Jajah K. Husaini
Balai Penelitian Gizi Unit Semboja, Depkes RI, Bogor

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENCEGAHAN PENYAKIT KEKURANGAN VITAMIN A DENGAN PEMBERIAN "ORAL MASSIVE DOSE VITAMIN A EMULSION", DUA KALI SETAHUN Darwin Karyadi; Ignatius Djokosusanto; S. Hasnah Soetedjo; Jajah K. Husaini; Samsudin Samsudin; Supardi Supardi; Rachmad Rachmad
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 2 (1972)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2016.

Abstract

Penelitian dilakukan terhadap pemberian 200.000 Kesatuan Internasional (KI) vitamin A dicampur dengan 40 KI vitamin E dalam emulsi melalui mulut (oral) dua kali setahun kepada anak-anak pra sekolah, dengan tujuan mencegah xerophthalmia.Hasil penelitian terhadap anak-anak yang diikuti selama satu tahun, menunjukkan penyembuhan dan pengaruh pencegahan. Tanda dan gejala xerophthalmia pada mata menyembuh dan kadar serum vitamin A meninggi. Dosis yang lebih tinggi disarankan untuk dapat memenuhi kebutuhan tambahan pada xerophthalmia yang juga menderita tuberkulosa.
PENELITIAN PROGRAM PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN DI DALAM USAHA PERBAIKAN GIZI ANAK PRA-SEKOLAH YANG DISELENGGARAKAN DI TAMAN GIZI DESA CIJENGKOL KABUPATEN SUKABUMI Ig. Djokosusanto; Samsudin Samsudin; Asmuni Asmuni; Jajah K. Husaini; S. Hasnah Soetedjo; Supardi Supardi; Darwin Karyadi
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 3 (1973)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1927.

Abstract

Telah diteliti pengaruh pemberian makanan tambahan di Taman Gizi di desa Cijengkol, kabupaten Sukabumi terhadap 26 anak pra-sekolah yang berasal dari keluarga-keluarga golongan sosial-ekonomi rendah.Keadaan gizi anak-anak eksperimen dibandingkan dengan anak-anak kontrol menunjukkan perbaikan yaitu dengan menurunnya jumlah penderita kurang protein-kalori pada akhir program.Dinilai dari segi antropometri gizi ternyata pengaruh makanan tambahan selama tiga bulan tidak memberikan hasil yang nyata. Ada beberapa faktor yang diduga telah menyebabkan keadaan tersebut, yaitu jangka waktu pemberian makanan tambahan terlalu singkat, kurangnya nafsu makan pada anak-anak tersebut, serta adanya penyakit infeksi kronik tuberkulosis. Penyakit saluran pernafasan, baik yang akut maupun yang menahun (tuberkulosis) diduga merupakan sebab penting sebagai penghambat perbaikan gizi anak-anak tersebut.Usaha penyuluhan gizi praktis hanya sampai pada tingkat tambahan pengetahuan. Ibu-ibu yang dididik/diberi penyuluhan belum dapat merubah sikap dan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya itu di rumah mereka masing-masing. Keadaan sosial-ekonomi yang rendah serta terbatasnya sumber-sumber yang ada di keluarga merupakan faktor-faktor yang sangat erat hubungannya dengan tidak mampunya ibu-ibu tersebut di dalam menyediakan makanan yang baik bagi anggota-anggota keluarga.