Nuzuliyati Nurhidayati
Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Badan Riset dan Inovasi Nasional

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGENDALIAN OBESITAS MENURUT STATUS KOMORBID DI MASA PANDEMI COVID-19 Woro Riyadina; Elisa Diana Julianti; Prisca Petty Arfines; Nuzuliyati Nurhidayati; Irlina Raswanti Irawan; Mohamad Samsudin
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 45 No. 2 (2022): PGM VOL 45 NO 2 TAHUN 2022
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v45i2.6201

Abstract

ABSTRACT The trend of obesity continues to increase consistently in Indonesia, even though the government has targeted to maintain the prevalence. Comorbidities play a role in controlling obesity, especially during the COVID-19 pandemic. This study aimed to determine the main determinants of obesity control according to comorbid status during the COVID-19 pandemic. A longitudinal study on 814 cases of obese adults aged 31 years or older who were part of the “Cohort Study of Non-Communicable Disease (NCD) Risk Factors” data in Bogor City. The sample is obese cases (Body Mass Index more or equal to 25 kg/m2) who have complete BMI data before the pandemic (2019) and during the COVID-19 pandemic (2021). The dependent variable was the change in BMI which is defined as the difference (delta) of BMI before and during the COVID-19 pandemic then categorized into three groups (stable, increased, and decreased). The main independent variable was comorbid status which was categorized as healthy, 1 NCD and ≥ 1 NCD). Covariate variables include demographic characteristics, health status (obesity, Common Mental Disorder (CMD), and risk behavior (smoking, length of sitting, exercise, dietary patterns). Data were analyzed by multinomial logistic regression at a significance of p<0.05. During the COVID-19 pandemic, obese cases who were able to control obesity (Stable BMI) at around 36.5 percent and who were able to reduce BMI was 24.6 percent. The main determinant of comorbid to stable BMI was education (OR 2.9 95% CI 1.361 – 6.070, p=0.006), while the determinant of decreased BMI was sitting time for 5.9 hours (OR 1.6 95% CI 1.122– 2.331, p=0.010) after controlling for other factors. Specific nutrition intervention strategies are needed individually, especially for obese cases with low education by considering the health status and increasing physical activity as a healthy lifestyle. Keywords: changes in BMI, control, comorbid, obese, COVID-19 pandemic ABSTRAK Tren obesitas terus meningkat secara konsisten di Indonesia, meskipun pemerintah sudah menargetkan untuk mempertahankan prevalensi obesitas. Komorbid berperan dalam pengendalian obesitas khususnya pada masa pandemi COVID-19. Tujuan studi menentukan determinan utama pengendalian obesitas menurut status komorbiditas di masa pandemi COVID-19. Sebuah studi longitudinal pada 814 kasus obese dewasa umur ≥31 tahun bagian dari data “Studi Kohor Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular” di Kota Bogor. Sampel adalah kasus obese (IMT ≥ 25 kg/m2) yang mempunyai data IMT lengkap sebelum pandemi (2019) dan pada masa pandemi COVID-19 (2021). Variabel terikat adalah perubahan IMT yang merupakan selisih (delta) IMT sebelum dan pada masa pendemi COVID-19 dikategorikan menjadi tiga kelompok (stabil, turun dan naik). Variabel bebas utama adalah status komorbid yang dikategorikan menjadi sehat, 1 PTM dan ≥ 1 PTM. Variabel kovariat meliputi karakteristik demografi, status kesehatan (obesitas, gejala mental emosional (GME), perilaku berisiko: merokok, lama duduk, olahraga, pola konsumsi). Data dianalisis dengan regresi logistik multinomial pada signifikansi p< 0,05. Selama masa pandemi COVID-19, kasus obese yang mampu mengendalikan obesitas (IMT Stabil) 36,5 persen dan mampu menurunkan IMT sebesar 24,6 persen. Determinan utama hubungan komorbid dengan IMT stabil adalah pendidikan (OR 2,9 95% CI 1,361 – 6,070, p=0,006) sedangkan determinan utama perubahan IMT turun adalah lama duduk ≤ 5,9 jam (OR 1,6 95% CI 1,122– 2,331, p=0,010) setelah mengontrol faktor lain. Diperlukan strategi intervensi gizi yang spesifik secara individual, khususnya bagi kasus obese dengan tingkat pendidikan rendah dengan mempertimbangkan status sehat (tanpa komorbid) dan peningkatkan aktivitas fisik sebagai gaya hidup sehat. Kata kunci: perubahan IMT, kendali, komorbid, obesitas, pandemi COVID-19
HUBUNGAN RISIKO STATUS KESEHATAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK 24-36 BULAN Reviana Christijani; Nuzuliyati Nurhidayati
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 45 No. 2 (2022): PGM VOL 45 NO 2 TAHUN 2022
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v45i2.5638

