Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Linguistic Activism in Short Films on Social Media as an Effort to Promote the Javanese Language in The Digital Era Tri Santoso; Hari Kusmanto; Muhammad Syahriandi Adhantoro; Dartim; Duwi Saputro; Nindy Muji Utami
Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya Vol. 7 No. 01 (2026)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/tabasa.v7i01.14467

Abstract

The growth of YouTube has created new spaces for the use of the Javanese language as a cultural and political practice. In this context, Javanese emerges as a form of language activism in the digital sphere. This study aims to analyze the forms of Javanese language activism in short films on YouTube. This research employs a qualitative approach. The data sources consist of 10 short films published on YouTube. Data were collected through documentation, transcription, and note-taking techniques. The data analysis follows an interactive model comprising four steps: data collection, data condensation, data display, and conclusion drawing.The findings reveal 14 forms of language activism, including: (1) the use of local language, (2) translanguaging, (3) language as social criticism, (4) language as a medium for health advocacy, (5) strengthening identity and social cohesion, (6) humor, (7) delegitimization of opposing discourse, (8) ritual language, (9) historical narratives, (10) pedagogical activism, (11) language as a tool for mobilization, (12) economic language, (13) criticism of technology use, and (14) symbolic reframing. These findings indicate that social media has become a new ecology for regional language activism. Moreover, it serves as a socio-political arena that enables Javanese to function as an instrument of advocacy, resistance, and identity formation. This study contributes to the development of language activism in digital spaces and offers implications for language preservation policies.   Perkembangan YouTube membuka ruang baru bagi penggunaan bahasa Jawa sebagai praktik kultural dan politis. Dalam konteks ini, bahasa Jawa hadir sebagai bentuk aktivisme di ruang digital. Studi ini bertujuan menganalisis bentuk-bentuk aktivisme bahasa Jawa dalam film pendek di YouTube. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah 10 film pendek yang dipublikasikan di YouTube. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan metode dokumentasi, transkripsi, dan dilanjutkan teknik catat. Analisis data penelitian ini menggunakan metode interaktif yang meliputi empat langkah, yakni pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian ini menemukan 14 bentuk aktivisme bahasa. Kelima belas bentuk aktivisme tersebut meliputi: 1) penggunaan bahasa daerah, 2) translanguaging, 3) bahasa sebagai kritik sosial, 4) bahasa sebagai medium advokasi kesehatan, 5) penguatan identitas dan kohesi sosial, 6) humor, 7) delegetimasi wacana lawan, 8) bahasa ritual, 9) narasi sejarah, 10) aktivisme pedagogis, 11) bahasa sebagai alat mobilisasi, 12) bahasa ekonomi, 13) kritik terhadap penggunaan teknologi, dan 14) reframing simbol. Temuan ini menunjukkan bahwa media sosial menjadi ekologi baru dalam upaya aktivisme bahasa daerah. Selain itu, menjadi arena politik-kultural yang memungkinkan bahasa Jawa sebagai instrumen advokasi, perlawanan, dan penguatan identitas. Studi ini berimplikasi dalam pengembangan aktivisme bahasa di ruang digital dan memberikan kontribusi pada kebijakan pelestarian bahasa.
Kebijakan Pemerintah dalam Upaya Pemartabatan Bahasa Indonesia: Strategi Memperkuat Identitas Bangsa Tri Santoso; Hari Kusmanto; Meydika Triyan Kusuma; Nindy Muji Utami
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 8, No 1 (2026): JANUARI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v8i1.7668

