Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN DENSITAS MINERAL TULANG PADA PEREMPUAN DEWASA MUDA (ASSOCIATION BETWEEN BODY MASS INDEX AND BONE MINERAL DENSITY IN YOUNG ADULT FEMALE ) Budi Setyawati; Sri Prihatini; Wasilah Rochmah; Retno Pangastuti
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 34 No. 2 (2011)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v34i2.3099.

Abstract

ABSTRACT Background: Body Mass Index (BMI) is a good indicator for measurement of Bone Mineral Density (BMD), so it is often used to predict BMD. Objective: To assess the association between BMI and status of BMD among 242 young adult female who were 25-35 years of age and who underwent quantitative ultrasound bone densitometry (QUS) scan. Method: We used data from the study on “Determinants of Risk Factors for Osteoporosis at three provinces in Indonesia” that was undertaken by the Center for Research and Development in Nutrition and Food, 2007. Design of the study was cross-sectional study. The dependent variable was BMD; the independent variable was BMI; and the confounding variables were: acceptors of hormonal contraception, physical exercises, calcium intake, ratio of Ca: P intake, consumptions of supplements, sources of phytoestrogen, fruits and vegetables. Result: Ca intake < 500 mg/day had a risk twice to low BMD than adequate Ca intake, the association was statistically significant (p<0.05). There are no association between BMI and BMD (p>0,05). Other variables as hormonal contraception, physical exercise, protein intake, Ca: P ratio intake, consumption of supplements source of phytoestrogen, fruits and vegetables have no association with BMD. Conclusion: There are no significant association between BMI and BMD. Calcium intake was the only risk factor for low BMD.   Keywords: osteoporosis, body mass index, bone mass density, bone density, young adult woman   ABSTRAK Latar Belakang: Indeks massa tubuh (IMT) adalah indikator yang baik untuk pengukuran densitas mineral tulang (DMT). Tujuan: Mengkaji hubungan antara IMT dan status DMT pada perempuan dewasa muda usia 25-35 tahun. Metode: Data yang digunakan berasal dari penelitian ’Faktor Determinan Risiko Osteoporosis di Tiga Provinsi di Indonesia’ yang dilakukan Pusat Penelitain dan Pengembangan Gizi dan Makanan pada 2007. Penelitian ini merupakan studi observasional-analitis dengan rancangan cross-sectional. Variabel terikat: DMT, variabel bebas: IMT, variabel perancu: peserta KB hormonal, kebiasaan berolahraga, asupan kalsium (Ca), rasio asupan Ca:P, konsumsi suplemen, konsumsi sumber fitoestrogen dan buah-sayuran. Hasil: Asupan Ca < 500 mg/hari berisiko dua kali mengalami DMT rendah dibandingkan asupan Ca yang cukup, hubungan ini bermakna secara statistik (p<0,05). Tidak ditemui hubungan antara IMT dan DMT (p>0,05). Variabel lain seperti rasio asupan Ca:P, kebiasaan konsumsi suplemen, sumber fitoestrogen, buah-sayuran, kebiasaan berolahraga dan peserta KB hormonal tidak memiliki hubungan dengan DMT. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara IMT dan DMT. Asupan kalsium merupakan faktor risiko terjadinya DMT rendah. [Penel Gizi Makan 2011, 34(2): 93-103]   Kata kunci: osteoporosis, indeks massa tubuh, densitas mineral tulang, densitas tulang, wanita dewasa muda.
PROFIL KONSUMSI SUMBER ANTIOKSIDAN ALAMI, STATUS GIZI, KEBIASAAN MEROKOK DAN SANITASI LINGKUNGAN PADA DAERAH DENGAN TB-PARU TINGGI DI INDONESIA (PROFILE OF NATURAL SOURCE ANTIOXIDANTS CONSUMPTION, NUTRITIONAL STATUS, SMOKING HABIT AND ENVIRONMENTAL SANITA Budi Setyawati; Nelis Imanningsih; Fitrah Ernawati
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 35 No. 1 (2012)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v35i1.3084.55-69

