Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Pengaruh Pemberian Kombinasi Ekstrak Ethanol Bayam Merah Dan Bunga Krisan Terhadap Berat Limpa Dan Hepar Tikus Betina Remaja Anemia Jiarti Kusbandiyah; Yuniar Angelia Puspadewi; Dinda Oktia Maghfiiroh
SNHRP Vol. 5 (2023): Seminar Nasional Hasil Riset dan Pengabdian (SNHRP) Ke 5 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anemia hemolitik yang menduduki angka 5 persen dari semua jenis anemia memiliki manifestasi klinis berupa pucat pada tangan, kuku dan wajah serta konjungtiva, ikterus, ptechie, limfadenoapati serta hepatosplenomegali Ilustrasi contoh teks abstrak. Kombinasi ekstrak bayam berah dan bunga krisan disinyalir memiliki kandungan antioksidan tinggi yang bisa sebagai potensi antianemia. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui efek atau pengaruh kombinasi ekstrak daun bayam merah dan bunga krisan terhadap berat limpa dan hati pada tikus wistar remaja yang dikondisikan anemia. Penelitian menggunakan rancangan eksperimental laboratorik dengan post test-only control group design secara in vivo. Penelitian dilaksanakan kepada 20 tikus betina galur wistar (rattus norvegicus) usia remaja yang dikondisikan anemia dengan PHZ. Kemudian tikus diberikan perlakuan dengan 4 tingkatan dosis yaitu 300 EEBM+300 EEBK, 600 EEBM+300EEBK, 900 EEBM+300 EEBK dan 1200 EEBM+300 EEBK. Perlakuan diberikan melalui sonde selama 9 hari. Setelah itu dilakukan pembedahan untuk diukur berat organ limpa dan hepar. Analisa data menggunakan uji One-Way ANOVA dan Post Hoc Duncan. Hasil menunjukkan sig 0,773 dan 0,901, yang berarti tidak ada pengaruh signifikan pemberian kombinasi ekstrak dengan berat organ hati dan limpa. Meskipun seperti itu, kombinasi dosis 600 EEBM + 300 EEBK memberikan hasil berat organ hati dan limpa yang mendekati berat normal.
HUBUNGAN RIWAYAT ISPA DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA Moro, Marselina Ina; Dewi S, Ika Arum; Puspadewi, Yuniar Angelia
Media Husada Journal Of Nursing Science Vol. 4 No. 3 (2023): November
Publisher : STIKES Widyagama Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33475/mhjns.v4i3.149

Abstract

Abstrak Latar belakang: Penyakit ISPA adalah salah satu penyakit yang sering diderita balita di indonesia.Balita yang terinfeksi oleh patogen penyebab infeksi akan menstimulasi respon imun.Stunting dapat menyebabkan rendahnya tingkat kecerdasan anak dan rentan terhadap penyakit, sehingga di masa depan berisiko menurunnya tingkat produktifitas. Salah satu penyebab stunting adalah makanan yang tidak sehat. Makanan yang mengandung bakteri dapat mempengaruhi kondisi kesehatan anak karena dapat menyebabkan penyakit diare yang dapat mengakibatkan kehilanggan cairan dan zat gizi, sehingga anak mengalami kurang gizi. Anak yang kurang gizi akan memiliki daya tahan tubuh yang lemah, sehingga mudah terkena penyakit infeksi seperti ISPA, yang akhirnya mempengaruhi perkembangan kognitif dan pertumbuhan pada anak. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara riwayat ISPA dengan kejadian stunting pada balita. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan retrospektif yang dilakukan pada 27 Responden balita yang mengalami Stunting. Teknik pengambilan data menggunakan lembar observasi.Teknik sampling penelitian adalah purposive sampling dengan analisis data mengunakan uji chi square. Hasil: Berdasarkan analisa data, dari 27 responden balita yang mengalami ispa jarang terdapat 2 orang (7.4%) dan kategori sering 25 orang (92.6%). Hasil analisa bivariat ada hubungan antara tinggi badan balita dengan ISPA (0.000), dan ada hubungan antara berat badan dengan ISPA (0.000). Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara infeksi saluran pernapasan akut dengan kejadian stunting pada balita. Kepustakaan: 43 Kepustakaan (2013-2022) Kata Kunci : Stunting, ISPA, Balita
Pengaruh Penerapan Buku Saku Gizi Terhadap Peningkatan Pengetahuan Ibu Tentang Status Gizi Balita di Posyandu Melati Dusun Krobyokan RT 4 RW 8 Desa Jedong Kecamatan Wagir Kabupaten Malang Kinanti, Mauditha Andrea; Zunaedi, Rosly; Puspadewi, Yuniar Angelia
Journal of Health Education Law Information and Humanities Vol 2, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/helium.v2i1.4849

