Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pola Komunikasi Divisi Government and Community Relations Dalam Mengelola Hubungan Strategis Dengan Instansi Pemerintah (Studi Kasus: PT Perusahaan Gas Negara Tbk) Suci Akbaria; Halomoan Harahap
Jurnal Impresi Indonesia Vol. 5 No. 8 (2026): Jurnal Impresi Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jii.v5i8.8041

Abstract

Divisi Government and Community Relations (GCR) PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) memiliki peran strategis sebagai penghubung antara perusahaan dan instansi pemerintah, terutama mengingat PGN beroperasi sebagai badan usaha milik negara di sektor energi yang sarat regulasi dan kepentingan publik. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola komunikasi Divisi GCR PT PGN dalam membangun hubungan strategis dengan instansi pemerintah, serta mengidentifikasi pola komunikasi formal dan informal dalam koordinasi dan penyelesaian masalah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus eksplanatori dalam paradigma konstruktivistik. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara mendalam dengan empat informan yang dipilih secara purposif—terdiri dari dua informan kunci dari internal PGN dan dua informan pendukung dari instansi pemerintah—serta dilengkapi studi literatur dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña, sementara keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber serta ketekunan pengamatan peneliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi Divisi GCR mencerminkan tiga pendekatan dalam Teori Stakeholder Freeman: deskriptif, melalui komunikasi sistematis berbasis koordinasi internal dan identifikasi pemangku kepentingan; instrumental, melalui pemanfaatan komunikasi untuk mempercepat administrasi dan mengawal kebijakan agar selaras dengan kepentingan perusahaan; serta normatif, melalui komunikasi yang berlandaskan profesionalisme, transparansi, dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Selain itu, komunikasi formal dan informal ditemukan saling melengkapi, di mana jalur formal menjaga akuntabilitas administratif sementara jalur informal mempercepat penyelesaian masalah dan memperkuat kepercayaan antarpihak, sehingga mendukung efektivitas hubungan kelembagaan. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis melalui penerapan Teori Stakeholder Freeman pada konteks government relations, serta kontribusi praktis bagi pengembangan strategi komunikasi kelembagaan pada badan usaha milik negara di sektor energi.
Komodifikasi Popularitas Selebriti pada Film Dokumenter “One Direction: This Is Us”: Analisis Semiotika Roland Barthes Hanifah Atha Lesmana; Dani Vardiansyah; Safiani A. Faaroek; Halomoan Harahap
Jurnal Ilmu Komunikasi, Administrasi Publik dan Kebijakan Negara Vol. 3 No. 4 (2026): Oktober : Jurnal Ilmu Komunikasi, Administrasi Publik dan Kebijakan Negara
Publisher : Asosiasi Peneliti Dan Pengajar Ilmu Sosial Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/komunikasi.v3i4.1205

Abstract

Celebrity popularity is an appealing commodity for filmmakers, turned into a creative idea that generates profit for the global entertainment industry while unconsciously trapping fans in an illusion of emotional closeness with their idols. This study aims to uncover the commodification practices surrounding the popularity of the boyband One Direction in the documentary film One Direction: This Is Us. The research employs a qualitative approach using Roland Barthes' semiotic analysis through three levels of signification, namely denotation, connotation, and myth, applied to eight purposively selected key scenes, with data collected through observation, documentation, and literature review. The findings show that the popularity of the five members becomes a magnet for the industry to generate profit, where their vulnerability, brotherhood, and personal lives are packaged as spectacle selling an illusion of authenticity through three modes of commodification: content, audience, and labor. Behind a documentary format that appears honest and unfiltered, the film conceals the exploitation of the members' energy, time, and private space. The study concludes that celebrity popularity, with all its personal aspects, brings adverse effects, both for the exploited members and for fans driven to normalize consumption as a form of seemingly natural emotional support.