Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Synthesis N1-Tersier-Butilteobromin from Teobromin and Tersier-Butylbromides Husein, Sri Gustini; Zainuddin, Achmad; Hoeruman, Sani
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 5, No 3 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.687 KB) | DOI: 10.15416/ijpst.v5i3.17931

Abstract

Xantine derivatives are known to have some pharmacological activity, such as a bronchodilator. The substitution on atoms N1 xantine can improve the activity and selectivity as a tracheaspasm. The purpose of this research was to investigate the influence of concentration sodium hydroxide in sodium acetate as solvent used on the production yield of N1-tert-butilteobromin. The result of the synthesis was isolated using chloroform and purified with the preparative thin layer chromatography. The molecule structure of N1-tert-butilteobromin was confirmed using ultraviolet and infrared spectrophotometry. The result showed that sodium hydroxide concentration could effect the results of yield. The yields of 4%, 8%, and 12% sodium hydroxide concentration were 3.7% (0.074 g), 7.2% (0.144 g), and 1.3% (0.026 g), respectively.Keywords: N1-tert-butylteobromin, sodium hydroxide, tert-butylbromide, theobromine
PEMANFAATAN MESOPORI SILIKA UNTUK PEMISAHAN SELEKTIF SENYAWA PADA TEH HITAM (Camelia sinensis L.) Husein, Sri Gustini; Sundalian, Melvia
JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 4 No 1 (2017): Jurnal Farmasi Galenika Volume 4 No 1, 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.484 KB)

Abstract

Teh (Camellia sinensis [L.] O. Kuntze) merupakan bahan minuman  kedua yang paling  banyak diminati di dunia setelah air mineral. Pengembangan  metode isolasi  senyawa  metabolit  sekunder teh hitam perlu menjadi perhatian mengingat potensi dan manfaatnya. Salah satu metode yang dapat pilih yaitu dengan menggunakan material mesopori. Pada penelitian ini mesopori dibuat dari campuran CTAB (Cetyl Trimetil Amonium Bromide), etanol absolut, ammonium hidroksida, asam borat, dan TEOS (Tetraethyl Orthosilicate) yang karakterisasi menggunakan instrument Scanning Electron Microscopic, Transmition Electron Microscopic, dan  Fourier Transform Infrared. Selain itu, mesopori silika juga dilakukan penjerapan terhadap ekstrak teh hitam  yang bertujuan mengisolasi senyawa metabolit sekunder teh hitam, salah satunya kuersetin. Pemastian kadar kuersetin dilakukan dengan menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Hasil karakterisasi menunjukan bahwa mesopori silika yang dibuat memiliki partikel dengan diameter antara 10-20 nm dan bersifat amorf. Berdasarkan proses penjerapan mesopori terhadap ekstrak hitam menghasilkan fraksi yang memiliki kadar kuersetin sebesar 0,8753 ppm. Mesopori silika dapat dikatakan memiliki kemampuan untuk menjerap beberapa metabolit sekunder  teh hitam, walaupun belum dapat diaplikasikan proses permurnian isolat.
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI NATRIUM KURKUMIN Winingsih, Wiwin; Husein, Sri Gustini; Sundalian, Melvia
JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 5 No 1 (2018): Jurnal Farmasi Galenika Volume 5 No. 1, 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.604 KB)

Abstract

Kunyit (Curcuma domestica L.) termasuk family Zingiberaceae yang banyak terdapat di daerah tropis dan subtropis termasuk Indonesia. Kunyit telah banyak digunakan sebagai pewarna makanan, penambah rasa, dan obat tradisional. Peningkatan kelarutan kurkumin telah terbukti dapat meningkatkan bioavaibilitas dan juga efek farmakologinya. Pembuatan garam kurkumin larut air dilakukan dengan cara reaksi penggaraman dengan menggunakan natrium metoksida sehingga menghasilkan natrium kurkumin yang diharapkan dapat meningkat kelarutannya. Selain itu pada penelitian ini juga dilakukan karakterisasi garam kurkumin dengan spektrofotometri UV-Vis, FTIR, LC-MS, HPLC, dan KLT. Garam natrium Kurkumin dengan perbandingan molnatrium : kurkumin ( 1:1 ) dapat meningkatkan kelarutan kurkumin dalam air sebesar 620 kali. Hasil karakteristik garam kurkumindengan spektrofotometri menunjukann adanya perubahan  panjang gelombang maksimum (λ maks) dari 450 nm menjadi 350 nm. Garam natrium kurkumin menunjukkan adanya substitusi atom H oleh natrium yang mengakibatkan turunnya intensitas puncak pada daerah 3500-3000 cm-1. Hasil ujikarakteristik dengan KLT garam kurkumin dan kurkumin memiliki sedikit perbedaan nilai Rf. Garam natrium kurkumin dapat dibuat dengan mereaksikan natrium metoksida dan kurkumin.
Synthesis N1-Tersier-Butilteobromin from Teobromin and Tersier-Butylbromides Sri Gustini Husein; Achmad Zainuddin; Sani Hoeruman
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 5, No 3 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.687 KB) | DOI: 10.24198/ijpst.v5i3.17931

