Sarjono, Moses
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Makna Frasa "Malaikat TUHAN" dalam Pembuktian Eksistensi Yesus di Perjanjian Lama menurut Keluaran 3:2-14: Studi Eksegesis: Malaikat; Tuhan; Allah; Yesus Sarjono, Moses
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 9 No. 1 (2025): Vol. 9 No. 1 Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v9i1.229

Abstract

Abstrak: Eksistensi Tuhan adalah bagian yang selalu diperdebatkan oleh para ahli dan masyarakat, khususnya mengenai Allah Anak atau yang dikenal sebagai Yesus di Perjanjian Lama. Penelitian ini berfokus untuk mengeksplorasi perjumpaan Malaikat TUHAN dengan Musa di Gunung Horeb untuk membuktikan eksistensi Yesus. Melalui analisis teks terhadap frase “Malaikat TUHAN” dalam Keluaran 3:2-14 akan membantu menjawab bahwa pribadi Allah Anak dalam Keallahan sudah ada sejak pada mulanya. Oleh sebab itu, peneliti akan mencari tahu makna frasa “Malaikat TUHAN” untuk meningkatkan pemahaman doktrin Allah Anak bagi umat Kristen. Penelitian ini menggunakan studi Eksegesis yang bertujuan untuk menggali makna dari bahasa asli secara historis dan tekstual terhadap pandangan “Malaikat TUHAN”. Hasil studi menunjukkan bahwa “Malaikat TUHAN” adalah pernyataan fisik dari Allah yang berperan penting untuk berkomunikasi dan hadir secara langsung bersama manusia. Hal tersebut, menegaskan bahwa teofani dalam Keluaran 3 merupakan bukti keberadaan oknum kedua dari Keallahan yang tidak dimulai di Perjanjian Baru, tetapi telah aktif bersama Allah Bapa dan Roh Kudus dalam sejarah keselamatan di Perjanjian Lama.
Eksegesis Perbandingan Keluaran 12:7 dan Ulangan 16:5 dalam Perubahan Perintah Penyembelihan Domba Paskah dari Rumah ke Tempat Suci Sarjono, Moses
FILADELFIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Imauel Pacet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55772/filadelfia.v6i1.172

Abstract

AbstrakPenelitian ini berfokus pada pandangan Alkitab terhadap perubaan perintah penyembelihan domba Paskah dari rumah ke tempat suci. Melalui perbandingan eksegesis antara kitab Keluaran 12:7 dan Ulangan 16:5 akan membantu dalam menjawab pandangan perubahan perintah dengan prinsip Alkitab. Studi eksegesis ini bertujuan untuk memperoleh makna dari bahasa asli untuk mengetahui konsistensi Allah terhadap perintah yang Ia berikan kepada umat-Nya. Hasil studi menunjukan bahwa kedua ayat tersebut tidak bertentangan melainkan menyempurnakan ibadah ritual paskah. Hal tersebut mencerminkan perkembangan ibadah domestik menuju nasional yang berpusat ditempat kudus setelah memasuki Tanah Perjanjian. Perubahan itu bukanlah perubahan esensi Allah, tetapi penyesuaian kepada keadaan umat Tuhan agar dapat melaksakan perintah tersbut secara sempurna.Kata Kunci: Alkitab, Allah, Ibadah, dan Paskah. AbstractThis study focuses on the biblical perspective regarding the change of the Passover lamb slaughter command from the household to the sacred place. Through a comparative exegesis of Exodus 12:7 and Deuteronomy 16:5, this research aims to address the perspective on the change of command in light of biblical principles. The exegesis seeks to derive meaning from the original language to understand God's consistency in the commandments He gives to His people. The results indicate that the two verses do not contradict each other; rather, they enhance the Passover ritual observance. This reflects the evolution of worship from a domestic context to a national one, centered in the holy place after entering the Promised Land. This change is not a shift in God's essence but an adjustment to the state of God's people to facilitate the perfect execution of the command.Keywords: Biblical, God, Worship, and Passover.
Makna Penggunaan Frasa “Makanan dan Minuman, Hari Raya, Hari Sabat” Berdasarkan Kolose 2:16-17: Studi Eksegesis Sarjono, Moses; Pane, Exson
PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 21 No 2 (2025): PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46494/psc.v21i2.566

Abstract

The use of the phrase "food and drink, festivals, and Sabbath days" in the context of the Colossian congregation has been misinterpreted and become a central point of debate regarding the Mosaic Law. Through an analysis of this text in Colossians 2:16-17, it will help address the notion that the dietary laws of clean and unclean foods and the Sabbath were not abolished through Jesus' death on the cross. This exegetical study aims to explore the meaning of the original language, connecting it historically and textually to perspectives on the law under examination. The study results indicate that "food and drink" do not refer to clean and unclean foods, and "Sabbath" does not refer to the weekly Sabbath but rather to the annual Sabbaths, also known as special festival days in the Jewish calendar. This shows that Paul was not emphasizing the abolition of God’s moral law, but was addressing ritual practices that were merely shadows of things to come namely, Christ Himself.