Abstract

Pengetahuan ibu yang rendah dapat berdampak pada sikap dan perilaku ibu dalam memberikan makanan kepada balita yang menimbulkan ketidakseimbangan makanan bergizi. Buku saku merupakan media untuk meningkatkan pengetahuan ibu, disajikan dalam bahasa yang jelas dan mudah dipahami, serta dapat dibaca di mana saja dan kapan saja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penerapan buku saku gizi terhadap peningkatan pengetahuan ibu tentang status gizi balita di Posyandu Melati Dusun Krobyokan RT 4 RW 8 Desa Jedong Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu quasy experimental dengan desain penelitian one group pretest dan posttest. Sampel pada penelitian ini sebanyak 32 ibu yang memiliki anak usia 1-5 tahun. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner dan buku saku. Teknik analisa data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil analisa data menggunakan uji Wilcoxon untuk menguji adanya pengaruh penerapan buku saku gizi terhadap peningkatan pengetahuan ibu tentang status gizi balita didapatkan hasil yang signifikan 0.000 (00,05). Peneliti menyimpulkan terdapat pengaruh penerapan buku saku gizi terhadap peningkatan pengetahuan ibu tentang status gizi balita. Peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan monitoring responden selama mempelajari buku saku gizi.
PENGARUH TERAPI BERMAIN PAPER TOYS TERHADAP PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS PADA ANAK PRA SEKOLAH Soares, Florinda Lavore Helena; Dewi, Ika Arum; Angelia, Yuniar
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 2 (2024): AGUSTUS 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i2.32289

Abstract

Perkembangan motorik halus pada anak prasekolah merupakan aspek penting dalam pertumbuhan yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk melakukan tugas-tugas sehari-hari. Masalah utama yang dihadapi adalah kurangnya metode efektif untuk meningkatkan keterampilan motorik halus pada usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh terapi bermain paper toys terhadap perkembangan motorik halus pada anak prasekolah di TK Ra Miftahul Huda. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen dengan pendekatan one-group pre-test and post-test design. Populasi penelitian terdiri dari semua anak prasekolah di TK Ra Miftahul Huda, dengan sampel sebanyak 30 anak yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Variabel independen adalah terapi bermain paper toys, sedangkan variabel dependen adalah perkembangan motorik halus anak. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi dan instrumen penilaian perkembangan motorik halus anak. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Wilcoxon untuk menguji perbedaan antara pre-test dan post-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada perkembangan motorik halus anak setelah dilakukan intervensi terapi bermain paper toys. Sebelum intervensi, mayoritas anak berada pada kategori “Mulai Berkembang”, sedangkan setelah intervensi, sebagian besar anak mencapai kategori “Berkembang Sesuai Harapan” atau “Berkembang Sangat Baik”. Nilai Asymp Sig (2-tailed) sebesar 0,000 menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara pre-test dan post-test. Terapi bermain paper toys terbukti dapat meningkatkan perkembangan motorik halus pada anak prasekolah secara signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan permainan kreatif seperti paper toys dapat menjadi metode intervensi yang efektif untuk mendukung perkembangan motorik halus pada anak usia dini.
PENDAMPINGAN PENYUSUNAN SATGAS PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KEKERASAN SEKSUAL (PPKS) Yuniar Angelia Puspadewi; Jiarti Kusbandiyah; Dinda Oktia Maghfiroh
Media Husada Journal Of Community Service Vol. 4 No. 2 (2025): Media Husada Journal of Community Service
Publisher : STIKES Widyagama Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33475/mhjcs.v4i2.56

