Abstrak: Penelitian ini mengungkap bagaimana teks media — dalam hal ini drama Korea When Life Gives You Tangerine — tidak hanya berfungsi sebagai bentuk hiburan, tetapi juga sebagai alat produksi makna yang sarat dengan ideologi dan representasi sosial. Dengan menggunakan metode analisis wacana kritis (Critical Discourse Analysis/CDA) model Norman Fairclough terhadap adegan dan dialog dalam drama Korea When Life Gives You Tangerine dan komentar penonton di media sosial TikTok, ditemukan bahwa meskipun sebagian penonton menyadari bahwa Gwan-sik merupakan hasil konstruksi naratif, banyak komentar di media sosial yang membandingkan karakter tersebut dengan pria Indonesia, sehingga berpotensi menimbulkan ekspektasi yang tidak realistis. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengembangkan kesadaran kritis dan meningkatkan kemampuan literasi media agar tidak terjebak dalam pemahaman yang fiktif tentang relasi gender, sehingga penonton mampu membedakan nilai-nilai yang layak diteladani dan yang hanya bersifat dramatik. Dengan demikian, masyarakat tidak akan mudah terpengaruh oleh narasi populer yang cenderung menggambarkan relasi ideal, namun tidak selalu relevan dengan realitas yang ada. Kata Kunci: Representasi, Drama Korea, Analisis Wacana Kritis Abstract: This research reveals how media texts - in this case the Korean drama When Life Gives You Tangerine - do not only function as a form of entertainment, but also as a means of meaning production laden with ideology and social representation. Using Norman Fairclough's Critical Discourse Analysis (CDA) method on scenes and dialogues in the Korean drama When Life Gives You Tangerine and viewers' comments on TikTok, it is found that although some viewers realize that Gwan-sik is a narrative construction, many comments on social media compare the character to Indonesian men, potentially leading to unrealistic expectations. Therefore, the public needs to develop critical awareness and improve media literacy skills to avoid being trapped in fictitious understandings of gender relations, so that viewers are able to distinguish between values that are worthy of emulation and those that are only dramatic. Thus, people will not be easily influenced by popular narratives that tend to depict idealized relations, but are not always relevant to the existing reality Keywords: Representation, Korean Drama, Critical Discourse Analysis