Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dimensi-Dimensi Aksiologis dan Implementasinya dalam Pendidikan Islam Annur, Ash shifa; Rijal, Syamsul
Ameena Journal Vol. 3 No. 2 (2025): Ameena Journal
Publisher : Yayasan Madinah Al-Aziziyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63732/aij.v3i2.166

Abstract

Aksiologi merupakan cabang dari filsafat yang secara khusus membahas tentang teori nilai, manfaat, serta segala sesuatu yang dianggap penting dan bernilai dalam kehidupan manusia. Dalam filsafat, aksiologi terbagi menjadi dua bagian utama, yaitu etika dan estetika. Etika sendiri memiliki dua bentuk penting: Etika Deskriptif, yang menggambarkan perilaku moral sebagaimana adanya dalam masyarakat tanpa memberikan penilaian, dan Etika Normatif, yang menetapkan standar mengenai apa yang seharusnya dilakukan secara moral. Sementara itu, estetika juga terbagi dua, yaitu Estetika Deskriptif, yang berfungsi untuk mendeskripsikan pengalaman manusia terhadap keindahan, serta Estetika Normatif, yang menetapkan tolok ukur atau standar tentang keindahan ideal menurut filsafat. Sumber nilai dalam aksiologi terdiri atas dua unsur utama, yaitu nilai Ilahiyah, yang bersumber dari Tuhan atau wahyu, dan nilai Insaniyah, yang berasal dari pengalaman manusia dalam kehidupan sehari-hari. Karakteristik nilai pun dibedakan menjadi dua, yakni nilai objektif, yang bersifat universal dan tidak tergantung pada persepsi individu, serta nilai subjektif, yang sangat dipengaruhi oleh pandangan pribadi dan pengalaman seseorang. Selain itu, nilai juga diklasifikasikan menjadi nilai absolut yang tidak berubah oleh ruang dan waktu, serta nilai relatif yang bisa berubah sesuai dengan konteks budaya, sosial, dan zaman. Dalam hakikat nilai, dikenal berbagai dimensi seperti nilai kehidupan, nilai kenikmatan, nilai kegunaan, nilai intelektual, nilai etika, nilai estetika, dan nilai religius. Seluruh dimensi nilai yang telah dijelaskan, mulai dari nilai kehidupan, kenikmatan, kegunaan, intelektual, etika, estetika, hingga nilai religius, memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan tujuan utama pendidikan Islam. Hal ini karena pendidikan Islam tidak hanya berfokus pada aspek kognitif semata, tetapi juga menekankan pembentukan karakter dan kepribadian yang utuh.
EKO-TEOLOGI PROFETIK: KRITIK SANAD DAN MATAN HADITS-HADITS PELESTARIAN DALAM PERSPEKTIF MAQASID SYARIAH Annur, Ash Shifa; Jannah, Miftahul
Jalalain: Journal of Qur'an and Hadith Vol. 2 No. 1 (2026): JALALAIN: Journal of Qur'an and Hadith
Publisher : Yayasan An Nur Menara Baro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65802/jalalain.v2i1.122

Abstract

The global ecological crisis demands a theological response that is not only normative but also transformative. This article aims to reconstruct Islamic environmental ethics through takhrij (tracking) and naqd (criticism) of environmental hadiths, and reframing them in the perspective of Maqasid Syariah. This research uses a qualitative method with a mixed-method approach between traditional hadith science (criticism of sanad and matan) and contemporary Islamic legal hermeneutics. The focus of the study is the hadith on planting trees (ghars) and the revitalization of dead land (ihya’ al-mawat). The results of the study indicate that: (1) The hadith narrated by Anas bin Malik about planting trees has authentic status with a muttasil (continuous) transmission line and is free from syadz (oddities); (2) In terms of matan, the hadith contains futuristic content that goes beyond merely eschatological dimensions, but also ethical commands for resource sustainability; (3) From the perspective of Maqasid Syariah, environmental preservation (hifz al-bi’ah) must be placed on a par with the protection of the soul (hifz al-nafs), because ecological damage fundamentally threatens human existence. This article concludes that prophetic eco-theology offers a solid spiritual foundation for modern sustainability policies.