Abstract

Any form of action that causes someone to feel insulted, harassed, humiliated and experience violence related to reproductive function, causing physical or psychological suffering and disrupting reproductive health is a resolution of sexual violence, the incidence of which is increasing from year to year. During the period of 2023, the Ministry of Women's Empowerment and Child Protection recorded 19,593 cases of violence in Indonesia. Women are more at risk of experiencing sexual violence than men with a percentage of 88.5%. Adolescents in the 13-17 age range are also a larger group experiencing violence by 38% compared to the 6-12 age group, 18-24 years and under 5 years of age. Physical violence is more common when compared to psychological violence, which is 43.8%.. This indicates that junior and senior high school age teenagers are the most victims of sexual violence. The number of cases of sexual violence in Malang Regency ranks first in East Java. In 2021 there were 125 cases reported and in 2022 up to July there will have been 135 cases, so it is estimated that this will increase by 50-100%. The number of sexual violence recorded is a reported incident, however, there are many cases that are not officially reported, which are called dark numbers, which have the potential to be higher than what is reported. This is due to the reluctance of victims to report due to the following factors: 1). Feelings of shame over the incident experienced because they are often blamed for the incident; 2). Unclear mechanisms regarding reporting cases of sexual violence; 3). Victims' distrust of the existing treatment system; 4). Not realizing that the incident was an act of sexual violence and 5). Fear of the risks that will be faced if the case is reported.
Pengaruh Postnatal Massage terhadap Proses Involusi dan Laktasi Masa Nifas di Malang Jiarti Kusbandiyah; Yuniar Angelia Puspadewi
Journal of Ners and Midwifery Vol 7 No 1 (2020)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v7i1.ART.p065-072

Abstract

Masa Nifas merupakan masa kritis bagi ibu pasca melahirkan. Ketidaksiapan secara fisik, psikis, mental dan spiritual dalam menghadapi masa ini akan membuat masa nifas berjalan tidak normal. Parameter kesuksesan masa nifas adalah proses involusi dan laktasi. Permasalahn involusi dilihat dari banyaknya perdarahan postpartum yang disebabkan oleh atonia uteri di Kabupaten Malang sebanyak 34%, sedangkan permasalahan laktasi dikaitkan dengan pemberian ASI Eksklusif di Kota Malang masih rendah sekitar 60%. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah tindakan postnatal massage. Tindakan tersebut dapat merelaksasikan ketegangan dan mengatasi keletihan pasca melahirkan yang dapat memicu subinvolusi dan kegagalan laktasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh postnatal massage terhadap proses involusi dan laktasi pada masa nifas. Penelitian dilaksanakan di beberapa Bidan Praktik Mandiri (PMB) di kota dan kabupaten Malang menggunakan desain quasi experimental. Populasi adalah ibu postpartum 2 jam sampai dengan 6 hari. Sampel diambil menggunakan purposive sampling sebanyak masing-masing 21 ibu postpartum kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Data penelitian menggunakan data primer dan dianalisis secara deskriptif dan analitik.  Analisis data menggunakan uji Mann-Whitney menunjukkan hasil p-value 0,093 untuk involusi dan 0,369 untuk laktasi. Kesimpulannya adalah tidak ada pengaruh signifikan antara postnatal massage dengan involusi dan laktasi pada masa nifas. Postnatal massage lebih berkaitan dengan efek jangka pendek dalam memberikan efek relasasi dan mengurangi keletihan pasca melahirkan. Dukungan dan motivasi dalam bentuk dukungan psikologis dan peran dalam merawat bayi sangat diperlukan oleh ibu postpartum dalam  menjaga proses involusi dan laktasi tetap lancar. Puerperium is a critical period for mother after giving birth. Physical, psychological, mental and spiritual unpreparedness in dealing with this period will make the puerperium run abnormally. The parameters of the success of the puerperium are ivolution and lactation. The problem of involution can be seen from the amount of postpartum hemorrhage caused by uterine atony in Malang as much as 34%, while the lactation problem associated with exclusive breastfeeding in malang is still around 60% low. One effort that can be done is postnatal massage. These action can relax tension and overcome postpartum fatique wich can trigger subinvolution and lactation failure. This study aims to know the effect of postnatal massage on involution and lactation during the puerperium. The study was conducted in several independent midwifery practice in the city and district of Malang using a quasi experimental design.  The population is postpartum mothers 2 hours to 6 days. Samples were taken using purposive sampling as amany as 21 postpartum mothers in the treatment group dan control group. Data analysis using the Mann-Whitney test showed p-values 0,093 for involution and 0,369 for lactation. The conclution is that there no significant effect between postnatal massage with involution and lactation in the puerperium. Postnatal massage has more to do with short-term effects  in providing a relationship effect and reducing postpartum fatique. Support and motivation in the form of psychological supports and the role in caring for infants is needed by postpartum mothers in maintaining the process of involution and lactation remain smooth.
STUDI KASUS PEMBUATAN PERMEN JELLY BERBAHAN DASAR KOMBINASI EKSTRAK ETANOL BAYAM MERAH (EEBM) DAN EKSTRAK ETANOL BUNGA KRISAN (EEBK) Puspadewi, Yuniar Angelia; kusbandiyah, Jiarti; Devyanti, Elva
Cendekia Journal of Pharmacy Vol 9, No 2 (2025): Cendekia Journal of Pharmacy
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/cjp.v9i2.363

