Arbie Sianipar
Puslitbang Transportasi Jalan dan Perkeretaapian

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENELITIAN TEKNIS PEMANFAATAN WIRE ROPE SEBAGAI PERANGKAT PENGAMAN LALU LINTAS JALAN Arbie Sianipar
Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 19 No. 2 (2017): Jurnal Penelitian Transportasi Darat
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Formerly by Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/jptd.v19i2.608

Abstract

Transportasi jalan saat ini sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat, terutama guna menunjang kegiatan sehari-hari. Terkait dengan hal tersebut, aspek keselamatan dalam penyelenggaraan transportasi jalan harus menjadi salah satu prioritas untuk diperhatikan. Dalam menerapkan Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas diantaranya dengan memasang fasilitas keselamatan (perlengkapan) lalu lintas dan angkutan jalan yang berbentuk antara lain rambu, marka, alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL), delineator, road hump, guardrail, dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk memberi masukan kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Darat dalam menyusun kebijakan terkait penggunaan wirerope sebagai perangkat pengaman lalu lintas jalan  sepanjang penggunaan wirerope sebagai perangkat pengaman jalan di Indonesia belum diatur mengenai spesifikasi teknis dan karakteristiknya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, karena penelitian ini menitik beratkan pada masalah pada komponen wirerope dan kehandalannya. Adapun pengumpulan data primer diperoleh dengan cara mengadakan pengamatan dan survei langsung di lapangan (di ruas jalan tol Cikopo-Palimanan (Cipali) dan jalan tol Jakarta-Merak) sebagai pembanding dengan data sekunder, sedangkan data sekunder (spesifikasi teknis wirerope) diperoleh dari Trinity Industies INC. Dari data kecelakaan yang diperoleh dari operator tol dapat dilihat trend penurunan dalam jumlah korban kecelakaan di median terutama pada jumlah korban meninggal dunia, tercatat 34 korban meninggal dunia pada periode 2006-2008 sebelum implementasi wire rope, sementara itu pada periode 2009 hingga Juli tahun 2012 ini hanya terdapat 2 korban meninggal dunia bukan pada wire rope impact. Hal ini sudah cukup membuktikan keberhasilan penurunan Tingkat fatalitas kecelakaan selama 3.5 tahun implementasi dan pengembangan wire rope di jalan Tol Tangerang-Merak. Berdasarkan ketentuan peraturan perundangan tentang juknis perlengkapan jalan, baru hanya mengatur ketentuan tentang pagar pengaman jalan yang berbahan lempengan besi guardrail. Seiring dengan perkembangan teknologi ditemukan bahan/media pagar pengaman jalan lainnya selain guardrail, yaitu wirerope. Berdasarkan hasil analisis, wirerope ini memiliki keunggulan defleksi yang kecil sehingga mampu meminimalisir penyimpangan arah kendaraan, selain itu juga bahan material wire rope dapat menahan beban kendaraan akibat kecelakaan lalu lintas. Ketentuan-ketentuan teknis tentang pengunaan wire rope sebagai perangkat keselamatan jalan belum diatur/dimuat pada peraturan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat.
Kajian Kebutuhan Terminal Tipe A di Tanjung Selor Provinsi Kalimantan Utara Arbie Sianipar
Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 23 No. 2 (2021): Jurnal Penelitian Transportasi Darat
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Formerly by Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/jptd.v23i2.1751

