Sistem pendingin (refrigeration system) pada kapal penangkap ikan berperan vital dalam menjaga mutu hasil tangkapan selama pelayaran. Kegagalan sistem pendingin dapat menyebabkan kerusakan produk, penurunan kualitas ikan, serta kerugian ekonomi yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi mode kegagalan potensial dan menentukan prioritas risiko pada mesin pendingin kapal ikan menggunakan metode Failure Mode and Effects Analysis (FMEA). Pendekatan penelitian bersifat deskriptif kuantitatif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara teknisi, dan telaah dokumen perawatan. Analisis dilakukan terhadap sepuluh komponen utama, yaitu kompresor, kondensor, evaporator, akumulator, oil separator, katup ekspansi, pipa refrigeran, sensor kontrol, pompa sirkulasi air laut, dan panel listrik. Hasil analisis menunjukkan empat komponen dengan nilai Risk Priority Number (RPN) tertinggi adalah pompa sirkulasi air laut (224), kompresor (189), akumulator (180), dan katup ekspansi (175). Komponen tersebut dikategorikan sebagai risiko tinggi yang memerlukan tindakan mitigasi prioritas berupa perawatan preventif, pemantauan kondisi, serta peningkatan pelatihan awak kapal. Penerapan FMEA terbukti efektif dalam membantu manajemen kapal menentukan strategi risk-based maintenance untuk meningkatkan keandalan sistem pendingin dan menjamin mutu hasil tangkapan selama operasi di laut.