Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Protein Intake, Dietary Diversity, and Length-for-Age Nutritional Status Among Children Aged 6-23 Months: A Comprehensive Overview Study Laksmi Trisasmita; Alda Erica Lande Randabunga
Journal of Global Nutrition Vol 5 No 1 (2025)
Publisher : Ikatan Sarjana Gizi Indonesia (ISAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53823/jgn.v5i1.112

Abstract

Breastfeeding fulfills the nutritional needs of infants aged 0-6 months. However, after six months, the nutritional requirements increase, necessitating the introduction of complementary foods (CF) rich in diverse protein sources, including animal and plant proteins, to support child growth. This study aims to describe the intake of animal and plant proteins, dietary diversity, and nutritional status (length-for-age) among children aged 6-23 months in the Maros Baru Public Health Center area. A descriptive quantitative study with a cross-sectional design was conducted, involving 171 children aged 6-23 months selected using multistage simple random sampling. Nutrient intake was assessed through a 24-hour food recall questionnaire, and dietary diversity was evaluated using the Minimum Dietary Diversity for Children (MDDC) questionnaire. Results showed that 42.7% of children were stunted. The daily total protein intake of stunted children (15.80 g) was lower than that of non-stunted children (19.65 g). Daily animal protein intake was also lower in stunted children (11.10 g) compared to non-stunted children (17.15 g), while plant protein intake was higher in stunted children (2.30 g) than in non-stunted children (1.90 g). Dietary diversity levels were lower among stunted children than non-stunted children. In conclusion, daily total protein and animal protein intakes from CF among stunted children were lower, and their dietary diversity was less compared to non-stunted children. Nutrition programs are recommended to promote protein-rich, diverse, and appropriately portioned CF for stunted children to support their growth and development.
DETEKSI DINI STUNTING MELALUI SKRINING TINGGI BADAN MENURUT UMUR (TB/U) DAN EDUKASI PENCEGAHAN STUNTING PADA BALITA BERISIKO Laksmi Trisasmita; Musdalifah Amin; Rouzatun Nisa; La Ode Ahmad Mardin; Sahwin Permadi Yahya; La Ode Abdul Malik Maulana
Jurnal Gembira: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4 No 03 (2026): JUNI 2026
Publisher : Media Inovasi Pendidikan dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang dapat menghambat pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan produktivitas anak di masa depan. Upaya pencegahan stunting memerlukan deteksi dini kondisi pertumbuhan anak serta peningkatan pengetahuan orang tua mengenai faktor risiko dan pencegahannya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mendeteksi dini stunting melalui skrining tinggi badan menurut umur (TB/U) dan meningkatkan pengetahuan ibu melalui edukasi pencegahan stunting pada balita berisiko di Kota Makassar. Kegiatan dilaksanakan melalui pengukuran antropometri, wawancara karakteristik dan riwayat kesehatan, edukasi kelompok, serta konsultasi individual. Sebanyak 17 balita beserta ibunya berpartisipasi dalam kegiatan ini. Hasil skrining menunjukkan bahwa 52,94% balita memiliki status pertumbuhan normal, sedangkan 23,53% tergolong stunting dan 23,53% tergolong stunting berat berdasarkan indeks TB/U. Sebagian besar balita memiliki berat badan lahir ≥2500 gram (82,35%) dan memperoleh ASI eksklusif (58,82%). Edukasi dan konsultasi yang diberikan meningkatkan pemahaman ibu mengenai faktor risiko, dampak, dan strategi pencegahan stunting, yang ditunjukkan oleh peningkatan skor pengetahuan dari 62,4 ± 12,1 pada pre-test menjadi 84,7 ± 10,5 pada post-test. Kegiatan ini berhasil mengidentifikasi balita yang mengalami gangguan pertumbuhan linear serta meningkatkan pengetahuan ibu mengenai pencegahan stunting. Integrasi skrining TB/U, edukasi, dan konsultasi individual berpotensi menjadi strategi berbasis masyarakat yang efektif dalam mendukung upaya pencegahan stunting.