Abstract

ABSTRACTNeeds Assessment of Type A Terminal in Tanjung Selor North Kalimantan Province: In PM No. 132 of 2015 concerning the Operation of Road Transport Passenger Terminals Article 8, passenger terminals according to their service roles are grouped into types consisting of Types A, B, and C. Where Type A serves ALBN/AKAP/ADKP/Angkot/Angdes. The city of Tanjung Selor as the capital of North Kalimantan Province which has an important and strategic position and role in regional and national development does not yet have a Type A Terminal. The research purpose is to formulate recommendations for the level of need for type A terminals in North Kalimantan Province. The research method used in this research is descriptive quantitative by conducting a survey of the origin of the purpose of the trip. Based on analysis & discussion The number of Tanjung Selor-Tanjung Redep-Samarinda-Balikpapan trips is 169 trips and vice versa 148 trips, so in this case it requires a fleet with the Tanjung Selor-Tanjung Redep-Samarinda-Balikpapan route as many as 15 units (8 from Tanjung Selor & Balikpakan 7 units). The need for a Type A Terminal in North Kalimantan, especially in Bulungan Regency, is very urgent, currently the Tanjung Selor - Tanjung Redep Damri bus is served from the market location because North Kalimantan does not yet have a Terminal and the Type A Terminal Class for Tanjung Selor City based on the results of the analysis is class 3. There needs to be compatibility between the AKDP & Angkot/Angdes Routes as the connectivity of the Type A Terminal. Need a stimulus from the Government & Local Government so that more investors invest in the AKAP sector so that the level of connectivity in North Kalimantan increases. Directorate General of Land Transportation to immediately make FS & its derivatives so that the implementation of the Type A Terminal construction can be realized immediately.Keywords: Bus Station Type A; AKAP Transportation; Accessibility.ABSTRAKDalam PM No 132 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Terminal Penumpang Angkutan Jalan Pasal 8, terminal penumpang menurut peran pelayanannya dikelompokkan dalam tipe yang terdiri atas Tipe A, B, dan C. Dimana Tipe A melayani ALBN/AKAP/ADKP/Angkot/Angdes. Kota Tanjung Selor sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Utara yang memiliki posisi dan peranan yang penting dan strategis dalam pembangunan daerah maupun nasional belum memiliki Terminal Tipe A. Tujuan penelitian ini adalah tersusunnya rekomendasi tingkat kebutuhan terminal tipe A di Provinsi Kalimantan Utara. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan melakukan survei asal tujuan perjalanan. Berdasarkan analisis & pembahasan jumlah perjalanan Tanjung Selor-Tanjung Redep-Samarinda-Balikpapan sebanyak 169 perjalanan begitu juga sebaliknya 148 perjalanan, maka dalam hal ini membutuhkan armada dengan trayek Tanjung Selor-Tanjung Redep-Samarinda-Balikpapan sebanyak 15 unit (8 dari Tanjung Selor & Balikpakan 7 unit). Kebutuhan Terminal Tipe A di Kalimantan Utara khususnya di Kabupaten Bulungan sudah sangat mendesak. Saat ini bus Damri Tanjung Selor – Tanjung Redep dilayani dari lokasi pasar karena di Kalimantan Utara belum memiliki terminal dan kelas terminal Tipe A untuk Kota Tanjung Selor berdasarkan hasil analisis adalah Kelas 3. Perlu kesesuaian trayek AKDP & Angkot/Angdes sebagai konektivitas Terminal Tipe A tersebut. Perlu stimulus dari Pemerintah Pusat & Pemerintah Setempat agar banyak investor yang berinvestasi di bidang AKAP sehingga tingkat konektivitas Kalimantan Utara meningkat; Ditjen Perhubungan Darat agar segera membuat FS & turunannya agar pelaksanaan pembangunan Terminal Tipe A segera direalisasikan.Kata kunci:Terminal Bus Tipe A; Angkutan AKAP; Aksesibilitas.
Konfigurasi dan Penempatan Alat Ukur Beban untuk Penentuan Nilai Track Access Charge Berbasis Data Realisasi Perjalanan Kereta Api Yul Y. Nazaruddin; Arbie Sianipar; Nadana A Aziz; Jonathan Chandra; Rahmat Maulana; Tua A. Tamba; Sigit P. Santosa
Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 23 No. 2 (2021): Jurnal Penelitian Transportasi Darat
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Formerly by Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/jptd.v23i2.1926

Abstract

ABSTRACTConfiguration and Placement of Load Measuring Instruments for Determination of Track Access Charge Values Based on Train Travel Realization Data: Based on the regulation of the Directorate General of Railways of the Ministry of Transportation year 2015, the cost element that is considered as non-tax revenue comes from the utilization of government’s railway infrastructures and is known as the Track Access Charge (TAC). The currently used method for the determination of the TAC value often causes debates as it is considered not based on the actual utilization of the railway infrastructure but rather dependent on maintenance costs of the railway infrastructure that are spent by the government. This paper reports the results of a research study which was conducted to evaluate methods that can be used to evaluate the TAC value based on measurement data of railway operational realization in the field. Based on the historical data of train operation, this research design a configuration of weigh-in-motion (WIM) system which can calculates the gross tonnage and travel distance of all trains over a predetermined time period. This research also determines 20 train stations that spread across eight operational regions across the Java island as the primary locations for WIM system placements to help determines the TAC value that is more realistic and effective.Keywords: railway management; track access charge; weigh-in-motion; sensor placement.ABSTRAKBerdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Perkeretaapian di Kementerian Perhubungan tahun 2015, komponen biaya yang diperhitungkan untuk penerimaan negara bukan pajak (PNBP)berasal dari penggunaan prasarana perkeretaapian milik negara atau sering disebut Track Access Charge (TAC). Penentuan nilai TAC yang digunakan saat ini masih sering menimbulkan perdebatan karena dianggap tidak didasarkan pada tingkat penggunaan prasarana, melainkan pada biaya pengelolaan/pemeliharaan seluruh prasarana perkeretaapian yang dialokasikan pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi terkait penentuan nilai TAC berbasis data pengukuran realisasi aktual pengoperasian kereta api (KA) di lapangan. Berdasarkan data historis operasional KA yang tersedia serta informasi yang dibutuhkan dalam penentuan TAC, penelitian ini merancang konfigurasi sistem weigh-in-motion (WIM) yang dapat menghitung tonase dan jarak tempuh operasional seluruh KA dalam rentang waktu tertentu yang diinginkan. Penelitian ini juga menentukan 20 stasiun KA yang tersebar di delapan daerah operasional KA di Pulau Jawa sebagai lokasi penempatan sistem WIM untuk penentuan nilai TAC yang lebih realistis dan efektif.Kata Kunci: manajemen perkeretaapian, track access charge; weigh-in-motion; penempatan sensor.