Abstract

Xantine derivatives are known to have some pharmacological activity, such as a bronchodilator. The substitution on atoms N1 xantine can improve the activity and selectivity as a tracheaspasm. The purpose of this research was to investigate the influence of concentration sodium hydroxide in sodium acetate as solvent used on the production yield of N1-tert-butilteobromin. The result of the synthesis was isolated using chloroform and purified with the preparative thin layer chromatography. The molecule structure of N1-tert-butilteobromin was confirmed using ultraviolet and infrared spectrophotometry. The result showed that sodium hydroxide concentration could effect the results of yield. The yields of 4%, 8%, and 12% sodium hydroxide concentration were 3.7% (0.074 g), 7.2% (0.144 g), and 1.3% (0.026 g), respectively.Keywords: N1-tert-butylteobromin, sodium hydroxide, tert-butylbromide, theobromine
Pengaruh Tempat Tumbuh Terhadap Kadar Alfa Tokoferol Pada Buah Mengkudu (Morinda Citrifolia L.): The Effect of Location on Alfa Tocopherol Levels in Noni Fruit (Morinda Citrifolia L.) Sri Gustini Husein; Wiwin Winingsih; Nurdianti Nurdianti; Achmad Zainuddin
Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences Vol. 13 (2021): Proc. Mul. Pharm. Conf.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.145 KB) | DOI: 10.25026/mpc.v13i1.474

Abstract

Alpha tocopherol (?-tocopherol) contained in noni fruit (Morinda citrifolia L.) is one of the antioxidants that contribute to pharmacological effects. The noni plant is a tropical plant that has broad growing requirements, so that this plant can grow anywhere. Although easy to find, the environmental conditions where noni grows will have an influence on the amount of ?-tocopherol it contains, one of which is the difference in where it grows. The purpose of this study was to determine the levels of ?-tocopherol in the n-hexane fraction of noni fruit, which grows in three different growing places. Analysis for ?-tocopherol by High Performance Liquid Chromatography (HPLC) with a validated analytical method. The results of system suitability test HPLC System for ?- tocopherol analysis were as follows isocratic elution system of a mobile phase 100% methanol, uv detector at a wavelength of 292 nm using the column C18 (150 ? 4, 6mm, 5?m) flow rate of 1 ml / min. The method had linear concentration range from 1-25 ppm, with R2 0.9967. The accuracy of this method that represented by recovery was 98.02-99.252%. The precision of this method that expressed by Relative Standard Deviation (RSD) was 0.262% and has good specificity. From the analysis, it was found that the content of ?-tocopherol in noni fruit was different and had a positive correlation with the height where it grew, namely in Pameungpeuk (18 m asl) of 0.0316%; Kiaracondong (173 m asl) of 0.0637%; and Lembang (1200 m asl) at 1.0853%.
[REVIEW] METODE ANALISIS S-PHENYL MERCAPTURIC ACID (S-PMA) DALAM URIN SEBAGAI BIOMARKER PAPARAN BENZENA Sri Gustini Husein; Muchtaridi - -; Mulyana - -
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1246.183 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v5i2.57

