Muhammad Arif Syihabuddin
Universitas Kiai Abdullah Faqih

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

CROSS-PARADIGM SYNTHESIS: BIBLIOMETRIC MAPPING CONCEPT INTEGRATION SOCIAL EMOTIONAL LEARNING (SEL) AND VALUE-BASED CHARACTER EDUCATION IN GLOBAL SENIOR SECONDARY EDUCATION Fera Fauziyatur Rohmah; Muhammad Arif Syihabuddin
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.11179

Abstract

ABSTRACT Growing attention to holistic student development has stimulated increasing scholarly interest in the relationship between Social Emotional Learning (SEL) and Value-Based Character Education (VBCE). Although both approaches share a common focus on fostering students’ emotional, social, and moral growth, they have frequently been examined as separate educational constructs, leaving their conceptual interconnections insufficiently explored. This study aimed to map research developments, dominant themes, and conceptual relationships between SEL and VBCE within the context of secondary education through a bibliometric approach. Data were drawn from Scopus-indexed publications published between 2021 and 2026 and selected using the PRISMA procedure, resulting in 10 core articles. In addition, 15 supporting scientific publications were included to enrich the interpretation of the findings. Bibliometric analysis was conducted using VOSviewer and Biblioshiny to identify publication trends, keyword relationships, and thematic structures within the field. The findings revealed growing academic interest in the integration of SEL and character education, particularly during the 2024–2025 period. Social Emotional Learning and Character Education emerged as the most dominant themes and were closely associated with emotional intelligence, moral education, value-based education, and student engagement. These findings suggest that socio-emotional competencies and character development are increasingly viewed as complementary dimensions that support holistic education. The resulting bibliometric mapping highlights the conceptual convergence between SEL and VBCE and underscores their relevance for strengthening secondary education through the balanced development of students’ emotional, social, and moral capacities. ABSTRAK Perhatian terhadap pengembangan peserta didik secara holistik mendorong meningkatnya kajian mengenai hubungan antara Social Emotional Learning (SEL) dan Value-Based Character Education (VBCE). Meskipun memiliki orientasi yang serupa dalam mengembangkan aspek emosional, sosial, dan moral peserta didik, kedua pendekatan tersebut masih lebih sering dikaji secara terpisah sehingga keterkaitan konseptualnya belum tergambarkan secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan memetakan perkembangan penelitian, tema dominan, dan hubungan konseptual antara SEL dan VBCE dalam konteks pendidikan menengah atas melalui pendekatan bibliometrik. Data diperoleh dari publikasi terindeks Scopus periode 2021–2026 yang diseleksi menggunakan prosedur PRISMA hingga menghasilkan 10 artikel inti, serta didukung oleh 15 artikel ilmiah pendukung. Analisis dilakukan menggunakan VOSviewer dan Biblioshiny untuk mengidentifikasi tren publikasi, keterhubungan kata kunci, dan struktur tema penelitian. Hasil analisis menunjukkan peningkatan perhatian akademik terhadap integrasi SEL dan pendidikan karakter, terutama pada periode 2024–2025. Social Emotional Learning dan Character Education menjadi tema yang paling dominan serta terhubung erat dengan kecerdasan emosional, pendidikan moral, pendidikan berbasis nilai, dan keterlibatan peserta didik. Temuan ini menunjukkan bahwa kompetensi sosial-emosional dan pembentukan karakter semakin dipandang sebagai dua dimensi yang saling melengkapi dalam mendukung pendidikan holistik. Pemetaan yang dihasilkan menegaskan adanya konvergensi konseptual antara SEL dan VBCE serta relevansinya bagi penguatan pendidikan menengah yang lebih berorientasi pada perkembangan emosional, sosial, dan moral peserta didik.
Optimalisasi Budaya Pesantren Salaf dalam Pembentukan Karakter Santri Menurut KH. Hasyim Asy’ari Siti Ayu Nuriana; Muhammad Arif Syihabuddin
Al-Abshor : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 2 (2026): Pendidikan Agama Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/ks0saz91

