Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

RELIABILITAS METODE PENGUMPULAN DATA KONSUMSI MAKANAN TINGKAT RUMAHTANGGA DAN INDIVIDU (RELIABILITY DATA COLLECTION METHODS OF HOUSEHOLD AND INDIVIDUAL FOOD CONSUMPTION) Sri Prihatini; Trintrin Tjukarni; Sri Mulyati
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 34 No. 2 (2011)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v34i2.3098.

Abstract

Abstract Background: One of constrains in the measurement of household food consumption through individual food consumption is difficult to meet all person for interviewing at the same time. Objective: To obtain an operational method of collecting food consumption data to estimate the level of energy intake of household from individual food consumption which aggregated to the household. Methods: Design of this study is cross-sectional. The research was conducted in Cianjur district and the city of Bandung, West Java province. Study sample are 360 households consisting 1489 individuals. The data collected is household and individual food consumption. The method used is 1 x 24 hours food-recalls. In analysis, households are grouped into 3 groups, which are: household that has complete member, household that represented by the age group of household members, and the household that has incomplete members. Kappa reliability test is performed to determine the proportion agreement of energy deficit household among analysis groups. Results: The average of adequacy level of energy collected from household consumption tended to be higher than those from individual consumption. Reliability test results of energy deficit household between household that has complete members and household level group has Kappa value of 0.15., while with household represented by the age group was 0.77 and with household that has incomplete members is 0.73. Conclusions: The reliability test of inter-analysis group showed that the highest kappa value of 0.77 is shown between groups household that has complete group and households that represented by the age group. This means that in order to estimate household consumption, the interview can be made to all household members or simply represented by age group in the household. Keywords: Reliability test, food consumption, household and individual level abstrak Latar Belakang: Salah satu kendala dalam penilaian konsumsi makanan rumah tangga melalui konsumsi individu adalah kesulitan menemui seluruh anggota rumah tangga pada waktu yang bersamaan. Tujuan: Mendapatkan suatu metode operasional pengumpulan data konsumsi makanan untuk mengestimasi tingkat konsumsi energi rumah tangga melalui konsumsi makanan individu, yang diagregatkan ke rumah tangga. Metode: Disain penelitian ini adalah Kross-seksional. Penelitian dilaksanakan di kabupaten Cianjur dan kota Bandung provinsi Jawa Barat. Sampel penelitian sebanyak 360 rumahtangga terdiri dari 1489 individu. Data yang dikumpulkan adalah data konsumsi makanan tingkat rumahtangga dan  individu. Metode yang digunakan yaitu metode recall 1 x 24 jam. Dalam analisis, rumah tangga dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu rumah tangga anggota rumah tangganya yang lengkap , rumah tangga yang diwakili kelompok umur dari anggota rumah tangganya dan rumah tangga tidak lengkap anggota rumah tangganya. Uji reliabilitas Kappa dilakukan untuk mengetahui kesepakatan proporsi rumah tangga defisit energi antar kelompok analisis. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata tingkat kecukupan energi yang dikumpulkan melalui konsumsi rumah tangga cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi energi dikumpulkan secara individu. Hasil uji reliabilitas rumah tangga defisit energi antara kelompok lengkap dengan kelompok tingkat rumah tangga mempunyai nilai Kappa sebesar 0,15. Kelompok lengkap dengan kelompok yang diwakili kelompok umur adalah 0,77 dan kelompok lengkap dengan kelompok tidak lengkap adalah 0,73. Kesimpulan: Uji reliabilitas antar kelompok analisis menunjukkan bahwa nilai Kappa tertinggi sebesar 0,77 ditunjukkan antara kelompok lengkap dan yang diwakili kelompok umur. Hal ini berarti bahwa untuk mengestimasi konsumsi rumah tangga dapat dilakukan wawancara kepada semua anggota rumahtangga atau cukup diwakili oleh kelompok umur yang ada di rumahtangga tersebut. [Penel Gizi Makan 2011, 34(2): 86-92] Kata kunci : Reliabilitas, Konsumsi makanan rumah tangga, konsumsi makanan individu
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN DENSITAS MINERAL TULANG PADA PEREMPUAN DEWASA MUDA (ASSOCIATION BETWEEN BODY MASS INDEX AND BONE MINERAL DENSITY IN YOUNG ADULT FEMALE ) Budi Setyawati; Sri Prihatini; Wasilah Rochmah; Retno Pangastuti
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 34 No. 2 (2011)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v34i2.3099.

Abstract

ABSTRACT Background: Body Mass Index (BMI) is a good indicator for measurement of Bone Mineral Density (BMD), so it is often used to predict BMD. Objective: To assess the association between BMI and status of BMD among 242 young adult female who were 25-35 years of age and who underwent quantitative ultrasound bone densitometry (QUS) scan. Method: We used data from the study on “Determinants of Risk Factors for Osteoporosis at three provinces in Indonesia” that was undertaken by the Center for Research and Development in Nutrition and Food, 2007. Design of the study was cross-sectional study. The dependent variable was BMD; the independent variable was BMI; and the confounding variables were: acceptors of hormonal contraception, physical exercises, calcium intake, ratio of Ca: P intake, consumptions of supplements, sources of phytoestrogen, fruits and vegetables. Result: Ca intake < 500 mg/day had a risk twice to low BMD than adequate Ca intake, the association was statistically significant (p<0.05). There are no association between BMI and BMD (p>0,05). Other variables as hormonal contraception, physical exercise, protein intake, Ca: P ratio intake, consumption of supplements source of phytoestrogen, fruits and vegetables have no association with BMD. Conclusion: There are no significant association between BMI and BMD. Calcium intake was the only risk factor for low BMD.   Keywords: osteoporosis, body mass index, bone mass density, bone density, young adult woman   ABSTRAK Latar Belakang: Indeks massa tubuh (IMT) adalah indikator yang baik untuk pengukuran densitas mineral tulang (DMT). Tujuan: Mengkaji hubungan antara IMT dan status DMT pada perempuan dewasa muda usia 25-35 tahun. Metode: Data yang digunakan berasal dari penelitian ’Faktor Determinan Risiko Osteoporosis di Tiga Provinsi di Indonesia’ yang dilakukan Pusat Penelitain dan Pengembangan Gizi dan Makanan pada 2007. Penelitian ini merupakan studi observasional-analitis dengan rancangan cross-sectional. Variabel terikat: DMT, variabel bebas: IMT, variabel perancu: peserta KB hormonal, kebiasaan berolahraga, asupan kalsium (Ca), rasio asupan Ca:P, konsumsi suplemen, konsumsi sumber fitoestrogen dan buah-sayuran. Hasil: Asupan Ca < 500 mg/hari berisiko dua kali mengalami DMT rendah dibandingkan asupan Ca yang cukup, hubungan ini bermakna secara statistik (p<0,05). Tidak ditemui hubungan antara IMT dan DMT (p>0,05). Variabel lain seperti rasio asupan Ca:P, kebiasaan konsumsi suplemen, sumber fitoestrogen, buah-sayuran, kebiasaan berolahraga dan peserta KB hormonal tidak memiliki hubungan dengan DMT. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara IMT dan DMT. Asupan kalsium merupakan faktor risiko terjadinya DMT rendah. [Penel Gizi Makan 2011, 34(2): 93-103]   Kata kunci: osteoporosis, indeks massa tubuh, densitas mineral tulang, densitas tulang, wanita dewasa muda.