Abstract

ABSTRACT Indonesia is at third rank as country having a large number of people with pulmonary-tuberculosis disease after India and China. Low nutritional status, unhealthy lifestyle, poor living condition, and low consumption of natural sources of antioxidant (fruits, vegetables and herbs) can decrease immunity sistem and increase the risk of pulmonary-tuberculosis (pulmonary-TB) infection. The study aimed to discribe the profile of nutritional status, consumption of antioxidant sources, smoking habit, house condition and environmental sanitation in areas with high cases of pulmonary-TB in Indonesia. Analitic observational study with cross sectional design. The sample is Riskesdas 2010 sample, age of sample is 15 years old and above and living in the area with high cases of pulmonary-TB in Indonesia. Variable being studied are the profile of pulmonary-TB status, sample characteristics (age, sex, occupation and education); nutritional status; the consumption of antioxidant sources (fruits, vegetables and herbs); smoking habit (status, first started smoking, dan smoking duration) and practices related to prevention of pulmonary-TB disease; house and environmental sanitation conditions. The large proportion of pulmonary-TB are found in male, low education, productive age dan low nutritional status samples. The large proportion of pulmonary-TB are also found in smokers that have started smoking in early age (<10 years old) and have smoked in long duration (31-40 years). A slight larger proportion of pulmonary-TB is found in samples that consume fruit-vegetable less than 5 servings/day. The higher proportion of behaviour that prevent pulmonary-TB, healthy house and environment is found in non pulmonary-TB samples. To cut down the number of pulmonary-TB suferer, efforts should be focused to the improving nutritional status, house condition and environtment sanitation, reducing the number of early ages smokers and increasing the consumption of 5 servings of fruits and vegetables. Keywords: pulmonary-TB, antioxidants, nutritional status, smoking habit, sanitation ABSTRAK Indonesia peringkat ketiga di dunia setelah India dan China dalam jumlah penderita tuberkulosis-paru (TB-paru). Status gizi, kebiasaan merokok, kondisi rumah dan sanitasi lingkungan yang buruk, serta konsumsi sumber antioksidan alami (sayuran, buah-buahan, dan jamu) yang rendah, dapat menurunkan daya tahan tubuh dan meningkatkan risiko terinfeksi TB-paru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari profil status gizi, konsumsi sumber antioksidan alami, kebiasaan merokok, kondisi rumah dan sanitasi lingkungan di wilayah Indonesia dengan kasus TB-paru tinggi. Studi observasional analitis dengan desain potong-lintang. Sampel merupakan sampel Riskesdas 2010, berusia minimal 15 tahun dan tinggal di wilayah dengan kasus TB-paru tinggi di Indonesia. Variabel yang dipelajari meliputi profil status TB-paru, karakteristik responden, status gizi, konsumsi sumber antioksidan alami, kebiasaan merokok dan perilaku pencegahan TB-paru, serta kondisi rumah dan sanitasi lingkungan. Proporsi penderita TB-paru lebih tinggi dijumpai pada lelaki, pendidikan rendah, usia produktif, dan status gizi rendah. Proporsi besar juga ditemukan pada perokok yang mulai merokok diusia muda (<10 tahun) dan durasi merokok lama (31-40 tahun). Proporsi agak tinggi penderita TB-paru ditemukan pada konsumen sayuran-buah kurang dari lima porsi perhari. Proporsi perilaku pencegahan TB-paru, kondisi rumah dan lingkungan yang sehat ditemukan lebih besar pada non-penderita TB-paru. Untuk mengurangi jumlah penderita TB-paru, usaha perbaikan hendaknya diarahkan pada perbaikan status gizi, kondisi rumah dan sanitasi lingkungan, pengurangan jumlah perokok usia dini, dan peningkatan konsumsi sayuran dan buah dengan jumlah 5 porsi sehari. [Penel Gizi Makan 2012, 35(1): 55-69]   Kata Kunci: TB-paru, antioksidan, status gizi, kebiasaan merokok, sanitasi