Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Patriarchy and the cycle of violence: deconstructing the normalization of violence against women and children in Nagekeo Mite, Petrus Selestinus
The International Journal of Politics and Sociology Research Vol. 13 No. 1 (2025): June: Law, Politic and Sosiology
Publisher : Trigin Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/ijopsor.v13i1.294

Abstract

Cases of violence against children and women are one of the complex and certainly urgent social issues, especially for regions or regions with strong patriarchal social structures. Violence against women and children is not only influenced by patriarchal structures, but is also reinforced by cycles of normalization that perpetuate the practice as part of cultural "normality." This research aims to deconstruct how patriarchal norms work in shaping people's perceptions of violence, analyze the mechanisms of the cycle of violence (reproduction, justification, and impunity), and identify gaps in culture-based interventions to break the chain of violence. A qualitative approach with a content analysis approach through violence case data from the Nagekeo Village Community Empowerment Office (PMD) and content analysis of local media news and previous studies. The things that can be used as novelties in this paper are to provide new knowledge about how patriarchal norms are transforming or persisting in the current era, as well as their implications for violence against women in the local context, especially the Nagekeo-NTT Society. The process and way to find out how patriarchal culture works is to study case data collected by the Village Community Empowerment Office, especially in the field of women and child empowerment. The analysis of the data proves that the number of violence per quarter of the last year tends to be stable and there is a significant increase. These conditions want to strengthen the basic thesis that there is a kind of habit that is considered normal if violence is committed against children and women. Even in terms of awareness, there are people who have dared to report these cases to the relevant agencies or NGOs that handle them.
OBJEKTIFIKASI VISUAL SENSUALITAS ALA TRANSPORTASI UMUM: MELACAK KEBIJAKAN DAN IMPLEMENTASINYA DI KOTA KUPANG Liu, Martha Yulianti; Nenu, Lorensa Marani Panda; Sari, Delviana; Riweng, Aflina; Jehamat, Lasarus; Mite, Petrus Salestinus; Gero, Helga Maria Evarista; Meka, Cristin Erika
Responsive Vol 8, No 2 (2025): Responsive: Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Administrasi, Sosial, Humaniora Dan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/responsive.v8i2.59087

Abstract

Studi ini adalah studi kebijakan publik yang mengatur objektifikasi visual sensualitas pada transportasi umum dengan menggunakan pendekatan teori kontrak sosial Jean-Jacques Rousseau. Problematika melanggar martabat  dengan memvisualisasikan sensualitas berkelana menyusuri jalanan Kota Kupang. Pemerintah sebagai payung warga melalui kebijakannya menjadi dalil sah untuk melindungi dan memenuhi hak warganya.  Menggunakan metode penelitian kualitatif pendekatan institusional, mendapati hasil bahwa kebijakan yang mengatur objektifikasi visual sensualitas pada transportasi umum berbasis perizinan operasional yang telah memenuhi standarisasi program Gender, Equality, Disability, and Social Inclusion. Upaya peninjaklanjutan pelanggaran dilakukan dalam bentuk penertiban dan pembimbingan. Tantangan utama tindakan ini masif terjadi karena ketergantungan ekonomi pengemudi serta kurangnya edukasi mengenai objektifikasi visual sensualitas baik kepada pengemudi maupun masyarakat sebagai user.  Upaya lainnya dilakukan melalui pelaksanaan lomba bemo ramah bahasa atau disingkat raisa. Berdasarkan temuan tersebut dan fenomena aktual yang terjadi, dapat disimpulkan bahwa kebijakan, program yang telah dilaksanakan belum optimal dalam penanganan objektivikasi visual sensualitas pada transportasi umum.  This study is a public policy study that regulates the visual objectification of sensuality on public transportation using Jean-Jacques Rousseau's social contract theory approach. Problems of violating dignity by visualizing sensuality wander through the streets of Kupang City. The government as the umbrella of citizens through its policies is a legitimate argument to protect and fulfill the rights of its citizens.  Using a qualitative research method with an institutional approach, we found that the policy governing visual objectification of sensuality on public transportation is based on operational licensing that has met the standardization of the Gender, Equality, Disability, and Social Inclusion program. Efforts to follow up on violations are carried out in the form of curbing and guiding. The main challenge of this action is massive due to the economic dependence of drivers and the lack of education on visual objectification of sensuality both to drivers and the public as users.  Other efforts are made through the implementation of language-friendly bemo competitions or raisa for short. Based on these findings and the actual phenomena that occur, it can be concluded that the policies and programs that have been implemented have not been optimal in handling the visual objectification of sensuality in public transportation.
Persahabatan Lawan Jenis Terhadap Preferensi Perilaku Wanita Dewasa Awal Dalam Perspektif Konstruksi Sosial Taboen, Aprianus Paskalius; Nahak, Imelda; Mite, Petrus Selestinus; Manafe, Jacklin Stefany
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 1 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i1.66806

