuk menguji efektifitas sebuah terapi. Laporan kasus ini dilakukan dengan wawancara, observasi dan implementasi pada pasien selama 4 hari di Ruang Cempaka dengan partisipan sebanyak 4 pasien post apendiktomi. Hasil manajemen nyeri dengan menggunakan terapi guided imagery dan iringan musik pada pasien post appendiktomi menunjukkan adanya penurunan nyeri yang semula dari skala nyeri berat pada pengelolaan hari pertama menjadi skala nyeri ringan pada pengelolaan hari keempat dengan ekspresi wajah pasien terlihat rileks. Hasil Pemberian terapi guided imagery  terbukti berpengaruh terhadap penurunan nyeri pada pasien post apendiktomi.Kata kunci: post apendiktomi, nyeri, terapi guided imagery dan iringan musik.
PERAWATAN LUKA MODERN DENGAN MENGGUNAKAN TOPIKAL HYDROGELL DAN METCOVAZIN PADA NY.S DENGAN POST EKSISI HARI KE-17 ULKUS DIABETIKUM di DESA BALONG KECAMATAN KEMBANG KABUPATEN JEPARA jamaludin jamaludin; W D rositasari
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v4i1.32

Abstract

Penulisan ini merupakan Studi Penelaah Kasus (Case Study) yang bertujuan untuk mengetahui efektifitas dan keberhasilan dressing hydrogell dan metcovazin sebagai primary dressing pada Ny.S dengan ulkus diabetikum di Desa Balong Kecamatan Kembang Kabupaten Jepara.  Studi ini dilakukan dengan observasi dan implementasi perawatan luka yang dilakukan selama 15 hari di rumah Ny.S. Hasil perawatan luka kaki diabetik pada Ny.S menggunakan topikal hydrogell dan metcovazin mengalami perkembangan luka yang signifikan, dengan perubahan ukuran luka pada tiga lokasi yang mulai mengecil, produksi eksudat berkurang, luka menjadi tidak berbau, kulit sekitar luka tampak kalus menipis, dan tidak kering atau keras. Tepi luka menyatu dan munculnya granulasi yang diikuti dengan proses epitelisasi pada tepi luka. Karena topikal hydrogell dan metcovazin memiliki kandungan yang mampu mempertahankan kondisi luka tetap lembab sehingga mempercepat proses penyembuhan luka. Keduanya dapat membantu proses peluruhan jaringan nekrotik oleh tubuh sendiri atau disebut dengan autolysis debridement yang menggunakan proteolytic enzymes dari sel darah putih, fibrinolitik dan enzim collagenolytic untuk melembutkan dan memecahkan jaringan nekrotik secara selektif dengan membutuhkan lingkungan luka yang lembab.  Dengan lisis atau hancurnya jaringan nekrotik pada luka akan mempercepat proses proliferasi yaitu timbulnya granulasi atau tumbuhnya jaringan baru pada luka dan mempercepat proses epitelisasi atau penutupan luka yang sempurna.
HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK PERAWAT PELAKSANA DAN MOTIVASI PERAWAT DALAM MENERAPKAN KOMUNIKASI THERAPEUTIK PADA FASE KERJA DI RUMAH SAKIT ISLAM SUNAN KUDUS jamaludin jamaludin; Icca narayani Pramudaningsih
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v3i2.23

Abstract

Berdasarkan analisa penelitian hubungan antara karakteristik perawat pelaksana dengan motivasi perawat dalam menerapkan komunikasi terapeutik pada fase kerja diRumah Sakit Islam Sunan Kudus. Pada penelitian ini pengambilan sample dilakukan dengan tekhnik simple random sampling, yaitu setiap anggota populasi mempunyai mempunyai peluang yang sama untuk menjadi anggota sampel dengan cara undian, besarnyasampel didapatkan 47 orang sampel.Jenis penelitian ini adalah korelasional dengan menggunakan pendekatan cross-sectional, yaitu penelitian yang menekankan pada waktu pengukuran data variable bebas dan variabel terikat dalam waktu bersamaan. Sedangkan desain penelitiannya adalah explanatory research design, dimana peneliti mencari penjelasan mengenai adanya hubungan antara karakteristik perawat dengan motivasi menerapkan komunikasi terapeutik pada fase kerja dengan menguji hipotesa yang telah dibuat Hasil penelitian menunjukan bahwa karaktersitik perawat mempunyai hubungan yang signifikan dengan motivasi perawat dalam menerapkan komunikasi terapeutik pada fase kerja, yaitu pada dimensi pendidikan dengan signifikansi 0.000, pada dimensi pelatihan dengan signifikansi 0.000, pada dimensi umur dengan signifikansi 0.021, pada dimensi lama kerja dengan signifikansi 0.034. namun ada satu variable yang secara statistik tidak ada hubungan yang bermakna yaitu pada dimensi jenis kelamin dengan signifikansi 0.135.
PENGARUH DUKUNGAN KELUARGA DAN DUKUNGAN PETUGAS KESEHATAN TERHADAP KEPATUHAN BEROBAT PADA PENDERITA LANSIA DENGAN HIPERTENSI DI PUSKESMAS GRIBIG KUDUS jamaludin jamaludin
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v5i1.51

