Budi Setyawati
Pusat Teknologi Intervensi Kesehatan Masyarakat, Badan Litbangkes, Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STUNTING ANAK USIA SEKOLAH DI INDONESIA MENURUT KARAKTERISTIK KELUARGA Salimar Salimar; Djoko Kartono; Noviati Fuada Fuada; Budi Setyawati
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 36 No. 2 (2013)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v36i2.3997.121-126

Abstract

ABSTRACTStunting in childhood is associated with cognitive development, low productivity and shorter stature in adulthood. This analysis aimed to describe factors associated with stunting of school age (6-12 years) in Indonesia. The data used for analysis is cross-sectional data of Baseline Health Research (Riskesdas) in 2010. Study samples were all children aged 6-12 years who have complete data. The data were processed and presented in the form of tabulations and bivariate analysis. Logistic regression method was used to look at the factors of family characteristics that associated with stunting. Overall prevalence ofstunting among school-age children in Indonesia was 35.4 percent, 41.6 percent in rural areas 29.8 percent in urban areas. The prevalence of stunting of children of school age boys was 35.8 percent and girls was 35.0 percent. Factors associated with stunting in children of school age were family size, occupation of head of family, maternal education, and education of head of family.Keywords: school-age children, stunting, prevalence, familyABSTRAKStunting pada masa anak-anak berhubungan dengan perkembangan kognitif, produktivitas yang rendah dan berperawakan pendek pada masa dewasa. Analisis data ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berkorelasi dengan status gizi pendek (stunting) pada anak usia sekolah (6-12 tahun) di Indonesia. Penelitian ini merupakan analisis lanjut dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, dengan disain potong_lintang, terhadap sampel semua anak berumur 6-12 tahun yang mempunyai data lengkap. Data diolah dan disajikan dalam bentuk tabulasi dan analisis bivariat. Untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi stunting pada anak usia sekolah, data dianalisis dengan regresi logistik. Total prevalensi stunting anak usia sekolah 35,4 persen (41,6 persen di perdesaan dan 29,8 persen di perkotaan). Prevalensi stunting anak laki-laki sebesar 35,8 persen dan anak perempuan sebesar 35,0 persen. Faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi (stunting) pada anak usia sekolah adalah besar keluarga, pekerjaan KK, pendidikan ibu, dan pendidikan KK). [Penel Gizi Makan 2013, 36(2):121-126]Kata kunci: anak usia sekolah, stunting, prevalensi, keluarga
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN DENSITAS MINERAL TULANG PEREMPUAN DEWASA MUDA DI KOTA BOGOR Budi Setyawati; Elisa Diana Julianti; Diane Adha
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 36 No. 2 (2013)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v36i2.4001.149-156

Abstract

ABSTRACTThe age of young adult (25-35 years) is a period of peak bone mass formation. The stable formation of optimum peak bone mass prevent osteoporosis in later life. The aim of study was to assess factors bone mineral density (BMD) condition. Design of the study was an observasional study with cross-sectional design, conducted in Bogor, involving 173 married woman, 25-35 year of age. Data collected were socio economic characteristics, dietary intake, food frequency, body mass index, exercise activity and BMD. Data were analyzed by univariate and bivariate using chi-square test. The results showed 9.2 percent were at risk for osteoporosis. One with BMI <18.5 was 7 times greater risk for osteoporosis than BMI ≥ 18.5 (p<0.05). There were no significant relationship between BMD and education, parity, calcium and protein intake. The were also no significant relationship between BMD and habit of drinking milk, soda, caffeine drink and exercise. There was a significant relationship between body mass index (BMI) and BMD in young adult women.Keywords: bone mineral density, young adult woman, osteoporosisABSTRAKUsia dewasa muda adalah masa puncak pembentukan massa tulang. Pencapaian puncak pembentukan massa tulang optimal yang terus dipertahankan mampu mencegah kemungkinan osteoporosis di masa selanjutnya. Penelitian untuk mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kondisi densitas mineral tulang (DMT) pada perempuan dewasa muda. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan rancangan potong-lintang, dilakukan di Kota Bogor, melibatkan 173 sampel perempuan menikah berusia 25-35 tahun. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik sosial ekonomi, asupan zat gizi, food frequency, indeks massa tubuh (IMT), dan densitas massa tulang (DMT). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Sebanyak 9,2 persen berisiko osteoporosis. Nilai IMT <18,5 berisiko osteoporosis 7 kali lebih besar dibandingkan dengan nilai IMT ≥18,5 5 (p<0,05). Tidak ditemukan hubungan yang bermakna pada DMT dengan pendidikan, paritas, asupan kalsium dan protein, kebiasaan minum susu, kebiasaan minum minuman bersoda (soft drink) dan berkafein (teh, kopi), serta kebiasaan berolahraga. Terdapat hubungan signifikan antara IMT dan DMT pada perempuan dewasa muda. [Penel Gizi Makan 2013, 36(2):149-156]Kata kunci: densitas mineral tulang, perempuan dewasa muda, osteoporosis