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana persahabatan lawan jenis membentuk pemaknaan dan preferensi perilaku perempuan dewasa awal melalui proses konstruksi sosial. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis, penelitian ini melibatkan enam perempuan berusia 20–30 tahun dari Pontianak, Jakarta, dan Kupang yang memiliki pengalaman persahabatan intens dengan sahabat pria. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta telaah interaksi digital, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik Braun dan Clarke. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi lintas gender menjadi arena terbentuknya pola pikir yang lebih rasional, peningkatan kemandirian dalam pengambilan keputusan, dan penyesuaian gaya komunikasi yang lebih lugas. Proses resosialisasi nilai tampak ketika perempuan mengadopsi pola berpikir sistematis, strategi komunikasi terstruktur, dan memperoleh pemahaman baru mengenai dinamika relasi romantis. Namun, temuan juga mengungkap keberlanjutan tekanan sosial melalui norma yang mengaitkan kedekatan pria–wanita dengan potensi romansa, termasuk tantangan yang muncul pada ruang digital berupa ambiguitas relasi dan perubahan batasan interaksi. Secara keseluruhan, pemaknaan dan preferensi perilaku perempuan dalam persahabatan lawan jenis merupakan hasil interaksi dialektis antara struktur sosial, norma gender, dan agensi individu. Temuan ini memperkaya literatur sosiologi hubungan sosial terkait rekonstruksi makna gender dalam konteks persahabatan heterosocial.Kata kunci: Persahabatan Lawan Jenis, Konstruksi Sosial, Wanita Dewasa Awal, Interaksi Lintas Gender ABSTRACT This study examines how cross-gender friendships shape the meaning-making processes and behavioral preferences of early adult women through social construction. Using a qualitative phenomenological design, the research involved six women aged 20–30 from Pontianak, Jakarta, and Kupang who had intensive cross-gender friendship experiences. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and analysis of digital interactions, and were analyzed using Braun and Clarke’s thematic analysis. The findings reveal that cross-gender interactions function as a site where more rational thinking patterns, greater independence in decision-making, and more direct communication styles are formed. A process of value resocialization occurs as women adopt systematic modes of reasoning, structured communication strategies, and new understandings of romantic relationship dynamics. However, the study also identifies persistent social pressures stemming from norms that associate male–female closeness with potential romantic involvement, alongside emerging challenges in digital spaces such as relational ambiguity and shifting interaction boundaries. Overall, women’s meaning-making and behavioral preferences in cross-gender friendships are shaped through dialectical interactions among social structures, gender norms, and individual agency. These findings contribute to sociological scholarship by illuminating the reconstruction of gender meanings within heterosocial friendship contexts.Keywords: Cross-Gender Friendship, Social Construction, Early Adult Women, Heterosocial Interaction   
Ekologi Sosial Di Bawah Tekanan Iklim: Pola Adaptasi Masyarakat Pesisir Oeba, Kota Kupang Terhadap Perubahan Lingkungan pada Musim Penghujan Akhir Tahun: Penelitian Olivia, Irene; Melani Ndun; Femy Taek; Petrus Selestinus Mite; Lasarus Jehamat; Imelda Nahak
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.4343

