ABSTRACT Critical thinking is an essential competency that should be developed in Islamic Religious Education (PAI). However, previous studies have shown that students' critical thinking skills remain relatively low because classroom instruction is often teacher-centered and emphasizes memorization rather than analysis and problem-solving. This condition highlights the need for learning models that actively engage students in developing critical thinking skills. This study aimed to analyze the effectiveness of the QODE (Questioning, Organizing, Doing, Evaluating) learning model in improving students' critical thinking skills in Islamic Religious Education at SMK PGRI 4 Bandar Lampung. The study employed a quantitative approach using a quasi-experimental method with a Posttest-Only Control Group Design. The sample consisted of 36 students, including 18 students in the experimental class and 18 students in the control class. Data were collected through an essay-based critical thinking test that had met validity and reliability requirements and were analyzed using an independent samples t-test after fulfilling the assumptions of normality and homogeneity. The results indicated that the QODE learning model had no statistically significant effect on students' critical thinking skills, with a significance value of 0.419 (> 0.05). Nevertheless, the mean critical thinking score of the experimental class was higher than that of the control class (insert the actual mean scores, e.g., 78.44 and 74.11). These findings indicate that the QODE learning model has not yet been proven effective in significantly improving students' critical thinking skills in Islamic Religious Education within the context of this study. Therefore, its implementation should be supported by students' readiness, sustained instructional practices, and conducive learning conditions to maximize its potential. ABSTRAK Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu kompetensi esensial dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik masih tergolong rendah karena pembelajaran cenderung berpusat pada guru dan lebih menekankan aspek hafalan dibandingkan analisis serta pemecahan masalah. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penerapan model pembelajaran yang mampu mengoptimalkan keterlibatan peserta didik dalam proses berpikir kritis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas model pembelajaran QODE (Questioning, Organizing, Doing, Evaluating) terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik pada mata pelajaran PAI di SMK PGRI 4 Bandar Lampung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi experiment dan desain Posttest Only Control Group Design. Sampel penelitian berjumlah 36 peserta didik yang terdiri atas 18 peserta didik pada kelas eksperimen dan 18 peserta didik pada kelas kontrol. Data dikumpulkan melalui tes esai kemampuan berpikir kritis yang telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis menggunakan uji-t setelah memenuhi asumsi normalitas dan homogenitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran QODE tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik dengan nilai signifikansi sebesar 0,419 (>0,05). Meskipun demikian, rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (tambahkan nilai rata-rata sesuai hasil penelitian, misalnya: 78,44 dan 74,11). Temuan ini menunjukkan bahwa model QODE belum memberikan peningkatan yang signifikan secara statistik terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik pada pembelajaran PAI dalam konteks penelitian ini. Oleh karena itu, implementasi model QODE perlu didukung oleh kesiapan peserta didik, penerapan yang berkelanjutan, serta kondisi pembelajaran yang kondusif agar potensi model tersebut dapat dioptimalkan.