ABSTRACT Social anxiety and impostor syndrome are significant psychological challenges in late adolescence, especially among high school students, where academic demands, social pressures, and the dynamics of identity formation can trigger feelings of inadequacy and fear of failure. The gap between objective achievements and self-evaluation due to impostor syndrome is the main focus of this study, which aims to examine the significance of the role and contribution of social anxiety in predicting impostor syndrome. This study uses a correlational quantitative research design involving 231 high school students categorized as late adolescents, selected using purposive sampling. Data collection was conducted using the Social Anxiety Scale for Adolescents (SAS-A) and Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS) instruments, then analyzed using simple linear regression. The results of the analysis showed that the regression model was significant with an F (1,229) value of 145.00 and p < 0.001. The correlation coefficient (R) value of 0.623 indicated a strong relationship between the two variables in the model. The coefficient of determination (R²) value of 0.388 indicates that social anxiety contributes 38.8% to the variation in impostor syndrome in late adolescents, while the rest is influenced by other factors. In conclusion, the higher the level of social anxiety experienced, the more vulnerable late adolescents are to experiencing impostor syndrome. ABSTRAK Kecemasan sosial dan impostor syndrome merupakan tantangan psikologis yang signifikan di fase remaja akhir, terutama siswa Sekolah Menengah Atas, di mana tuntutan akademik, tekanan dari lingkungan sosial, dan dinamika pembentukan identitas diri dapat memicu perasaan tidak layak serta ketakutan akan kegagalan. Kesenjangan antara pencapaian objektif dan penilaian diri yang rendah akibat impostor syndrome inilah yang menjadi fokus utama penelitian, sehingga studi ini bertujuan untuk menguji signifikansi peran dan besarnya kontribusi Kecemasan sosial dalam memprediksi impostor syndrome. Studi ini menggunakan desain penelitian kuantitatif korelasional dengan melibatkan 231 siswa SMA yang dikategorikan sebagai remaja akhir, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen Social Anxiety Scale for Adolescents (SAS-A) dan Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS), kemudian dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil analisis menunjukkan bahwa model regresi signifikan dengan nilai F(1,229) = 145.00 dan p < 0.001. Nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0.623 menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara kedua variabel dalam model. Secara definitif, nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0.388 mengindikasikan bahwa Kecemasan sosial memberikan kontribusi sebesar 38.8% terhadap variasi impostor syndrome pada remaja akhir, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Simpulannya, semakin tinggi tingkat kecemasan sosial yang dialami, semakin rentan remaja akhir menunjukkan gejala impostor syndrome. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan pentingnya pengembangan intervensi preventif yang menargetkan pengelolaan kecemasan sosial di lingkungan sekolah untuk mendukung kesehatan mental dan kepercayaan diri remaja.