Febryanti, Ayesha Fazila
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KETERPURUKAN ANAK BUNGSU PADA FILM "HOME SWEET LOAN":PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK Febryanti, Ayesha Fazila; Ahmadi, Anas
Buana Bastra Vol 12 No 1 (2025): JURNAL ILMIAH BUANA BASTRA
Publisher : Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/bastra.vol12.no1.a10303

Abstract

Penelitian ini membahas penggambaran karakter anak bungsu dalam film “Home Sweet Loan”, yang diadaptasi dari novel karya Almira Bastari, dengan fokus pada keterpurukan yang dialami oleh karakter utama.  Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk menganalisis adegan-adegan kunci yang mencerminkan perjuangan internal Kaluna serta konflik dengan anggota keluarga lainya, khususnya kedua kakak kandungnya. Hasil menunjukkan bahwa kondisi ekonomi keluarga, peran sosial dalam keluarga, dan konflik antar saudara kandung berkontribusi teehadap tekanan yang dialami Kaluna. Meskipun menghadapi kesulitan, Kaluna berusaha mengatasi tantangan tersebut berkat dukungan sosial yang diterimanya.
Mengurai Luka Perempuan: Perspektif Feminis Trauma dalam Film “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah” Febryanti, Ayesha Fazila; Ahmadi, Anas
Journal of Linguistics and Social Studies Vol 3, No 1: 2026 (In Progress)
Publisher : STAI Nurul Islam Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52620/jls.v3i1.289

Abstract

Penelitian ini menganalisis representasi trauma perempuan antargenerasi dalam film “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah” menggunakan pendekatan feminisme sinematik dan teori trauma. Film ini menyoroti pengalaman Wulan yang hidup dalam tekanan ekonomi dan emosional suaminya, serta bagaimana luka tersebut diwariskan kepada ketiga anak perempuannya: Anis, Alin, dan Aca. Melalui metode kualitatif deskriptif, penelitian menelaah aspek naratif dan visual untuk mengungkap simbol diam, kekerasan simbolik, dan solidaritas perempuan sebagai mekanisme penyembuhan. Hasil kajian menunjukkan bahwa trauma perempuan tidak berdiri sendiri, tetapi berakar pada struktur patriarki yang menormalisasi penderitaan domestik. Diam Wulan menjadi bentuk pembungkaman trauma, sedangkan respons emosional anak-anaknya merepresentasikan resistensi generasi baru terhadap ketidakadilan gender. Studi ini menegaskan bahwa sinema Indonesia berfungsi sebagai ruang refleksi yang mengungkap luka kolektif sekaligus memperlihatkan potensi solidaritas perempuan dalam memutus siklus trauma antargenerasi.