Abstract

Abstraks-PhenylMercapturic Acid (s-PMA) merupakan salah satu biomarker spesifik yang diusulkan untuk pemantauan biologis terhadap paparan benzena dalam konsentrasi rendah. American Conference of Governmental Industrial Hygienists (ACGIH) juga mengharuskan perusahaan industri untuk mengevaluasi tingkat s-PMA pada pekerja yang bekerja terkait dengan benzena. ACGIH BEI (Biological Exposure Limit) menetapkan nilai normal s-PMA dalam urin maksimal 25 μg/g kreatinin (25 ppb) (ACGIH, 2012). Beberapa metode telah dikembangkan untuk mendapatkan kesesuaian prosedur dalam penetapan kadar s-PMA dalam urin. Metode yang digunakan untuk analisis s-PMA sampai saat ini adalah High Performance Liquid Chromatografi (HPLC) dengan detektor flouresens, HPLC dengan detektor DAD, HPLC-MS-MS, GC-MS, dan ELISA (Wang. Z, et al, 2013). Preparasi terhadap sampel dilakukan beberapa tahap, menggunakan teknik liquid-liquid extraction (LLE), solid-phase extraction (SPE) dan derivatisasi analit menjadi senyawa fluoresens terkonjugasi (Buratti M, 2001). Kata kunci: Biomarker, s-Phenyl MercapturicAcid (s-PMA), Benzena, HPLC Abstracts-PhenylMercapturic Acid (s-PMA) is one of the specific biomarkers purposed for biological monitoring of benzene exposure in low concentrations. The American Conference of Governmental Industrial Hygienists (ACGIH) also requires industrial companies to evaluate the level of s-PMA who workrs working with benzene. ACGIH BEI (Biological Exposure Limit) determines the normal value of s-PMA in urine to a maximum of 25 μg/g creatinine (25 ppb) (ACGIH, 2012). Several methods have been developed to obtain the suitability of procedures in the determination of s-PMA levels in the urine. The recently of analysis methods used for s-PMA are High Performance Liquid Chromatography (HPLC) with flouresens detector, HPLC with DAD detector, HPLC-MS-MS, GC-MS, and ELISA (Wang. Z, et al, 2013). Sample preparation was performed in several stages using liquid-liquid extraction (LLE), solid-phase extraction (SPE) and analytical derivatization into conjugated fluorescence (Buratti M, 2001). Keywords: Biomarker, s-Phenyl MercapturicAcid (s-PMA), Benzene, HPLC
KARAKTERISASI BAKTERI Mycobacterium tuberculosis MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI FOURIER TRANSFORM INFRARED Dewi - Astriany; Sri Gustini Husein; Reta Julan Mentari
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.841 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v6i2.65

Abstract

AbstrakTuberkulosis merupakan salah satu penyakit yang sampai saat ini masih menjadi penyebab utama kematian di dunia. Mycobacterium tuberculosis mempunyai karakteristik unik karena dinding selnya kaya akan lipid dan lapisan tebal peptidoglikan yang mengandung arabinogalaktan, lipoarabinomanan dan asam mikolat. Asam mikolat tidak biasa dijumpai pada bakteri lain. Spektrofotometri Fourier Transform Infrared (FT-IR) dapat digunakan untuk karakterisasi mikroorganisme karena spektrum yang dihasilkan merupakan refleksi dari keseluruhan komposisi molekuler. Adapun penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola spektrum bakteri tersebut. Terdapat kesamaan pola spektrum bakteri Mycobacterium tuberculosis hasil lisis menggunakan pemanasan dan sonikasi yang ditandai dengan munculnya free–OH absorption band, regang simetris CH2, bending NH3, bending CH3 dan a asymmetric stretching P=O. Analisis sampel dialisis Mycobacterium tuberculosis hasil pemanasan menunjukkan perbedaan dengan sampel hasil sonikasi yaitu dengan munculnya amida II dan vibrasi C-O-C dan C-O serta tidak munculnya free–OH absorption band dari asam mikolat. Kata kunci : Tuberkulosis, Mycobacterium tuberculosis, spektrum FT-IR. AbstractTuberculosis (TB) is one of diseases that is still the main cause of death in the world. Mycobacterium tuberculosis has unique characteristics because its cell walls are rich in lipids and thick layers of peptidoglycan containing arabinogalactan, lipoarabinomannan, and mycolic acid. Mycolic acid is not common in other bacteria. Fourier Transform Infrared (FT-IR) spectrophotometry can be used to characterize microorganisms because the resulting spectrum is a reflection of the overall molecular composition. The purpose of this research is to determine the pattern of spectrum of bacteria. There are similar pattern of Mycobacterium tuberculosis spectrum using heating and sonication which is characterized by the appearance of free-OH absorption band, symmetric stretching CH2, bending NH3 , bending CH3 and a asymmetric stretching P=O. Analysis of dialysis heating samples of Mycobacterium tuberculosis showed differences with sonication samples results with the appearance of amide II and vibration C-O-C and C-O and the absence of free-OH absorption band from mycolic acid.  Keywords : Tuberculosis, Mycobacterium tuberculosis, FT-IR spectrum
Pengaruh Waktu dan Suhu Penyimpanan Terhadap Kadar Amoksisilin dan Asam Klavulanat dari Produk Ruahan (Bulk) Sirup Kering Co-Amoxiclav Sundalian, Melvia; Husein, Sri Gustini; Ayuningtyas, Vidya Putri Putri
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.367 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v11i1.177