Abstract

ABSTRACT Stunting is a nutritional problem found in most developing countries. Stunting is a cumulative effect that shows growth in the past and present, due to inadequate nutrient intake and is compounded by frequent anti-infectious drugs. This study aims to determine the relationship between health status risk and the incidence of stunting among children aged 24-36 months. This data analysis uses a total sample of data that has complete data of 195 children obtained from 24 to 36 months and data was collected through interview and measurement. Data analysis was conducted in univariate, bivariate (chi-square test), and multivariate analysis (multiple logistic regression test). The results showed that a history of heat illness more than 3 times/year was significantly related to the incidence of stunting (p <0.04) and the risk of stunting was 1.8 times higher than children who had a history of heat illness less than 3 times/year. History of cold cough, diarrhea, and long duration of illness there is no relationship with stunting in children aged 24-36 months in Bogor Keywords: health status, stunting, children 23-24 months ABSTRAK Stunting merupakan masalah gizi yang banyak ditemukan pada hampir semua negara berkembang, Stunting merupakan efek kumulatif adanya gangguan pertumbuhan pada masa lalu dan sekarang, diakibatkan karena asupan zat gizi yang tidak memadai dan diperparah dengan seringnya terkena penyakit infeksi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan risiko status kesehatan terhadap kejadian stunting pada anak umur 24-36 bulan. Analisis data penelitian longitudinal yang dilakukan Pusat Teknologi Terapan Kesehatan dan Epidemiologi Klinik (PTTKEK) ini menggunakan total sampel balita yang memiliki kelengkapan data sebanyak 195 anak berumur 24 sampai dengan 36 bulan. Pengumpulan data dengan wawancara dan pengukuran. Analisis data univariat, bivariat (uji kai kuadrat), dan multivariat (uji regresi logistik ganda). Hasil penelitian menunjukkan bahwa riwayat sakit panas lebih dari 3 kali/tahun berhubungan secara signifikan dengan kejadian stunting (p<0,04) dan berisiko untuk menjadi stunting 1,8 kali lebih tinggi dari anak yang mempunyai riwayat sakit panas kurang dari 3 kali/tahun. Riwayat sakit batuk pilek, diare dan durasi lama sakit tidak berhubungan secara signifikan dengan stunting pada anak umur 24-36 bulan di Bogor. Kata kunci: status kesehatan, stunting, anak 23-24 bulan
GAYA HIDUP BALITA SELAMA PANDEMI COVID-19 DI KECAMATAN BOGOR TENGAH, INDONESIA Nazarina Nazarina; Rika Rachmawati; Febriani Febriani; Nuzuliyati Nurhidayati; Reviana Christijani; Amalia Safitri; Aditianti Aditianti; Budi Setyawati
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 45 No. 2 (2022): PGM VOL 45 NO 2 TAHUN 2022
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v45i2.6266

Abstract

ABSTRACT The Covid-19 Pandemic has had an unpredictable impact in society, including changing the lifestyle of children under five years old such as eating habit and physical activity that may consequence on their health, growth, and development. Therefore this study explores their lifestyles and the reasons of their lifestyle during pandemic. This was a qualitative study in Bogor Tengah sub-district, of West Java, Indonesia on October 2021. Focus Group Discussions (FGD) were conducted in 12 mothers and 1 care giver of child under five years old whom recruited purposively and divided into four discussion groups. The discussion took place in the UPF-IPS institution in Bogor. Each group was led by two researchers. The discussion duration was 45 to 60 minutes, recorded and transcribed. To validate FGD’s information, in-depth interviews were done in some family members who are close to the children. All information was analyzed thematically. This study shows that most participants had a low social economic status. Social distancing and locked down policies, caused children have more recreational screen time, sleeping. Job lost or less income during pandemic change in food purchases, causing children eating more energy dense and low protein quality food. In long periods, it may badly affect children’s growth, development and health. Thus, it is recommended to create some online or offline fun games based on physical movement in small rooms, also creating a standard menu that fulfills children’s protein requirements as well as taking essential amino acid or protein supplements besides multivitamin and mineral supplements. Keywords: children, food consumption, sedentary activity, screen time ABSTRAK Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang tidak dapat di prediksi di komunitas, termasuk perubahan gaya hidup balita yang dimungkinkan berkuensikuensi terhadap kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi gaya hidup balita serta yang melatarbelakangi gaya hidup tersebut disaat pandemi. Penelitian kualitatif ini dilakukan di Kecamatan Bogor Tengah, Jawa Barat, Indonesia pada bulan Oktober 2021. Diskusi kelompok terarah dilakukan pada 12 ibu dan 1 pengasuh balita yang ditentukan secara purposive dan dibagi menjadi 4 kelompok diskusi, setiap kelompok dipimpin oleh dua peneliti, dengan durasi 45-60 menit yang direkam menggunakan recorder dan transkripsi. Diskusi meliputi gaya hidup balita sebelum dan saat pandemi serta yang melatarbelakangi terjadi perubahan gaya hidup tersebut. Validasi informasi dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap anggota keluarga dari beberapa keluarga balita. Semua informasi dianalisis secara tematik. Hasil memperlihatkan bahwa kebanyakan peserta berada pada status sosial ekonomi rendah. Kebijakan PPKM dan jaga jarak sosial menyebabkan balita lebih banyak melakukan recreational screen time serta tidur. Kehilangan pekerjaan atau penghasilan yang menurun selama pandemi menyebabkan perubahan pembelian jenis pangan terutama pangan dengan kandungan tinggi protein, sehingga balita banyak menonsumsi makanan energy dense (energi tinggi) dan kualitas protein rendah.. Bila keadaan tersebut berlangsung lama, akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan balita. Dianjurkan untuk menciptakan permainan berdasarkan gerak tubuh yang menyenangkan secara online atau offline yang dapat dilakukan pada saat pandemi. Diperlukan menu standar untuk mencukupi kuantitas dan kualitas protein atau meminum supleman asam amino esensial (protein) selain suplemen multivitamin dan mineral. Kata kunci: balita, konsumsi makanan, aktivitas sedentary, screen time
FAKTOR RISIKO STUNTING BALITA 0-23 BULAN DI INDONESIA Sudikno Sudikno; Sugeng Eko; Irlina Raswanti Irawan; Aditianti Aditianti; Yekti Widodo; Nuzuliyati Nurhidayati; Ade Chandra Iwansyah
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 45 No. 2 (2022): PGM VOL 45 NO 2 TAHUN 2022
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v45i2.6466