Abstract

Perubahan iklim di wilayah pesisir Oeba menyebabkan tekanan ekologis yang signifikan, termasuk peningkatan curah hujan, banjir bandang, dan ketidakstabilan cuaca ekstrem yang mengganggu kegiatan sosial-ekonomi masyarakat, terutama nelayan. Melalui perspektif ekologi sosial, perubahan ekologi ini tidak hanya mempengaruhi sistem sosial, tetapi juga mendapat umpan balik melalui respon adaptif masyarakat yang berdampak langsung pada kelangsungan lingkungan pesisir. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi untuk mengkaji hubungan timbal balik antara sistem ekologi yang tertekan dan strategi adaptasi sosial masyarakat pesisir Oeba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan iklim mendorong lahirnya berbagai bentuk adaptasi masyarakat, seperti diversifikasi mata pencaharian (menjual makanan olahan ikan, menjadi pekerja pelabuhan), memperkuat jejaring sosial, dan memanfaatkan kearifan lokal. Adaptasi ini tidak hanya berfungsi sebagai strategi bertahan hidup, tetapi juga sebagai mekanisme sosial-ekologis yang membantu menstabilkan kondisi lingkungan dan ekonomi masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa masyarakat Oeba tidak hanya menjadi korban perubahan iklim, tetapi juga aktor aktif yang mampu menciptakan strategi bertahan hidup berdasarkan pengetahuan dan pengalaman bersama. Namun, ketimpangan kebijakan dan dukungan pemerintah yang tidak merata menjadi hambatan dalam membangun ketahanan jangka panjang. Penelitian ini menekankan pentingnya penguatan kapasitas sosial dan kebijakan adaptif berbasis masyarakat. Perubahan iklim di wilayah pesisir Oeba menyebabkan tekanan ekologis yang signifikan, termasuk peningkatan curah hujan, banjir bandang, dan ketidakstabilan cuaca ekstrem yang mengganggu aktivitas sosial-ekonomi masyarakat, terutama nelayan. Melalui perspektif ekologi sosial, perubahan ekologis ini tidak hanya memengaruhi sistem sosial, tetapi juga memperoleh umpan balik melalui respons adaptif masyarakat yang secara langsung berdampak pada keberlanjutan lingkungan pesisir. Studi ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi untuk meneliti hubungan timbal balik antara sistem ekologis yang tertekan dan strategi adaptasi sosial masyarakat pesisir Oeba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan iklim mendorong munculnya berbagai bentuk adaptasi dari masyarakat, seperti diversifikasi mata pencaharian (menjual ikan olahan, menjadi pekerja pelabuhan), memperkuat jaringan sosial, dan memanfaatkan kearifan lokal. Adaptasi ini tidak hanya berfungsi sebagai strategi bertahan hidup, tetapi juga sebagai mekanisme sosial-ekologis yang membantu menstabilkan kondisi lingkungan dan ekonomi masyarakat. Studi ini menyimpulkan bahwa masyarakat Oeba bukan hanya korban perubahan iklim, tetapi juga aktor aktif yang mampu menciptakan strategi bertahan hidup berdasarkan pengetahuan dan pengalaman bersama. Namun, ketidaksetaraan kebijakan dan dukungan pemerintah yang tidak merata merupakan hambatan dalam membangun ketahanan jangka panjang. Penelitian ini menekankan pentingnya penguatan kapasitas sosial dan kebijakan adaptif berbasis komunitas.
FOMO dan Negosiasi Identitas Generasi Z Di Ruang Digital Mahasiswa Universitas Nusa Cendana Kupang: (Scrooling- Self Constrution) Petrus Selestinus Mite; Maria Valentina Jelita; Dafrosa Desfita Atriwanti; Angely Victory; Yohanes Debrito Pake; Lasarus Jehamat; Imelda Nahak
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3506

