Waddin, Moch Aufal Hadliq Khaiyyul Millati
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Fenomena Pernikahan Dini, Poligami, Dan Quarter-Life Crisis: Telaah Psikologi Sosial Dalam Bingkai Hukum Keluarga Islam Kontemporer Waddin, Moch Aufal Hadliq Khaiyyul Millati; Mujib, Abdul; Ubaidillah, Ubaidillah
Minhaj: Jurnal Ilmu Syariah Vol. 6 No. 2 (2025): Juli
Publisher : Lembaga Penerbitan Jurnal Ilmiah Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/minhaj.v6i2.3785

Abstract

Fenomena pernikahan dini, poligami, dan quarter-life crisis dalam masyarakat Muslim kontemporer telah menjadi isu yang mempengaruhi kehidupan keluarga dan keputusan individu. Latar belakang penelitian ini berfokus pada kebutuhan untuk menyesuaikan hukum keluarga Islam dengan perubahan sosial dan psikologis yang terjadi dalam masyarakat saat ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana hukum keluarga Islam dapat merespons fenomena tersebut, dengan menekankan pentingnya kesiapan emosional dan psikologis individu dalam keputusan pernikahan dan keluarga. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi literatur dan analisis komparatif, yang membandingkan perspektif psikososial dan pandangan hukum terkait fenomena-fenomena ini dalam konteks keluarga Muslim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hukum keluarga Islam, yang selama ini berorientasi pada teks klasik, perlu berkembang agar lebih fleksibel dan responsif terhadap kenyataan sosial, terutama dalam hal pernikahan dini dan poligami. Dalam hal pernikahan dini, penelitian menyoroti pentingnya kesiapan mental dan emosional pasangan, sedangkan dalam poligami, keadilan emosional harus menjadi fokus utama. Selain itu, fenomena quarter-life crisis mengharuskan individu untuk mendapatkan ruang bagi pemahaman diri yang lebih matang sebelum mengambil keputusan besar seperti pernikahan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa hukum keluarga Islam perlu lebih progresif, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan psikologis dan sosial individu, agar dapat menciptakan kesejahteraan keluarga yang lebih baik dan relevansi dengan perkembangan zaman.
Fenomena Childfree di Kalangan Muslim Milenial: Analisis Sosiologi Islam atas Pergeseran Nilai Keluarga dalam Perspektif Ibnu Khaldun Waddin, Moch Aufal Hadliq Khaiyyul Millati; Nurcholis, Moch.
Minhaj: Jurnal Ilmu Syariah Vol. 7 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Lembaga Penerbitan Jurnal Ilmiah Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/minhaj.v7i1.4199

Abstract

Fenomena childfree di kalangan Muslim milenial muncul sebagai respons atas kompleksitas sosial kontemporer, termasuk tekanan ekonomi, krisis lingkungan, hasrat akan otonomi, serta kritik terhadap institusi keluarga. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika tersebut melalui pendekatan sosiologi Islam dalam perspektif pemikiran Ibnu Khaldun. Metode yang digunakan bersifat kualitatif dengan studi pustaka dan pendekatan tokoh sebagai landasan analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pilihan childfree merepresentasikan pergeseran nilai dari pola relasional berbasis tanggung jawab kolektif menuju preferensi identitas individual yang lebih cair. Sakralitas keluarga dalam Islam, khususnya nilai hifz al-nasl dalam kerangka maqāsid al-syarī’ah, mengalami tekanan interpretatif akibat negosiasi nilai dalam budaya modern. Konsep ‘asabiyyah dari Ibnu Khaldun memberi pandangan kritis bahwa ketika solidaritas kolektif dalam keluarga melemah, kohesi sosial yang menopang peradaban ikut terancam. Fenomena childfree dapat dimaknai sebagai gejala awal dari disintegrasi nilai, yang dalam kerangka Ibnu Khaldun merupakan fase kemunduran sosial jika tidak dibarengi pembentukan solidaritas alternatif yang fungsional.
Childfree in the Perspective of Islamic Feminism: A Comparative Study of the Thoughts of K.H. Husein Muhammad, Amina Wadud, and Fatima Mernissi Waddin, Moch Aufal Hadliq Khaiyyul Millati; Abdulghani, Naser Ali
Santara: Journal of Islamic Law and Humanity Vol. 1 No. 2 (2025): Islamic Law and Humanity
Publisher : Perkumpulan Dosen Tarbiyah Islam, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59373/santara.v1i2.209

Abstract

The childfree phenomenon among contemporary Muslims has sparked theological and social debate, highlighting the tension between the normative construction of motherhood in Islam and women's growing awareness of their bodily authority and social roles. This study aims to analyze and compare the responses of three Islamic feminist figures, K.H. Husein Muhammad, Amina Wadud, and Fatima Mernissi, to the childfree issue. The method used is a qualitative approach through literature study and comparative-critical discourse analysis. The results show that although their approaches differ, namely maqāṣidiyah (Husein Muhammad), textual hermeneutics (Amina Wadud), and historical-sociological criticism (Fatima Mernissi), all recognize women's right to autonomy over their bodies and reproductive decisions. Husein Muhammad emphasizes the aspect of maslahah within the framework of sharia, Wadud highlights spiritual justice and mutual benefit, while Mernissi views the childfree phenomenon as a form of resistance to the patriarchal narrative of motherhood. This article contributes to broadening the horizons of contemporary Muslim women through a synthesis of women's, theological, and sociological approaches to the discourse on Muslim women's reproductive rights.