Aditianti Aditianti
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

GAYA HIDUP BALITA SELAMA PANDEMI COVID-19 DI KECAMATAN BOGOR TENGAH, INDONESIA Nazarina Nazarina; Rika Rachmawati; Febriani Febriani; Nuzuliyati Nurhidayati; Reviana Christijani; Amalia Safitri; Aditianti Aditianti; Budi Setyawati
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 45 No. 2 (2022): PGM VOL 45 NO 2 TAHUN 2022
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v45i2.6266

Abstract

ABSTRACT The Covid-19 Pandemic has had an unpredictable impact in society, including changing the lifestyle of children under five years old such as eating habit and physical activity that may consequence on their health, growth, and development. Therefore this study explores their lifestyles and the reasons of their lifestyle during pandemic. This was a qualitative study in Bogor Tengah sub-district, of West Java, Indonesia on October 2021. Focus Group Discussions (FGD) were conducted in 12 mothers and 1 care giver of child under five years old whom recruited purposively and divided into four discussion groups. The discussion took place in the UPF-IPS institution in Bogor. Each group was led by two researchers. The discussion duration was 45 to 60 minutes, recorded and transcribed. To validate FGD’s information, in-depth interviews were done in some family members who are close to the children. All information was analyzed thematically. This study shows that most participants had a low social economic status. Social distancing and locked down policies, caused children have more recreational screen time, sleeping. Job lost or less income during pandemic change in food purchases, causing children eating more energy dense and low protein quality food. In long periods, it may badly affect children’s growth, development and health. Thus, it is recommended to create some online or offline fun games based on physical movement in small rooms, also creating a standard menu that fulfills children’s protein requirements as well as taking essential amino acid or protein supplements besides multivitamin and mineral supplements. Keywords: children, food consumption, sedentary activity, screen time ABSTRAK Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang tidak dapat di prediksi di komunitas, termasuk perubahan gaya hidup balita yang dimungkinkan berkuensikuensi terhadap kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi gaya hidup balita serta yang melatarbelakangi gaya hidup tersebut disaat pandemi. Penelitian kualitatif ini dilakukan di Kecamatan Bogor Tengah, Jawa Barat, Indonesia pada bulan Oktober 2021. Diskusi kelompok terarah dilakukan pada 12 ibu dan 1 pengasuh balita yang ditentukan secara purposive dan dibagi menjadi 4 kelompok diskusi, setiap kelompok dipimpin oleh dua peneliti, dengan durasi 45-60 menit yang direkam menggunakan recorder dan transkripsi. Diskusi meliputi gaya hidup balita sebelum dan saat pandemi serta yang melatarbelakangi terjadi perubahan gaya hidup tersebut. Validasi informasi dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap anggota keluarga dari beberapa keluarga balita. Semua informasi dianalisis secara tematik. Hasil memperlihatkan bahwa kebanyakan peserta berada pada status sosial ekonomi rendah. Kebijakan PPKM dan jaga jarak sosial menyebabkan balita lebih banyak melakukan recreational screen time serta tidur. Kehilangan pekerjaan atau penghasilan yang menurun selama pandemi menyebabkan perubahan pembelian jenis pangan terutama pangan dengan kandungan tinggi protein, sehingga balita banyak menonsumsi makanan energy dense (energi tinggi) dan kualitas protein rendah.. Bila keadaan tersebut berlangsung lama, akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan balita. Dianjurkan untuk menciptakan permainan berdasarkan gerak tubuh yang menyenangkan secara online atau offline yang dapat dilakukan pada saat pandemi. Diperlukan menu standar untuk mencukupi kuantitas dan kualitas protein atau meminum supleman asam amino esensial (protein) selain suplemen multivitamin dan mineral. Kata kunci: balita, konsumsi makanan, aktivitas sedentary, screen time
FAKTOR RISIKO STUNTING BALITA 0-23 BULAN DI INDONESIA Sudikno Sudikno; Sugeng Eko; Irlina Raswanti Irawan; Aditianti Aditianti; Yekti Widodo; Nuzuliyati Nurhidayati; Ade Chandra Iwansyah
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 45 No. 2 (2022): PGM VOL 45 NO 2 TAHUN 2022
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v45i2.6466

Abstract

ABSTRACT The problem of stunting in children under five is still a health problem, especially in developing countries. This study aims to determine the risk factors associated with the nutritional status of children aged 0–23 months in Indonesia. This study uses data from Basic Health Research (Riskesdas) 2018. The research design is cross-sectional. The research sample is children aged 0-23 months in Indonesia. Stunting was analyzed as the dependent variable. The independent variables were gender, age group, region (rural/urban), father's education, mother's education, father's occupation, mother's occupation, number of household members, number of children under five, access to a health center, access to the hospital, access to health practitioner, infectious diseases (diarrhea, ARI), ownership of MCH handbook, birth weight, birth length, mother's height, father's BMI, mother's BMI, father's smoking habit, mother's smoking habit, place of delivery, waste disposal, and hand washing with soap (father/mother). The number of samples analyzed was 10,779 children under two years old. The results of the analysis showed that the prevalence of stunting in children aged 0-23 months was 28.9 percent. The prevalence of stunting in babies 0-11 months was 22.4 percent lower than the prevalence of stunting in toddlers 12-23 months (36.8%). The results of multivariate logistic regression analysis showed that the risk factors associated with stunting in children aged 0-23 months in Indonesia were boys, ages 12-23. months, LBW, birth length (<48 cm), and maternal height (<145 cm). Keywords: stunting, children aged 0-23 months, risk factors ABSTRAK Masalah stunting pada anak balita masih menjadi masalah kesehatan terutama di negara berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan status gizi balita usia 0–23 bulan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data Riskesdas 2018. Desain penelitian adalah cross-sectional. Sampel penelitian adalah balita berusia 0-23 bulan di Indonesia. Variabel yang dianalisis meliputi variabel terikat, yaitu status gizi stunting. Variabel bebas meliputi: jenis kelamin, kelompok umur, wilayah (perdesaan/perkotaan), pendidikan ayah, pendidikan ibu, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, jumlah anggota rumah tangga, jumlah balita, akses ke puskesmas, akses ke rumah sakit, akses ke praktek tenaga kesehatan, penyakit menular (diare, ISPA), kepemilikan buku KIA, berat lahir, panjang lahir, tinggi badan ibu, IMT ayah, IMT ibu, kebiasaan merokok ayah, kebiasaan merokok ibu, tempat persalinan, tempat sampah, dan cuci tangan pakai sabun (ayah/ibu). Jumlah sampel yang dianalisis 10.779 anak umur 0-23 bulan. Hasil analisis menunjukkan prevalensi stunting pada anak usia 0-23 bulan adalah 28,9 persen. Prevalensi stunting pada bayi 0-11 bulan sebesar 22,4 persen lebih kecil dibandingkan prevalensi stunting pada anak balita umur 12-23 bulan (36,8%). Hasil analisis regresi logistik multivariat menunjukkan bahwa faktor risiko yang berhubungan dengan stunting pada anak balita umur 0-23 bulan di Indonesia adalah jenis kelamin laki-laki, umur balita 12-23 bulan, BBLR, panjang lahir (<48 cm), dan tinggi badan ibu (<145 cm). Kata kunci: stunting, balita 0-23 bulan, faktor risiko