Abstract

Perkembangan teknologi digital yang pesat telah secara signifikan mengubah cara individu membangun, menampilkan, dan menegosiasikan identitas sosial mereka. Media sosial tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai ruang untuk representasi diri dan konstruksi makna sosial baru. Generasi Z, sebagai penduduk asli digital yang tumbuh dengan akses konstan terhadap teknologi, merupakan kelompok yang paling terpengaruh oleh dinamika ini. Studi ini bertujuan untuk meneliti peran media sosial dalam membentuk fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dan untuk memahami bagaimana FOMO berkontribusi pada proses konstruksi identitas di kalangan Generasi Z, khususnya mahasiswa Universitas Nusa Cendana di Kupang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi yang melibatkan informan yang dipilih secara purposif yang merupakan pengguna media sosial aktif dan menunjukkan perilaku terkait FOMO. Temuan menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang intensif, terutama pengguliran pasif, paparan konten viral, dan interaksi antar teman sebaya mendorong perbandingan sosial yang memicu FOMO. Fenomena ini memotivasi siswa untuk mengikuti tren, terlibat dalam konsumsi simbolis, dan mengelola presentasi diri mereka untuk mendapatkan pengakuan sosial. Akibatnya, identitas siswa bersifat cair, performatif, dan terus-menerus dinegosiasikan antara otentisitas pribadi dan ekspektasi sosial digital. Meskipun demikian, beberapa siswa menunjukkan kesadaran reflektif dan mengembangkan strategi untuk mengelola FOMO, mengatur penggunaan media sosial, dan menjaga kesejahteraan mental. Studi ini menyimpulkan bahwa media sosial memainkan peran penting dalam membentuk FOMO dan konstruksi identitas digital di kalangan siswa Generasi Z dalam konteks lokal Kupang. Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah mengubah cara individu membangun dan menegosiasikan identitas sosial, khususnya pada Generasi Z yang tumbuh menjadi digital native. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai ruang representasi diri, konstruksi makna sosial, serta pembentukan identitas digital. Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran media sosial dalam menciptakan fenomena Fear of Missing Out (FOMO) serta bagaimana FOMO berkontribusi dalam proses konstruksi identitas Generasi Z, khususnya mahasiswa Universitas Nusa Cendana Kupang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap informan yang dipilih secara purposive, yaitu mahasiswa Generasi Z yang aktif menggunakan media sosial dan menunjukkan kecenderungan perilaku FOMO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial, terutama aktivitas scrolling dan paparan konten viral, memicu komunikasi sosial yang berakhir pada FOMO. Fenomena ini mendorong mahasiswa untuk mengikuti tren, melakukan konsumsi simbolik, serta mengelola citra diri demi memperoleh pengakuan sosial. Proses tersebut menunjukkan bahwa identitas siswa bersifat cair, performatif, dan terus dinegosiasikan antara keaslian diri dan tuntutan norma digital. Meskipun demikian, sebagian mahasiswa juga menunjukkan kesadaran reflektif dan resistensi strategi untuk mengelola tekanan FOMO dan menjaga kesehatan mental. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media sosial berperan signifikan dalam membentuk dinamika FOMO dan konstruksi identitas digital mahasiswa Generasi Z di Kota Kupang.
Dinamika Interaksi Sosial, Persaingan Ruang, dan Adaptasi Digital UMKM di CFD El Tari Kupang Chetryn Malelak, Ajeng; Fangidae, Yuliati; Telik, Yovita Febiana; Afriano, Blasius; Jehamat, Lasarus; Nahak, Imelda; Mite, Petrus Salestinus
Journal of Entrepreneurship and Strategic Management Vol. 4 No. 02 (2025): Journal Of Entrepeneurship and Strategic Management
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jesm.v4i02.628

