Theresa Dwi Kurnia
Program Studi Agroteknologi, Universitas Kristen Satya Wacana

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EDUKASI BUDIDAYA JAMUR TIRAM SEBAGAI MEDIA MENGURANGI PENGGUNAAN GAWAI PADA ANAK Ruth Meike Jayanti; Theresa Dwi Kurnia; Thomas Yoga Prasetya Susilo; Tathe Surya Ananda; Yohanes Hasiholan Parhusip; Cantika Lidyawati; Syahrul Neeza Aryana Nugroho
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 1 (2025): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i1.28244

Abstract

Abstrak: Penggunaan gawai yang berlebih pada anak saat ini menjadi masalah yang semakin umum di era digital ini. Fenomena kecanduan gawai pada anak saat ini berada pada situasi mengkhawatirkan. Mengurangi waktu layar, menetapkan batasan penggunaan, serta mendorong kegiatan alternatif dan lebih produktif dapat membantu mengatasi kecanduan. Edukasi tentang jamur tiram dapat menjadi solusi efektif untuk mengurangi ketergantungan anak pada gawai. Dengan mempelajari budidaya dan merawat jamur tiram, anak-anak dapat terlibat dalam kegiatan praktis dan mendidik sekaligus menyenangkan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan edukasi kepada anak tentang budidaya jamur tiram sebagai media dalam upaya mengurangi penggunaan gawai pada anak. Peserta kegiatan ini adalah siswa kelas 4 di sekolah dasar berjumlah 48 siswa. Metode yang digunakan berupa edukasi melalui penyuluhan, praktik pendampingan dan evaluasi. Hasil evaluasi dengan kuisioner sebelum dan sesudah kegiatan edukasi menunjukkan peningkatan pengetahuan tentang dampak penggunaan gawai berlebih, pengetahuan dan keterampilan budidaya dan perawatan jamur tiram. Nilai pengingkatan berkisar antara 23% sampai 100%.Abstract: Excessive use of gadgets in children is an increasingly common problem in this digital era. The phenomenon of gadget addiction in children is currently in an alarming situation. Reducing screen time, setting usage limits, and encouraging alternative and more productive activities can help overcome addiction. Education about oyster mushrooms can be an effective solution to reduce children's dependence on gadgets. By learning to cultivate and care for oyster mushrooms, children can be involved in practical, educational, and fun activities. The purpose of this activity is to provide education to children about oyster mushroom cultivation as a medium to reduce gadget use in children. Participants in this activity were 48 students in grade 4 at elementary school. The methods used were education through extension, mentoring practices, and evaluation. The evaluation results with a questionnaire before and after the educational activity showed an increase in knowledge about the impact of excessive gadget use, knowledge, and skills in oyster mushroom cultivation and care. The increase in value ranged from 23% to 100%.
PEMBUATAN PUPUK ORGANIK CAIR DARI AMPAS KOPI DAN KULIT BAWANG MERAH SEBAGAI PUPUK ORGANIK DAN PESTISIDA Theresa Dwi Kurnia; Stefanus Yongki W. P.; Vito Ardian Hananto; Prengki Sadiki; Alya Ovy Rachmawati
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.39717

Abstract

Abstrak: Petani di salah satu desa mitra masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap pupuk kimia, rendahnya pemanfaatan limbah organik rumah tangga, serta menghadapi masalah serangan hama uret dan kurangnya pemahaman mengenai kondisi pH tanah yang menghambat optimalisasi unsur hara. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan masyarakat mengenai pengelolaan kesuburan tanah serta pemanfaatan limbah ampas kopi dan kulit bawang merah sebagai pupuk organik cair (POC) dan pestisida nabati. Program dilaksanakan melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan metode partisipatif yang meliputi penyuluhan, pelatihan pembuatan POC, pengukuran pH tanah secara langsung, dan aplikasi pada lahan demplot hortikultura. Mitra kegiatan adalah 20 anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) dan lebih dari 50 petani di desa mitra tersebut. Evaluasi dilakukan menggunakan observasi langsung serta analisis pre-test dan post-test menggunakan instrumen kuesioner sebanyak 8 butir soal. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pemahaman masyarakat, di mana rata-rata skor jawaban benar meningkat dari 6,3 menjadi 7,35. Selain itu, aplikasi POC pada lahan demplot memberikan hasil positif dengan tingkat keberhasilan hidup bibit mencapai 90%, jauh lebih tinggi dibandingkan perlakuan tanpa POC yang hanya mencapai 55%.Abstract: Farmers in one of the partner villages still exhibit a high dependency on chemical fertilizers, low utilization of household organic waste, and face challenges such as uret (white grub) pest infestations and a lack of understanding regarding soil pH conditions, which hinders nutrient optimization. This activity aims to enhance the community's knowledge and skills in managing soil fertility and utilizing coffee grounds and shallot skin waste as liquid organic fertilizer (LOF) and botanical pesticides. The program was implemented through a Student Community Service (Kuliah Kerja Nyata / KKN) scheme using a participatory method that included counseling, LOF production training, direct soil pH measurement, and application on horticulture demonstration plots. The partners for this activity consisted of 20 members of the Women Farmers Group (KWT) and more than 50 local farmers. Evaluation was conducted through direct observation as well as pre-test and post-test analyses using an 8-item questionnaire instrument. The results of the activity showed a significant increase in community understanding, with the average score of correct answers rising from 6.3 to 7.35. Furthermore, the application of LOF on the demonstration plots yielded positive results, achieving a seedling survival rate of 90%, which is substantially higher than the treatment without LOF, which only reached 55%.