Abstract

Abstrak Penyakit hipertensi sering disebut sebagai the silent disease atau pembunuh diam-diam, karena pada umumnya penderita tidak mengetahui dirinya mengidap hipertensi sebelum memeriksakan tekanan darahnya. Kepatuhan menjalani pengobatan sangat diperlukan untuk mengetahui tekanan darah serta mencegah terjadinya komplikasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh dukungan keluarga dan dukungan petugas kesehatan terhadap kepatuhan berobat hipertensi pada lansia di Puskesmas Gribig kudus.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan Explanatory Research. Teknik pengambilan data melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner. Pengambilan data dilakukan pada 123 lansia dengan hipertensi yang berobat dipuskesmas Gribig kabupaten Kudus. Analisis data menggunakan analisis univariat dengan distribusi frekuensi, bivariat menggunakan Chi-Square dan multivariat menggunakan regresi logistic Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kepatuhan berobat pada penderita hipertensi lansia yaitu pendidikan, pengetahuan,sikap,efek samping obat, ketersediaan dana, ketersediaan transportasi, dukungan keluarga serta dukungan petugas kesehatan.Dua variabel yang berpengaruh terhadap kepatuhan pengobatan hipertensi pada lansia yaituvariabel dukungan keluarga ( nilai p = 0,004), variabel dukungan petugas kesehatan ( nilai p = 0,007)   . Disarankan agar masyarakat harus aktif mengikuti penyuluhan/sosialisasi yang berkaitan dengan hipertensi untuk menambah pengetahuan terutama bagi lansia. Sebaiknya petugas kesehatan memberikan penyuluhan lebih intensif kepada masyarakat tentang hipertensi terutama mengenai gejala dan penyebab hipertensi serta pentingnya melakukan kontrol tekanan darah dan berobat secara rutin untuk menghindari komplikasi. Kata kunci: Dukungan Keluarga, Dukungan petugas kesehatan,kepatuhan berobat ABSTRACT Hypertensive disease is often referred to as the silent disease or silent killer, because in general the patient does not know himself suffering from hypertension before checking his blood pressure. Adherence to treatment is necessary to determine blood pressure and prevent complications. This study aims to determine the effect of family support and support of health workers on compliance to treatment of hypertension in the elderly in Puskesmas Gribig kudus.Penelitian is a quantitative study with Explanatory Research approach. Technique of collecting data through interview by using questioner. The data were collected at 123 elderly with hypertension medication at Gribig district of Kudus. Data were analyzed using univariate analysis with frequency distribution, bivariate using Chi-Square and multivariate using logistic regression. The results showed that the variables related to adherence treatment in elderly hypertensive patients were education, knowledge, attitude, drug side effect, availability of fund, transportation availability, family support and support of health workers. Two variables that influence the compliance of hypertension treatment in elderly are family support variable (p value = 0,004), health officer support variable (p value = 0,007). It is suggested that the community should actively follow the counseling / socialization related to hypertension to increase knowledge especially for the elderly. Health workers should provide more intensive counseling to the community about hypertension, especially about the symptoms and causes of hypertension and the importance of blood pressure control and treatment routinely to avoid complications. Keywords: Family Support, Health officer support, treatment compliance
PEMBERIAN MENGKUDU DALAM MENURUNKAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI DUKUH SUSUKAN DESA SAMIREJO KECAMATAN DAWE KABUPATEN KUDUS jamaludin jamaludin; F Irsyadani
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v2i2.13

Abstract

Berdasarkan pengelolaan yang dilakukan pada pasien Tn. A , penulis menyimpulkan bahwa buah mengkudu sangat efektif dalam menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi yang pada pada awalnya 170/100 mmHg setelah 3 hari meminum jus buah mengkudu tekanan darah turun menjadi 150/100 mmHg. Dimana di dalam buah mengkudu terdapat kandungan scopoletin yang berfungsi untuk memperlebar saluran pembuluh darah yang menyempit dan memperlancar aliran darah. Mengkudu juga mengandung zat aktif lain yaitu xeronine yang berfungsi sebagai diuretik atau meningkatkan produksi air kencing. Sehingga mengkudu sangat efektif dalam menurunkan tekanan darah. Selain itu diit rendah garam dan tinggi serat juga sebagai faktor pendukung dalam pengontrolan tekanan darah sehingga pada pasien hipertensi harus tetap memperhatikan kebiasaan pola hidup sehari hari.