Abstract

Penelitian ini mengkaji dinamika interaksi sosial, persaingan ruang, dan adaptasi digital pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pada kegiatan Car Free Day (CFD) El Tari Kupang sebagai ruang publik yang berfungsi sebagai arena ekonomi dan sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam dan observasi terhadap empat pelaku UMKM yang aktif berjualan di CFD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antar pelaku UMKM berlangsung secara situasional dan fungsional, yakni meskipun berada dalam ruang yang kompetitif, mereka tetap menjaga komunikasi, etika sosial, dan solidaritas sederhana. Interaksi pelaku UMKM dengan konsumen menunjukkan adanya dinamika pelayanan terutama ketika kondisi ramai, di mana kesalahpahaman terkait antrian dan waktu pelayanan kerap muncul, namun dapat dikelola melalui komunikasi interpersonal yang baik. Di sisi lain, persaingan ruang menjadi tantangan utama akibat tidak adanya penataan lapak yang terstruktur sehingga lokasi strategis banyak diperebutkan dan memicu sensitivitas antar pelaku usaha. Penelitian ini juga mendapati bahwa digitalisasi melalui pemanfaatan media sosial (TikTok, Instagram, Facebook, WhatsApp) serta sistem pembayaran QRIS telah menjadi strategi penting bagi UMKM dalam mempromosikan produk, memperluas jangkauan pasar, mempercepat transaksi, dan meningkatkan tata kelola keuangan. Temuan penelitian menegaskan bahwa keberhasilan UMKM di CFD ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan interaksi sosial, navigasi terhadap dinamika ruang, dan pemanfaatan teknologi digital secara bersamaan. Kajian ini berkontribusi pada pengembangan strategi pemberdayaan UMKM berbasis digital dan pengelolaan ruang publik yang lebih efektif.
The dilemma between helping and perpetuating the problem: Kupang city's public perception of child beggars or vendors at traffic lights Mite, Petrus Selestinus; Jehamat, Lasarus; Jeraman, Maria Roshanty Trinitasya Djoka; Tiran, Irma Susanti
The International Journal of Politics and Sociology Research Vol. 13 No. 4 (2026): Law, Politic and Sosiology
Publisher : Trigin Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/ijopsor.v13i4.307

Abstract

This study looks at the moral conundrum that drivers in Kupang, Indonesia, face every day when they come across street merchants and child beggars at traffic signals. There is a conflict between the want to help out out of sympathy and the worry that doing so could make the child's precarious condition worse. The study explores how people understand and navigate these fleeting street interactions using a qualitative technique and Symbolic Interactionism as its theoretical framework. It concludes that visual clues, such as the children's looks, gestures, and approaches to cars, significantly influence public perception and reaction. Giving is primarily motivated by sympathy, but this inclination is crucially moderated by the knowledge that financial support may unintentionally prolong homelessness, interfere with education, and raise vulnerability to exploitation. As a result, people learn sophisticated, practical ways to deal with this dilemma. These include giving under certain conditions, providing food or beverages rather than money, or purposefully refusing material assistance while still being courteous and compassionate. The survey also shows that the public holds family and political institutions accountable for systemic solutions, with a focus on protection, support, and regulation. The study advances theory by showing how Symbolic Interactionism clarifies a contemporary urban conundrum, emphasizing that the decision to assist or not is a socially formed process rather than just an individual moral calculation. Its originality is in describing the commonplace meaning-making and adaptive tactics that the public uses to jointly manage ethical ambiguity in shared urban areas, such as contributing without anticipating a material exchange or utilizing politeness as a non-monetary reaction.
Lippo Plaza Kupang Sebagai Ruang Konsumsi Urban: Analisis Ketimpangan Sosial Dan Perilaku Pelajar Maria Jesika Pajong; Enjelina Nelo; Elza Melsiana Putri Kanni; Kristin Melani Tinenti; Gilardino Sergius Kaesnube; Sandiang Kaya Ndapa Namung; Lasarus Jehamat; Petrus Selestinus Mite
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.9057

