Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MODEL BISNIS KANVAS TIGA LAPIS SEBAGAI STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA SAYUR ORGANIK Walaela, Khais; Suprehatin, Suprehatin; Kilat Adhi, Andriyono
Jurnal Agribisnis Indonesia (Journal of Indonesian Agribusiness) Vol. 13 No. 1 (2025): Juni 2025 (Jurnal Agribisnis Indonesia)
Publisher : Departmen of Agribusiness, Economics and Management Faculty, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jai.2025.13.1.30-48

Abstract

Saat ini, konsumen menjadi lebih sadar dan peduli terhadap isu-isu sosial dan lingkungan dalam keputusan pembelian mereka seperti bagaimana produk tersebut diproduksi dan bahan apa yang digunakan. Sebagai konsekuensinya, bisnis perlu mengambil keputusan yang selaras dengan nilai-nilai dan berkontribusi terhadap keberlanjutan. Namun, hal itu membutuhkan model dan strategi bisnis yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model bisnis berkelanjutan sayur organik. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus pada Kelompok Tani Citra Muda yang berbeda di Jawa Tengah. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap informan kunci ketua kelompok tani dan karyawan. Data dianalisis menggunakan Triple-Layered Business Model Canvas (TLBMC). Hasilnya menunjukkan bahwa model bisnis pertanian organik saat ini bervariasi dari segi dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan. Hasil TLBMC menunjukkan bahwa faktor kunci keberlanjutan usaha pertanian organik adalah produksi, sumber daya manusia, nilai produk, hubungan baik dengan pemangku kepentingan, dan media. Memahami praktik bisnis yang berorientasi keberlanjutan seperti pertanian organik, saat ini memberikan wawasan untuk mengembangkan model bisnis berkelanjutan dengan mempertimbangkan dimensi ekonomi, lingkungan dan sosial.
Development of Indonesian Organic Agrifood: Certification Process and Issues Walaela, Khais; Suprehatin, Suprehatin; Adhi, Andriyono Kilat
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 8, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37637/ab.v8i2.2078

Abstract

The global growth of organic agrifood has also reached Indonesia, creating opportunities and challenges for smallholder farmers. This study aims to explore the certification process and identify key barriers to obtaining organic certification for Indonesian agricultural products. Using a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews with three certified organic farming groups in Central Java—each producing rice, vegetables, or coffee. Data analysis was conducted using descriptive methods and graphical tools such as spider charts. The findings reveal that both pre-certification and certification stages typically require three months, not including land conversion, which may be shortened if prior organic practices are recognized. Major challenges during these stages include business planning, seed availability, group coordination, investment capital, pest management, and contamination prevention. These issues are rooted in limited knowledge and technical skills regarding organic standards and practices. Technological interventions—such as the use of ozone plasma, Internet of Things (IoT), and mobile cold storage—were found to support compliance and productivity, particularly in vegetable farming. However, constraints such as land fatigue, lack of rotation, limited access to organic inputs, and high certification costs persist. The study suggests that improved training, mentoring, institutional support, and access to organic inputs are essential to overcoming certification barriers and strengthening farmers’ participation in organic value chains. These insights offer practical implications for policymakers and stakeholders to promote sustainable organic farming in Indonesia.