Secara global, leptospirosis diperkirakan menyebabkan lebih dari 1 juta kasus dan 60.000 kematian setiap tahunnya, meskipun pelaporan yang tidak dilaporkan masih menjadi tantangan karena gejala yang tidak spesifik dan kapasitas diagnostik yang terbatas di rangkaian sumber daya yang terbatas. Indonesia melaporkan bahwa kurang dari 40% masyarakat Indonesia memahami gejala penyakit atau strategi pencegahannya, seperti pengendalian hewan pengerat. Mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat mengenai penyakit leptospirosis di wilayah kerja Puskesmas Gembong adalah tujuan dari studi ini. Studi berbasis observasional menggunakan desain cross-sectional dilakukan pada periode Desember 2024 hingga Januari 2025. Kami menggunakan survei mini yang telah diuji 1 minggu sebelumnya terhadap 30 responden berbeda di Puskesmas Gembong. Dari seluruh masyarakat yang berobat ke Puskesmas Gembong pada 6 Januari 2025, sekitar 90 pasien memenuhi kriteria inklusi. Perempuan mendominasi dengan persentase 56%. Pasien dalam penelitian ini berada pada rentang usia 18-67 tahun, dan rentang usia terbanyak adalah 20-40 tahun yaitu sekitar 58,9%, ibu rumah tangga (44,4%) dan berpendidikan SD (44,4%). Sekitar 83,3% pasien memiliki skor mini-survei <70. Sekitar 53,3% pasien tidak mengetahui penyebab penyakit leptospirosis, sekitar 77,7% pasien tidak mengetahui tanda dan gejala leptospirosis, sekitar 86,6% pasien tidak mengetahui pencegahan leptospirosis, dan 68,8% pasien tidak mengetahui komplikasi serius dari leptospirosis. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa masih rendahnya pengetahuan Puskesmas Gembong mengenai penyakit leptospirosis.