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Lippo Plaza Kupang sebagai ruang konsumsi perkotaan dalam membentuk perilaku sosial mahasiswa dan mencerminkan dinamika ketidaksetaraan sosial dalam masyarakat perkotaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi informan yang terdiri dari mahasiswa, mahasiswi, pengunjung umum, dan pelaku usaha di Lippo Plaza Kupang. Informan dipilih menggunakan purposive sampling, sedangkan analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lippo Plaza Kupang telah bertransformasi menjadi ruang konsumsi perkotaan yang berfungsi tidak hanya sebagai tempat berbelanja tetapi juga sebagai tempat berkumpul, bersosialisasi, mencari hiburan, dan membangun hubungan sosial. Kehadiran berbagai fasilitas modern menjadikan mal ini bagian integral dari gaya hidup mahasiswa dan pelajar universitas. Selain mendorong perilaku konsumerisme, mal ini juga berfungsi sebagai sarana untuk mengekspresikan identitas pribadi dan mendapatkan pengakuan sosial. Studi ini juga mengidentifikasi ketidaksetaraan sosial yang tercermin dalam kemampuan pengunjung yang berbeda-beda dalam mengakses fasilitas. Perbedaan modal ekonomi menyebabkan diferensiasi sosial dalam pola konsumsi dan penggunaan ruang mal. Dengan demikian, Lippo Plaza Kupang tidak hanya berfungsi sebagai pusat perbelanjaan modern tetapi juga sebagai ruang konsumsi perkotaan yang membentuk perilaku sosial sekaligus merepresentasikan dinamika ketidaksetaraan sosial dalam masyarakat perkotaan. Kata kunci: ruang konsumsi perkotaan, perilaku sosial, budaya konsumen, ketidaksetaraan sosial, Lippo Plaza Kupang.   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Lippo Plaza kupang sebagai ruang konsumsi perkotaan dalam membentuk perilaku sosial pelajar serta merefleksikan dinamika ketimpangan sosial di masyarakat perkotaan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi terhadap informan yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, pengunjung umum, serta pelaku usaha di Lippo Plaza kupang. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling, sedangkan analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lippo Plaza kupang telah bertransformasi menjadi ruang konsumsi perkotaan yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat berbelanja, tetapi juga sebagai tempat berkumpul, bersosialisasi, mencari hiburan, dan membangun hubungan sosial. Keberadaan berbagai fasilitas modern menjadikan mall tersebut sebagai bagian integral dari gaya hidup pelajar dan pelajar. Selain membentuk perilaku konsumtif, mall juga menjadi sarana mengekspresikan identitas diri dan memperoleh pengakuan sosial. Penelitian ini juga mengidentifikasi ketimpangan sosial yang tercermin melalui perbedaan kemampuan pengunjung dalam mengakses fasilitas. Perbedaan modal ekonomi menimbulkan diferensiasi sosial dalam pola konsumsi dan pemanfaatan ruang mall. Dengan demikian, Lippo Plaza kupang tidak hanya berfungsi sebagai pusat perbelanjaan modern, namun juga sebagai ruang konsumsi perkotaan yang membentuk perilaku sosial sekaligus merepresentasikan dinamika ketimpangan sosial dalam masyarakat perkotaan.
Analisis Penggunaan Media Sosial Instagram Terhadap Interaksi Sosial DI Program Studi Sosiologi Semester VI Tahun 2026 (Perspektif Zygmunt Bauman) Elsy Neolaka Neolaka; Petrus Selestinus Mite; Lazarus Jehamat; Gerit Dewise Renciana Nenohalan; Nindro Esaldi Kadek; Doris Mangngi
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7882