Abstract

ABSTRACT The problem of stunting in children under five is still a health problem, especially in developing countries. This study aims to determine the risk factors associated with the nutritional status of children aged 0–23 months in Indonesia. This study uses data from Basic Health Research (Riskesdas) 2018. The research design is cross-sectional. The research sample is children aged 0-23 months in Indonesia. Stunting was analyzed as the dependent variable. The independent variables were gender, age group, region (rural/urban), father's education, mother's education, father's occupation, mother's occupation, number of household members, number of children under five, access to a health center, access to the hospital, access to health practitioner, infectious diseases (diarrhea, ARI), ownership of MCH handbook, birth weight, birth length, mother's height, father's BMI, mother's BMI, father's smoking habit, mother's smoking habit, place of delivery, waste disposal, and hand washing with soap (father/mother). The number of samples analyzed was 10,779 children under two years old. The results of the analysis showed that the prevalence of stunting in children aged 0-23 months was 28.9 percent. The prevalence of stunting in babies 0-11 months was 22.4 percent lower than the prevalence of stunting in toddlers 12-23 months (36.8%). The results of multivariate logistic regression analysis showed that the risk factors associated with stunting in children aged 0-23 months in Indonesia were boys, ages 12-23. months, LBW, birth length (<48 cm), and maternal height (<145 cm). Keywords: stunting, children aged 0-23 months, risk factors ABSTRAK Masalah stunting pada anak balita masih menjadi masalah kesehatan terutama di negara berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan status gizi balita usia 0–23 bulan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data Riskesdas 2018. Desain penelitian adalah cross-sectional. Sampel penelitian adalah balita berusia 0-23 bulan di Indonesia. Variabel yang dianalisis meliputi variabel terikat, yaitu status gizi stunting. Variabel bebas meliputi: jenis kelamin, kelompok umur, wilayah (perdesaan/perkotaan), pendidikan ayah, pendidikan ibu, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, jumlah anggota rumah tangga, jumlah balita, akses ke puskesmas, akses ke rumah sakit, akses ke praktek tenaga kesehatan, penyakit menular (diare, ISPA), kepemilikan buku KIA, berat lahir, panjang lahir, tinggi badan ibu, IMT ayah, IMT ibu, kebiasaan merokok ayah, kebiasaan merokok ibu, tempat persalinan, tempat sampah, dan cuci tangan pakai sabun (ayah/ibu). Jumlah sampel yang dianalisis 10.779 anak umur 0-23 bulan. Hasil analisis menunjukkan prevalensi stunting pada anak usia 0-23 bulan adalah 28,9 persen. Prevalensi stunting pada bayi 0-11 bulan sebesar 22,4 persen lebih kecil dibandingkan prevalensi stunting pada anak balita umur 12-23 bulan (36,8%). Hasil analisis regresi logistik multivariat menunjukkan bahwa faktor risiko yang berhubungan dengan stunting pada anak balita umur 0-23 bulan di Indonesia adalah jenis kelamin laki-laki, umur balita 12-23 bulan, BBLR, panjang lahir (<48 cm), dan tinggi badan ibu (<145 cm). Kata kunci: stunting, balita 0-23 bulan, faktor risiko