Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

OPTIMASI RASIO PENSTABIL PADA KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN SENSORI SUP KRIM INSTAN Kenneth Olvan Susanto; Rike Tri Kumala Dewi; Stephanie Tiara Suparto
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 26 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtp.2025.026.01.7

Abstract

Diet yang bergizi dan mudah penyajiannya dibutuhkan bagi para lansia untuk meningkatkan kenyamanan konsumsi. Sup krim instan tinggi kalsium dapat dijadikan salah satu alternatif diet mereka. Namun, produk sup krim instan yang tersedia masih membutuhkan pemanasan menggunakan kompor. Penambahan penstabil seperti Na-CMC dan maltodekstrin diperlukan untuk memberikan karakteristik sup krim instan yang dapat disajikan hanya dengan melarutkannya pada air panas. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh rasio Na-CMC dan maltodextrin terhadap karakteristik fisikokimia dan sensori sup krim instan. Penelitian ini menggunakan  Rancangan Acak Lengkap satu faktorial dengan variasi rasio antara Na-CMC : maltodekstrin (R1 0%:20%, R2 5%:15%, R3 10%:10%, R4 15%:5%, R5 20%:0%) yang dilakukan secara triplikat. Parameter yang diukur adalah parameter fisik (viskositas, daya rehidrasi, kapasitas dan stabilitas buih, indeks penyerapan air, dan solubilitas protein), parameter kimia (uji proksimat), dan parameter sensori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel R4 (Na-CMC 15% : maltodekstrin 5%) dan R5 (Na-CMC 20% : maltodekstrin 0%), berdasarkan parameter viskositas dan daya rehidrasi, dipilih untuk dilakukan uji sensori menggunakan metode hedonik serta uji proksimat dengan Standard Nasional Indonesia (SNI) sebagai acuan standar. Hasil uji sensori dan proksimat menyatakan bahwa  variasi rasio Na-CMC dan maltodekstrin hanya berpengaruh pada aroma, tekstur,  kelarutan, dan kekentalan. Sementara itu, semua sampel telah memenuhi standar SNI. Penambahan Na-CMC lebih direkomendasikan daripada maltodekstrin, namun rentang konsentrasinya perlu dikaji ulang untuk meningkatkan kesukaan konsumen. Signifikansi penelitian ini adalah Na-CMC dapat digunakan dalam formula sup krim instan agar penyajiannya tanpa pemanasan di  kompor. 
PENDEKATAN IN VITRO DALAM PENILAIAN BIOAVAILABILITAS ZAT BESI PANGAN: In vitro Approaches in Assessing Dietary Iron Bioavailability Yunna Teodor; I Kadek Adi Indrawan; Kelvin Then; Kent Pranata Tjandra; Rike Tri Kumala Dewi; Dwining Putri Elfriede
JURNAL TEKNOLOGI PANGAN DAN ILMU PERTANIAN (JIPANG) Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi Pangan dan Ilmu Pertanian (JIPANG)
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jipang.v8i1.7997

Abstract

Iron availability in foods was determined not only by total iron content but also by its bioaccessibility and bioavailability. This review aimed to evaluate the role of in vitro testing methods in assessing iron availability from various food products and to identify food matrix factors influencing its absorption. The methods discussed included static gastrointestinal digestion simulation, total iron analysis using Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) or Inductively Coupled Plasma (ICP), and the Caco-2 cell model measuring ferritin formation as an indicator of bioavailability. The findings indicated that total iron content did not necessarily correlate with biological absorption. Several factors, such as fermentation, fortification, phytate degradation, and the addition of ascorbic acid, were found to significantly enhance iron availability, particularly in plant-based food matrices. These results suggested that food processing and formulation strategies played a critical role in improving iron uptake. Among the reviewed approaches, the combination of in vitro gastrointestinal digestion and Caco-2 cell models was identified as the most comprehensive method for future product development, as it allows simultaneous evaluation of bioaccessibility and cellular uptake. In conclusion, in vitro approaches were considered practical and efficient preliminary tools in the development and evaluation of iron-rich food products before proceeding to in vivo studies.