Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana wacana “polisi skena” mempengaruhi penyebaran sikap superioritas dalam komunitas musik underground. Pada praktiknya polisi skena muncul sebagai tantangan yang menciptakan mekanisme pengawasan simbolik yang dapat memperkuat sikap superioritas di antara para penikmat musik. Skena musik underground di Surakarta telah berkembang sebagai ruang alternatif untuk mengekspresikan diri serta pencarian identitas di kalangan gen Z. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis, penelitian ini menggunakan wawancara mendalam, observasi lapangan dan studi pustaka untuk menganalisis bagaimana polisi skena berpengaruh dalam komunitas. Teori kepribadian milik Alfred Adler memfokuskan pada cara mengatasi ketidakmampuan dengan mendorong seseorang menuju perasaan superioritas. Dengan demikian, polisi skena menjadi bentuk penghakiman untuk memenuhi standar komunitasnya. Berakar dari rasa tidak mampu dalam memperoleh pengakuan, mereka menjadikan superioritas sebagai upaya untuk menciptakan kekuasaan. Hasil penelitian dari komunitas musik underground Youth Coffee Novotel menunjukkan bahwa pengetahuan gaya berpakaian, selera musik dan sejarah terbentuknya suatu kelompok musik menjadi tolok ukur untuk memperoleh pengakuan identitas dalam komunitas. Sehingga mereka bersikap menjadi yang paling tahu dan menciptakan eksklusivitas sampai tekanan sosial, terutama bagi anggota baru. Hal ini menunjukkan bahwa banyak individu dalam skena musik underground bertujuan untuk memperoleh pengakuan melalui eksklusivitas telah menjadi motivasi yang signifikan untuk menuju superioritas.Kata kunci: polisi skena, superioritas, musik underground