Abstract

Jelly candy is one of the most popular products because it is made from fruit or vegetables so that it has unique properties and has more nutritional value than other candies. Jelly candy sold in the market generally uses chemical essence ingredients. The ingredients for making jelly candy consist of sugar, pectin and a combination of red spinach ethanol extract and chrysanthemum flower ethanol extract as the basic ingredients so that it has a chewy and elastic texture. This study aims to determine the right composition of the amount of pectin, sugar, drying time in order to produce jelly candy with good quality and nutritional value. This study used a randomized block design (RAK) with organoleptic tests to assess the level of preference or suitability of a product so that it can be accepted by consumers. The study consisted of 4 groups of jelly candy with each group different for the amount of EEBM and EEBK, Sugar, Pectin, and drying time while the temperature for all groups was the same, namely 60ºC. Group 1 (PJF1) consists of EEBM EEBK: 30g, Sugar: 40gr, Pectin: 3gr,, Time: 2 hours. Group 2 (PJF2) consists of EEBM EEBK: 20g, Sugar: 30gr, Pectin: 4gr, Time: 2 hours. Group 3 (PJF3) consists of EEBM EEBK: 15gr, Sugar: 20gr, Pectin: 5gr, Time: 3 hours. Group 4 (PJF4) consists of EEBM EEBK: 10gr, Sugar 10gr, Pectin: 6gr, Time: 3 hours. The results of the study conducted on 12 female teenage panelists showed that to produce jelly candy made from red spinach ethanol extract and chrysanthemum flower ethanol extract that is good and preferred in terms of color, aroma, texture and taste can be made by using 3gr of pectin, 40gr of sugar, temperature 60ºC and drying time 2 hours.
Analysis of Total Flavonoid and Phenol Content from the Combination of Red Spinach (Amaranthus tricolor L.) Ethanolic Extract and Chrysanthemum Flower (Chrysanthemum morifolium) Ethanolic Extract as a Potential Anti-anemic Kusbandiyah, Jiarti; Angelia Puspadewi, Yuniar; Oktia Maghfiroh, Dinda
Jurnal Pendidikan Keperawatan Indonesia Vol 9, No 1 (2023): Volume 9, Nomor 1, Juni 2023
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v9i1.58209

Abstract

Red spinach and chrysanthemum are two plants that contain various active compounds, including flavonoids and phenols which have good antioxidant activity. One of the benefits of antioxidants is as an anti-anemia. The combination of red spinach and chrysanthemum extracts is expected to be a potential alternative treatment for anemia by combining high Fe and antioxidants found in both herbal ingredients. Research related to test the levels of flavonoids and phenols in red spinach and chrysanthemum extracts (in combination) has not been carried out. This study aimed to measure the total flavonoid and phenol levels of the combination of red spinach ethanol extract (EEBM) and chrysanthemum flower ethanol extract (EEBK). The design of this research is descriptif quantitative. The method used for the extraction is maceration. The solvent used is 70% ethanol. Then the two extracts were combined by mixing the two extracts with a ratio of 5.6 ml EEBM and 1.4 ml EEBK. The process of mixing the extracts was carried out by the centrifugation method. The suspension of the combination of EEBM and EEBK was then measured for the total flavonoid and phenol content. Determination of total flavonoid content (TFC) was carried out using UV-Vis spectrophotometry method with AlCl3 reagent at 425 nm. TFC results are expressed in quercetin equivalent (QE). The TFC result from the combination of EEBM and EEBK was 85.33 mg QE/g. Determination of total phenol content (TPC) was carried out using UV-Vis spectrophotometry method with Folin-Ciocalteu LP reagent at 735 nm. TPC results are expressed in gallic acid equivalent (GAE). The TPC result from the combination of EEBM and EEBK is 25.22 GAE/g. Flavonoids and phenols contained in the combination of EEBM + EEBK extracts can be an alternative anti-anemia because they have the effect of helping the absorption of iron in the intestine
“Posyandu Cerdas: Peningkatan Peran Kader Lansia dalam Deteksi Dini dan Edukasi Diabetes & Hipertensi” Puspadewi, Yuniar Angelia Puspadewi; Kusbandiyah, Jiarti
Media Husada Journal Of Community Service Vol. 5 No. 1 (2026): Media Husada Journal of Community Service (April)
Publisher : STIKES Widyagama Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33475/mhjcs.v5i1.67