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan kebijakan apa saja yang dilakukan oleh pemerintah dalam upaya pemertahanan dan pemartabatan bahasa Indonesia menuju pengakuan oleh UNESCO dan (2) mendeskripsikan kebijakan apa saja yang dilakukan oleh pemerintah dalam upaya pemertahanan dan pemartabatan bahasa Indonesia pasca bahasa Indonesia diakui oleh UNESCO. Metode penelitian ini termasuk deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini berupa perencanaan kebijakan pemerintah di JDIH dari RPJP, RPJM, hingga Rencana Kerja Pemerintah tahunan yang mendukung upaya pemartabatan bahasa Indonesia. Sumber data dalam penelitian ini berupa kebijakan pemerintah dalam upaya pemartabatan bahasa Indonesia. Data-data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan metode dokumentasi, simak, dan dilanjutkan dengan teknik catat. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan 1) sebelum diakui UNESCO, kebijakan bahasa Indonesia berfokus pada (a) penguatan statusnya sebagai bahasa resmi negara dan alat komunikasi nasional, (b) pemerintah juga menginisiasi berbagai program untuk meningkatkan daya saing bahasa Indonesia di tingkat internasional, seperti pengembangan laboratorium kebhinekaan bahasa, diplomasi budaya, serta pengajaran BIPA, (c) upaya perlindungan terhadap bahasa daerah juga mulai diperkuat dengan program revitalisasi, peningkatan jumlah penutur muda, serta pengembangan pendidikan sastra di berbagai komunitas. 2) Setelah diakui UNESCO, kebijakan bahasa mengalami penguatan dalam cakupan yang lebih luas. Fokus utama bergeser ke arah (a) penginternasionalan bahasa Indonesia, (b) penguatan literasi kebahasaan dan kesastraan, dan (c) pelestarian bahasa daerah secara lebih sistematis. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah terhadap perlindungan dan pengembangan bahasa serta sastra juga semakin memperkuat identitas bangsa dalam kebijakan terbaru. Implikasi penelitian ini bahasa Indonesia setelah pengakuan UNESCO menunjukkkan arah kebijakan pemertahanan dan pemartabatan bahasa menuju internasionalisasi, penguatan litrerasi, dan penguatan identitas bahasa daerah sebagai identitas bangsa.
Peningkatan Kapasitas Dakwah Pemuda Muhammadiyah Gondangrejo Melalui Workshop Konten Dakwah Berkemajuan Tri Santoso; Hari Kusmanto; Duwi Saputro; Atiqa Sabardila; Muhammad Syahriandi Adhantoro; Dartim Dartim; Meydika Triyan Kusuma; Nindy Muji Utami; Lufiana Febi Maharani; Presillia Agustina; Defvy Satya Buana
Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol. 5 No. 2 (2026): Mei
Publisher : Alesha Media Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59025/wb04wd88

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya kapasitas Pemuda Muhammadiyah dalam mengembangkan dakwah yang adaptif, kreatif, dan relevan dengan perkembangan media digital. Padahal, generasi muda memiliki potensi strategis dalam menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat dan berkemajuan melalui platform digital. Oleh karena itu, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dakwah Pemuda Muhammadiyah Gondangrejo melalui workshop konten dakwah berkelanjutan. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan pada bulan Januari 2026 di Gondangrejo dengan melibatkan 30 anggota Pemuda Muhammadiyah sebagai sasaran utama, dengan kriteria inklusi yaitu anggota aktif dan memiliki minat dalam bidang dakwah digital. Kegiatan dilaksanakan melalui empat tahap, yaitu: (1) tahap pengenalan dan perencanaan bersama, (2) pelaksanaan pelatihan dan praktik produksi konten dakwah, (3) pendampingan dan refleksi lapangan, serta (4) evaluasi dan tindak lanjut berkelanjutan. Variabel yang dievaluasi adalah kreativitas dalam produksi konten dakwah. Instrumen yang digunakan berupa observasi, kuesioner, dan dokumentasi kegiatan, dengan analisis data secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif sederhana. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kreativitas dalam menghasilkan konten dakwah yang edukatif dan inspiratif. Selain itu, terbentuk jejaring dakwah digital sebagai bentuk keberlanjutan program. Kegiatan ini efektif dalam meningkatkan kapasitas dakwah digital Pemuda Muhammadiyah Gondangrejo. Kegiatan ini perlunya mendapat penguatan pendampingan berkelanjutan, pengembangan platform dakwah digital yang terintegrasi, serta replikasi program pada komunitas pemuda lainnya untuk memperluas dampak pengabdian