Tri Hananto
Sekolah Tinggi Teologi Pancasilacitta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

MODEL KEMARTIRAN DALAM PENGINJILAN RASUL PAULUS BERDASARKAN KISAH PARA RASUL TERHADAP KELOMPOK KABAR BAIK DI MALANG Tri Hananto; Erni M.C. Efruan
Missio Ecclesiae Vol. 10 No. 1 (2021): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v10i1.124

Abstract

Penginjilan merupakan tindakan pelaksanaan Amanat Agung. Penginjilan selalu berkaitan erat dengan kemartiran. Setiap anak-anak Tuhan yang terlibat dalam penginjilan harus selalu siap dengan dampak yang diterima baik itu kesulitan, tantangan, penderitaan ataupun kematian. Martir identik dengan saksi. Martir Kristus berkaitan dengan tindakan dalam menjadi saksi Kristus baik dalam pewartaan maupun dalam sikap sehari-hari. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif mengenai kemartiran yang dialami oleh Rasul Paulus. Paulus bukan hanya berbicara tentang berita Injil kasih karunia, tetapi juga mengalami dampak dari pemberitaan Injil itu sendiri, masuk penjara, dianiaya bahkan sampai mati. Jadi tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui kemartiran penginjilan Rasul Paulus.
Penerapan Teori Condito Sine Qua Non dalam Prinsip Apologetika Kristen John Abraham Christiaan; Didit Yuliantono Adi; Tri Hananto; Stefanus Dully; Jerimias Manuhutu
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 3, No 1 (2023): September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v3i1.164

Abstract

The idea of writing about this topic originated from observations on social media that several Christian apologists were entangled in the law due to alleged blasphemy cases and the spread of false information when defending the Christian faith. This study aims to find the rule of law's cause and effect in blasphemy, provide insight into the purpose of apologetics, and explain how apologetics does not violate legal or religious norms. The method used in thisresearch is a qualitative method that prioritizes literature studies, collects data through scientific journals, and shares news on social media. The findings suggest that apologetics is a way of defending the faith when it is attacked by others, and it is an obligation for Christians. Apologetics is gentle, non-arrogant, and biblical. The maximum criminal penalty for blasphemy cases is ten years, and there is no equal legal protection between religious minorities and majorities in the application of the "Conditio Sine Qua Non Principle", so to defend it is enough to reveal the truth of God's Word without attacking other people's religions. ABSTRAKIde penulisan topik ini berawal dari pengamatan dimedia sosial ada  beberapa apologet Kristen terjerat hukum akibat dugaan kasus penodaan agama dan penyebaran informasi bohong saat melakukan pembelaan terhadap iman Kristiani. Penelitian ini bertujuan menemukan aturan hukum sebab akibat dalam penodaan agama, memberikan wawasan dan  tujuan apologetika, bagaimana apologetika yang tidak melanggar norma  hukum dan norma agama. Metode yang digunakan pada  penelitian ini adalah metode kualitatif dengan mengutamakan studi kepustakaan, melakukan pengumpulan data melalui jurnal ilmiah, berita di media sosial. Hasil temuan mengemukakan; apologetika adalah suatu cara pembelaan iman yang dilakukan ketika iman Kristen diserang oleh Pihak lain, dan ini merupakan kewajiban bagi orang Kristen. Apologetika dilakukan dengan  lemah lembut, tidak sombong dan Alkitabiah. Sanksi  pidana  maksimal dari kasus penodaan agama adalah sepuluh tahun, dan belum adanya perlindungan hukum yang sama  antara minoritas dan mayoritas beragama dalam penerapan “Asas Conditio Sine Qua Non”, sehingga untuk melakukan pembelaan cukup mengungkap kebenaran Firman Tuhan tanpa menyerang agama orang lain. Kata Kunci : Apologetika, Iman dan Rasa Adil
Integritas Kepemimpinan Pastoral di Era Postmodern Menurut 2 Timotius 2:14-25 Hananto, Tri; Yuliantono Adi, Didit
Student Evangelical Journal Aiming At Theological Interpretation Vol 1 No 1: SEJATI (Student Evangelical Journal Aiming at Theological Interpretation) 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69668/sejati.v1i1.33

Abstract

The development of technology and information in the global era will have a major influence on human life. Modernist culture has become the choice of the wider community over conventional cultures. Sometimes society loses the social glue that has been the root of culture, which is replaced with the emergence of social media. Apart from that, the development of this technology also has a bad influence on moral ethics, norms and rules in society. However, this development also provides positive insight into the emergence of new leaders, especially leaders in the spiritual world or pastoral leaders who must maintain their integrity. The methodology in this writing uses an exposition approach by paying attention to the verses of God's word contained in 2 Timothy 2:14-25, to get practical application from the figure of a pastoral leader with integrity who keeps his life in accordance with the truth of God's word and by asking for the guidance of the Holy Spirit so that he can protect accountability which has a good influence in the postmodern world.
Penerapan Teori Condito Sine Qua Non dalam Prinsip Apologetika Kristen John Abraham Christiaan; Didit Yuliantono Adi; Tri Hananto; Stefanus Dully; Jerimias Manuhutu
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 3 No. 1 (2023): September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v3i1.164

Abstract

The idea of writing about this topic originated from observations on social media that several Christian apologists were entangled in the law due to alleged blasphemy cases and the spread of false information when defending the Christian faith. This study aims to find the rule of law's cause and effect in blasphemy, provide insight into the purpose of apologetics, and explain how apologetics does not violate legal or religious norms. The method used in thisresearch is a qualitative method that prioritizes literature studies, collects data through scientific journals, and shares news on social media. The findings suggest that apologetics is a way of defending the faith when it is attacked by others, and it is an obligation for Christians. Apologetics is gentle, non-arrogant, and biblical. The maximum criminal penalty for blasphemy cases is ten years, and there is no equal legal protection between religious minorities and majorities in the application of the "Conditio Sine Qua Non Principle", so to defend it is enough to reveal the truth of God's Word without attacking other people's religions. ABSTRAKIde penulisan topik ini berawal dari pengamatan dimedia sosial ada  beberapa apologet Kristen terjerat hukum akibat dugaan kasus penodaan agama dan penyebaran informasi bohong saat melakukan pembelaan terhadap iman Kristiani. Penelitian ini bertujuan menemukan aturan hukum sebab akibat dalam penodaan agama, memberikan wawasan dan  tujuan apologetika, bagaimana apologetika yang tidak melanggar norma  hukum dan norma agama. Metode yang digunakan pada  penelitian ini adalah metode kualitatif dengan mengutamakan studi kepustakaan, melakukan pengumpulan data melalui jurnal ilmiah, berita di media sosial. Hasil temuan mengemukakan; apologetika adalah suatu cara pembelaan iman yang dilakukan ketika iman Kristen diserang oleh Pihak lain, dan ini merupakan kewajiban bagi orang Kristen. Apologetika dilakukan dengan  lemah lembut, tidak sombong dan Alkitabiah. Sanksi  pidana  maksimal dari kasus penodaan agama adalah sepuluh tahun, dan belum adanya perlindungan hukum yang sama  antara minoritas dan mayoritas beragama dalam penerapan “Asas Conditio Sine Qua Non”, sehingga untuk melakukan pembelaan cukup mengungkap kebenaran Firman Tuhan tanpa menyerang agama orang lain. Kata Kunci : Apologetika, Iman dan Rasa Adil