Abstract

Deteksi dini penyakit tidak menular merupakan cara untuk mengetahui faktor resiko terjadinya penyakit tidak menular. Penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes dan hipertensi merupakan masalah kesehatan utama pada lansia. Posyandu lansia “wijaya kusuma 14” memiliki kader lansia sebanyak 8 orang dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang berbeda. Kendala yang di hadapi oleh mitra adalah bahwa dari 8 kader lansia tersebut belum pernah mendapatkan edukasi terkait penyakit diabetes dan hipertensi sehingga mereka belum mampu menjawab atau membantu sepenuhnya bagi lansia yang memiliki kedua penyakit tersebut. Jadi mitra merasa perlu upgrade ilmu terkait bagaimana pengelolaan secara dini atau deteksi secara dini terkait penyakit diabetes dan hipertensi. Kegiatan deteksi dini penyakit tidak menular sangat penting dilakukan guna membantu pemerintah dalam mengendalikan dan mencegah terjadinya peningkatan penyakit tidak menular melalui pengabdian masyarakat “Posyandu Cerdas”. Metode dan Tahapan Pelaksanaan Pengabdian adalah sebagai berikut sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi inovasi, pendampingan dan evaluasi serta keberlanjutan program. Berdasarkan rangkaian kegiatan didapatkan hasil menunjukkan bahwa adanya peningkatan yang jelas dan positif pada tingkat pengetahuan kader setelah diberikan edukasi. Hal tersebut ditunjukkan oleh ada peningkatan jumlah kader dengan pengetahuan baik dan tidak adanya kader yang memiliki pengetahuan kurang setelah diberikan edukasi
ANALISIS FAKTOR USIA, PENDIDIKAN, PARITAS DAN JENIS PERSALINAN TERHADAP KEBERHASILAN INISIASI MENYUSU DINI (IMD) Yuniar Angelia Puspadewi
Media Husada Journal of Midwifery Science Vol. 2 No. 2 (2024): Juli
Publisher : LPPM Widyagama Husada Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33475/mhjms.v2i2.16

Abstract

Breasfeeding Early Initiation is an activity of allowing a newborn baby to breastfeed immediately within the first hour of birth, along with contact between the baby's skin and the mother's skin. If IMD is not carried out in less than an hour or there is a fabric barrier between the baby's skin and the mother's skin so that they do not touch each other, then IMD is said to be imperfect. In Indonesia, this IMD policy has been socialized since August 2007. Nationally in 2021, the percentage of newborns within the first hour who have received IMD is 82.7%. The aim of this research is to determine the factors of age, education, parity and type of delivery on the success of IMD in TPMB Malang City. This type of research is quantitative with a cross sectional design. The total sample was 30 people who gave birth at TPMB or were referred to the hospital. Questionnaire was used to collect data. This research used chi-square test for bivariate and logistic regression for multivariate. The results showed a relationship between parity (p value 0.028 and OR 5.500) and delivery type (p value 0.040 and OR 9.333) on the success of IMD. There is no relationship between age (p value 0.674) and education (p value 1.000) on the success of IMD. The most influenced factor was the delivery type with an OR of 9.333, which means that normal birth had a success rate of IMD 9 times higher than those who give birth via caesarean section. Therefore, it is hoped that whatever type of birth will be carried out, you should still be able to carry out IMD.