Lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami penurunan fungsi kognitif akibat proses degeneratif dan berbagai faktor risiko, termasuk status gizi dan karakteristik individu seperti usia, jenis kelamin, serta tingkat pendidikan. Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) merupakan salah satu upaya promotif dan preventif untuk menjaga kualitas hidup lansia, termasuk fungsi kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan karakteristik lansia terhadap fungsi kognitif pada peserta Prolanis di Puskesmas Karang Anyar. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan teknik pengambilan sampel accidental sampling diperoleh sebanyak orang yang menjadi responden dalam penelitian ini dengan jumlah sampel sebanyak 68 responden yang diambil secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT), kuesioner karakteristik responden, dan Mini Mental State Examination (MMSE) untuk menilai fungsi kognitif. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil: Sebagian besar lansia mengalami gangguan fungsi kognitif, dengan proporsi gangguan kognitif ringan sebesar 53,0% dan gangguan kognitif berat sebesar 16,1%. Hanya 30,9% responden yang memiliki fungsi kognitif normal, Terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi (p=0,01), usia (p=0,00), dan tingkat pendidikan (p=0.01) dengan fungsi kognitif. Namun, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan fungsi kognitif (p=0,72). Status gizi, usia, dan tingkat pendidikan memiliki hubungan yang signifikan terhadap fungsi kognitif lansia. Upaya peningkatan status gizi dan edukasi kesehatan pada lansia sangat penting dalam menjaga fungsi kognitif mereka.