Abstract

Optimising the culture of salaf Islamic boarding schools in shaping the character of students according to the thinking of KH. Hasyim Asy'ari. Islamic boarding schools, as traditional Islamic educational institutions, have a unique culture that plays an important role in internalising moral, spiritual and social values in students. The culture of Salafi Islamic boarding schools not only functions as an institutional tradition, but also serves as an effective medium for character education through the instilling of values, the exemplary behaviour of the kyai, and the communal life of the santri. This study aims to analyse the concept of Salafi pesantren culture, its optimalisation in shaping the character of santri, and its relevance to the educational thought of KH. Hasyim Asy'ari. The research method used is qualitative research with a library research approach. The primary data sources are from the works and thoughts of KH. Hasyim Asy'ari, particularly those related to manners and character education, while the secondary data sources are obtained from books, journal articles, and relevant research from the last five years. The data collection technique was carried out through data analysis using descriptive-analytical content analysis. The results of the study indicate that the optimisation of the Salafi pesantren culture is carried out through the strengthening of manners, the exemplary behaviour of the kyai (uswah hasanah), the instilling of religious and social values, and the application of the hidden curriculum in pesantren life. The character values that are formed include religiosity, discipline, responsibility, simplicity, tolerance. Abstrak Optimalisasi budaya pesantren salaf dalam pembentukan karakter santri menurut pemikiran KH. Hasyim Asy’ari. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional memiliki kekhasan budaya yang berperan penting dalam internalisasi nilai moral, spiritual, dan sosial santri. Budaya pesantren salaf tidak hanya berfungsi sebagai tradisi kelembagaan, tetapi juga menjadi media pendidikan karakter yang efektif melalui pembiasaan nilai, keteladanan kyai, dan kehidupan komunal santri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep budaya pesantren salaf, bentuk optimalisasinya dalam pembentukan karakter santri, serta relevansinya dengan pemikiran pendidikan KH. Hasyim Asy’ari. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Sumber data primer berasal dari karya dan pemikiran KH. Hasyim Asy’ari, khususnya terkait adab dan pendidikan karakter, sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari buku, artikel jurnal, dan penelitian relevan lima tahun terakhir. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui analisis data menggunakan analisis isi (content analysis) secara deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimalisasi budaya pesantren salaf dilakukan melalui penguatan adab, keteladanan kyai (uswah hasanah), pembiasaan nilai religius dan sosial, serta penerapan hidden curriculum dalam kehidupan pesantren. Nilai karakter yang terbentuk meliputi religiusitas, disiplin, tanggung jawab, kesederhanaan, toleransi, dan sikap moderat. Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak cukup melalui transfer ilmu, tetapi harus diwujudkan dalam pembiasaan nilai dan praktik kehidupan sehari-hari di pesantren. Dengan demikian, budaya pesantren salaf memiliki peran strategis dalam membentuk karakter santri yang berakhlak mulia dan moderat di tengah tantangan modernisasi.
Aliran Klasik Dalam Filsafat Pendidikan (Hakikat Dan Prinsip Aliran Eksistensialisme, Humanisme, Dan Filsafat Kontemporer Dalam Perspektif Pendidikan Islam) Siti Khoirun Nisa; Muhammad Arif Syihabuddin
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 4 No. 1 (2026): February : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v4i1.1018

Abstract

Teori filsafat pendidikan berfungsi sebagai kerangka dasar untuk memahami tujuan, proses, dan arah pengembangan pendidikan. Filsafat pendidikan tidak hanya membahas apa yang harus diajarkan, tetapi juga mengapa dan bagaimana proses pendidikan harus berlangsung demi membentuk manusia ideal sesuai pandangan hidup tertentu. Dalam konteks ini, artikel ini membahas tiga aliran besar dalam filsafat moderneksistensialisme, humanisme, dan filsafat kontemporer beserta implikasinya terhadap pendidikan Islam. Eksistensialisme menekankan kebebasan individu, tanggung jawab moral, dan pencarian makna hidup. Humanisme menegaskan martabat manusia serta dorongan alami menuju pertumbuhan dan aktualisasi diri. Sementara itu, filsafat kontemporer menghadirkan perangkat kritik terhadap struktur pengetahuan dan otoritas, serta membuka ruang bagi interpretasi yang lebih fleksibel terhadap realitas sosial. Dengan mengkaji ketiga aliran ini, artikel ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam dapat memperkaya pendekatan pedagogisnya melalui integrasi konsep kebebasan, penghargaan terhadap potensi manusia, dan pembaruan metodologis, tanpa melepaskan fondasi tauhid sebagai pusat orientasi pendidikan.