Abstract

Co-Amoxiclav merupakan antibiotik kombinasi antara amoksisilin dan asam klavulanat yang digunakan untuk mengatasi infeksi akibat bakteri yang sudah resisten terhadap amoksisilin tunggal. Amoksisilin dan asam klavulanat memiliki gugus cincin β-laktam yang mudah terhidrolisis jika kondisi penyimpanan tidak sesuai. Untuk itu dilakukan monitoring kadar amoksisilin dan asam klavulanat pada produk ruahan saat proses penyimpanan selama proses produksi berlangsung. Waktu dan suhu penyimpanan mempengaruhi penurunan kadar zat aktif dalam produk ruahan. Penentuan kadar dilakukan dengan metode KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi) dengan fase gerak metanol : NaH2PO4 0,05 M (10:90) dengan fase diam kolom inertsil ODS 4 ukuran 150 x 4,6 mm 5 µm, laju alir 1,0 mL/menit dengan volume injek 20 µl pada panjang gelombang 220 nm. Sampel produk ruahan ini disimpan pada suhu chiller (2-8°C), suhu AC 24 jam (16-25°C) dan suhu ambient (< 30°C) selama 12 hari dengan waktu pengujian pada hari ke-0, 4, 8 dan 12. Penurunan kadar amoksisilin dan asam klavulanat yang paling signifikan terjadi pada suhu ambient (< 30°C), sedangkan kondisi penyimpanan yang paling stabil terhadap kadar amoksisilin dan asam klavulanat yaitu pada suhu chiller (2-8°C). Lama penyimpanan produk ruahan yang disarankan tidak lebih dari 4 hari.
ANALISIS KEMOMETRIKA SPEKTRUM Fourier transformed infrared (FTIR) DARI MINYAK NABATI Husein, Sri Gustini; Firmansyah, Adang; Yusuf, Fuzy Fauziah
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.38 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v9i2.189

Abstract

Minyak nabati adalah minyak yang di ekstraksi dari berbagai tumbuhan. Ada banyak jenis minyak nabati diantaranya minyak kacang, bunga matahari, jagung, kedelai, wijen, kelapa, zaitun dan lain sebagainya. Banyak industri makanan yang menggunakan minyak nabati sebagai bahan baku olahannya seperti margarin, mentega, dan produk lainnya, menyebabkan banyaknya minyak nabati yang beredar dipasaran sehingga memerlukan metode analisis yang tepat untuk mengetahui kualitas dari berbagai jenis minyak nabati tersebut. Pada penelitian ini dilakukan pengembangan metode analisis minyak nabati menggunakan kemometrika spektrum FTIR dari minyak nabati.  Kemometrika merupakan salah satu teknik pengukuran yang berhubungan dengan pengukuran data multivariat yaitu data yang dihasilkan dari pengukuran banyak variabel pada satu sampel yang sejenis.  Tujuan  penelitian ini adalah melakukan analisis terhadap 20 jenis sampel minyak nabati menggunakan Fourier transformed infrared- Attenuated Total Reflectance  (FTIR-ATR). Hasil analisis menunjukkan dengan menggunakan metode kemometrika hasil spekrum 20 jenis minyak nabati, di kombinasikan berdasarkan  analisis komponen utama atau principal component analysis (PCA) dan analisis klaster atau Cluster Analysis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa FTIR dapat digunakan untuk uji kualitas terhadap sampel uji 20 jenis minyak nabati secara semi-kuantitatif yang dielaborasi oleh  kemometrik. Kemometrika juga mendukung analisis perbedaan spesifik dari kandungan kimia minyak nabati. Kata kunci : Kemometrika,  minyak nabati, spektrofotometer FTIR-ATR. 
ANALISIS MUTU DAN PENENTUAN UMUR SIMPAN PRODUK-PRODUK USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH KECAMATAN PONDOK SALAM Fadillah, Nisrina Nur; Husein, Sri Gustini; Sundalian, Melvia
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58327/jstfi.v13i1.240

Abstract

Pangan olahan adalah makanan atau minuman yang diolah melalui metode tertentu dengan atau tanpa bahan tambahan. Keamanan pangan olahan diperlukan untuk memastikan kelayakan konsumsi sehingga produk harus memenuhi standar mutu yang ditetapkan sebelum dijual. Sejumlah produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kecamatan Pondok Salam, Kabupaten Purwakarta belum menjalani pengujian mutu dan penentuan umur simpan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis mutu dan menentukan umur simpan produk tersebut menggunakan metode pendekatan Arrhenius dengan parameter kadar air. Produk yang diuji yaitu keripik pisang manis dan asin, basreng original dan pedas, sale pisang stik dan lebar, pungpa, serta ladu. Berdasarkan hasil penelitian, hanya produk keripik pisang asin sudah memenuhi standar mutu SNI sedangkan produk lainnya belum memenuhi standar karena tingginya kadar lemak, rendahnya kadar protein, serta produk sudah terkontaminasi oleh Bacillus spp. Hasil penentuan umur simpan keripik pisang asin adalah 56 hari, keripik pisang manis 74 hari, basreng original 31 hari, basreng pedas 50 hari, sale pisang lebar 174 hari, sale pisang stik 177 hari, dan keripik pungpa 59 hari.