Dhoni Zustiyantoro
Universitas Negeri Semarang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Preserving a transforming tradition: Modifications in the Nyadran Tradition in Pacekulon Village, Pace District, Nganjuk Regency Inna Havidatus Saniyah; Dhoni Zustiyantoro
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.39395

Abstract

Nyadran remains a persistent tradition in Pacekulon Village, Pace Subdistrict, Nganjuk Regency, despite modifications made due to the Covid-19 pandemic in 2020. This study aims to identify the factors influencing the transformation of the traditional nyadran procession in Pacekulon Village post-Covid-19 and explain how these changes affected the community's life outlook. An ethnographic approach was used, which was conducted from February to July 2024. Data collection involved observations and structured interviews with 10 informants, including village heads, traditional stakeholders, and event participants. Data were analysed using an interactive model. The research identified pre-pandemic nyadran activities: 1) buffalo slaughter, 2) puppets, 3) teaching, 4) recitation, 5) bazaar, and 6) kirab and kroyokan tumpeng. Post-pandemic changes reduced these to: 1) recitation, 2) hike, and 3) kirab and kroyokan tumpeng. Factors affecting this transformation include the vacant village head position, health protocols, and economic conditions during the recovery period. The altered nyadran procession influenced the community's outlook, increasing awareness of unity, adapting priority scales, and strengthening beliefs in the tradition's impact on the social order. This research contributes to cultural anthropology and sociology by analysing the dynamics of the Nyadran procession changes within the Pacekulon community context. The findings can be applied to public policy development, community programs, and research on traditional preservation practices.   Tradisi nyadran tetap bertahan di Desa Pacekulon, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, meskipun mengalami perubahan akibat pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi transformasi prosesi tradisi nyadran di Desa Pacekulon pasca Covid-19 dan menjelaskan bagaimana perubahan tersebut memengaruhi pandangan hidup masyarakat. Pendekatan etnografi digunakan, yang dilakukan dari Februari hingga Juli 2024. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara terstruktur dengan 10 informan, termasuk kepala desa, pemangku adat, dan peserta acara. Data dianalisis dengan menggunakan model interaktif. Penelitian ini mengidentifikasi kegiatan-kegiatan nyadran sebelum pandemi: 1) Penyembelihan kerbau; 2) wayang; 3) pengajaran; 4) pengajian; 5) bazar; dan 6) kirab dan kroyokan tumpeng. Perubahan pasca pandemi mengurangi kegiatan-kegiatan tersebut menjadi: 1) pengajian, 2) jalan santai, dan 3) kirab dan kroyokan tumpeng. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan ini antara lain kekosongan jabatan kepala desa, protokol kesehatan, dan kondisi ekonomi pada masa pemulihan. Prosesi nyadran yang berubah memengaruhi cara pandang masyarakat, meningkatkan kesadaran akan persatuan, mengadaptasi skala prioritas, dan memperkuat keyakinan akan dampak tradisi terhadap tatanan sosial. Penelitian ini memberikan kontribusi pada antropologi budaya dan sosiologi dengan menganalisis dinamika perubahan prosesi nyadran dalam konteks masyarakat Pacekulon. Temuan penelitian ini dapat diaplikasikan dalam pengembangan kebijakan publik, program-program komunitas, dan penelitian tentang pelestarian tradisi.
Kajian Semiotika das Unheimliche pada Novel Sumirat ing Mripat karya Irul S. Budianto Reni Nur Afiani; Teguh Supriyanto; Dhoni Zustiyantoro
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 22 No 1 (2026)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/j1g2dh11

Abstract

ABSTRAK: Fenomena das Unheimliche (keganjilan) menjadi pusat pengalaman estetik dan psikologis dalam novel Sumirat ing Mripat karya Irul S. Budianto. Dalam novel ini, hal-hal yang sebenarnya akrab (Heimlich) justru berubah menjadi asing dan menakutkan (Unheimlich). Dengan menggunakan pendekatan semiotika Pierce dan konsep das Unheimliche Freud, peneliti bertujuan untuk menjelaskan bagaimana relasi tanda (ikon, indeks, dan simbol), serta semiotika ruang dan unsur supranatural bekerja untuk membangun makna kegelisahan dalam konteks budaya Jawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan pembacaan semiotik secara heuristik dan hermeneutik. Data dan sumber data diperoleh dari Novel Sumirat ing Mripat karya Irul S. Budianto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa das Unheimliche dalam novel ini tidak hanya menggambarkan rasa takut, tetapi juga menjadi jalan menuju penyadaran batin tokoh utama. Tanda-tanda ganjil seperti rumah yang berubah menjadi wingit atau pengalaman penglihatan supranatural yang mendorong tokoh untuk melakukan perenungan dan menemukan ketenangan batin melalui doa serta sikap pasrah. Simpulan penelitian ini menunjukkan adanya bentuk khas “Unheimliche Jawa”, yaitu keganjilan yang tidak hanya menghadirkan perasaan horor atau ketidaknyamanan, tetapi juga menyingkap hubungan antara kesadaran manusia dengan nilai-nilai spiritual dalam budaya Jawa. KATA KUNCI: Das unheimliche; Keganjilan; Psikologi Jawa; Spiritualitas Jawa; Sumirat ing Mripat   SEMIOTIC STUDY OF DAS UNHEIMLICHE IN THE NOVEL SUMIRAT ING MRIPAT BY IRUL S. BUDIANTO     ABSTRACT: The phenomenon of das Unheimliche (uncanniness)is central to the aesthetic and psychological experience in Irul S. Budianto's novel Sumirat ing Mripat. In this novel, things that are actually familiar (Heimlich) become strange and frightening (Unheimlich). Using Pierce's semiotic approach and Freud's concept of dasUnheimliche, this study aims to explain howthe relationship between signs (icons, indices, and symbols), as well as the semiotics of space and supernatural elements, work to construct the meaning of anxiety in the Javanese cultural context.This studyuses a heuristic and hermeneutic semiotic reading approach.The data and data sources were obtained from the novel Sumirat ing Mripat by Irul S. Budianto. The results show that das Unheimliche in this novel not only describesfear, but also becomes a path to the main character's inner awareness.Odd signs such as a house that turns into wingit or supernatural visions encourage the character toreflect and find inner peace through prayer and surrender.The conclusion of this researchshows that there is a distinctive form of “Unheimliche Jawa”, namely strangenessthat not only presents feelings of horror or discomfort, but alsoreveals the relationship between human consciousness and spiritual values in Javanese culture. KEYWORDS: Das Unheimliche; Strangeness; Javannese Phsychology; Javanesse Sprituality; Sumirat ing Mripat