Abstract

ABSTRACT This study aims to analyze how the use of the Instagram app impacts the social interaction patterns of sixth-semester Sociology students in 2026 by adapting Zygmunt Bauman’s theoretical framework on liquid modernity. This study employs a descriptive qualitative method supplemented by participant observation and in-depth interviews, with informants selected through purposive sampling. The study’s findings indicate that three primary patterns of Instagram use were identified among the students: its use as a tool for communication and social networking, its use for entertainment and content consumption, and its use to support academic activities. From the perspective of Bauman’s theory, the phenomenon of Instagram use among students reflects the defining characteristics of liquid modernity, where social relations are fluid and ever-changing. With just a single click to follow or unfollow, a friendship can be formed or end just as easily. This phenomenon proves that Bauman’s argument is valid: social bonds in the modern era are becoming increasingly weak and temporary. Bauman’s concept of “liquid love” is also clearly evident in this context, as students tend to judge the value of social relationships based on the number of followers, likes, and comments, rather than on the actual depth of the relationship. This study concludes that Bauman’s theory of liquid modernity is suitable for understanding the dynamics of students’ social interactions in the Instagram era; however, the university must make efforts to educate students on productive and healthy social media use, so they can benefit from digital platforms without compromising their communication skills and real-life social relationships. Keywords: Instagram, social interaction, liquid modernity, Sociology students. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana penggunaan aplikasi Instagram berdampak pada pola interaksi sosial mahasiswa Program Studi Sosiologi semester VI Tahun 2026 dengan mengadaptasi kerangka teoretis Zygmunt Bauman mengenai liquid modernity (modernitas cair). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang dilengkapi dengan teknik observasi partisipasi dan wawancara mendalam, dengan pemilihan informan dilakukan secara purposive. Temuan studi menunjukkan bahwa ada tiga pola utama penggunaan Instagram yang ditemukan di antara mahasiswa, yaitu penggunaannya sebagai alat komunikasi dan pembangunan jaringan sosial, penggunaannya untuk hiburan dan penyerapan konten, serta penggunaannya untuk mendukung aktivitas akademik. Dilihat dari perspektif teori Bauman, fenomena penggunaan Instagram di kalangan mahasiswa mencerminkan karakteristik kuat dari liquid modernity, di mana relasi sosial bersifat lentur dan berubah-ubah. Tergantung dari satu klik follow atau unfollow, hubungan pertemanan dapat tercipta atau berakhir begitu saja. Fenomena ini membuktikan bahwa argumen Bauman benar adanya, bahwa ikatan sosial di era modern kini menjadi semakin lemah dan bersifat sementara. Konsep liquid love dari Bauman juga terlihat jelas dalam konteks ini, karena mahasiswa cenderung menilai hubungan sosial berdasarkan angka followers, likes, dan comments, bukan pada kedalaman hubungan yang sebenarnya. Studi ini memberikan hasil akhir bahwa teori liquid modernity Bauman sesuai untuk memahami dinamika interaksi sosial mahasiswa di era Instagram, namun diperlukan upaya sosialisasi dari pihak kampus untuk mendidik mahasiswa mengenai penggunaan media sosial yang produktif dan sehat, supaya mereka dapat mengambil manfaat dari platform digital tanpa mengurangi kemampuan komunikasi dan relasi sosial mereka di kehidupan nyata. Kata Kunci: Instagram, interaksi sosial, liquid modernity, mahasiswa Sosiologi
Peran TikTok sebagai Media Sosial Periklanan dalam Meningkatkan Daya Tarik Fashion Kain Tenun Maumere: Pengabdian Annissa Lailatus Sholikhah; Bibiyana Rambu Babang; Febriana Yorlina Soge; Aldy M.F.Djubire; Misraim Ferroh; Servinus Angga Neno; Petrus Selestinus Mite; Lasarus Jelahut; Jacklin Stefany Manafe
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 5 Nomor 1 (Juli 2026 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v5i1.6869

Abstract

Perkembangan media sosial telah membuka peluang baru dalam pemasaran produk budaya lokal, salah satunya kain tenun Maumere dari Flores, Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran TikTok sebagai media sosial periklanan dalam meningkatkan daya tarik fashion kain tenun Maumere. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan 100 informan yang terdiri dari masyarakat asli Maumere dan masyarakat non-Maumere melalui kuesioner daring, observasi digital, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok berhasil mengkonstruksi ulang citra tenun Maumere dari busana adat formal menjadi elemen fashion modern yang relevan dan diminati, terutama oleh generasi muda, melalui konten kreatif, algoritma personal, serta peran aktif kreator konten, influencer, dan pelaku UMKM. Proses ini dianalisis menggunakan teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann melalui tiga tahap yakni objektivasi, eksternalisasi, dan internalisasi. Di samping pergeseran persepsi masyarakat, TikTok turut membuka peluang ekonomi bagi penenun lokal seiring meningkatnya permintaan pasar. Namun, pendekatan konten yang edukatif tetap diperlukan agar nilai budaya tenun Maumere tidak tereduksi menjadi sekadar tren visual semata. The rise of social media has opened up new opportunities for marketing local cultural products, one of which is Maumere woven fabric from Flores, East Nusa Tenggara. This study aims to analyze the role of TikTok as an advertising platform in enhancing the appeal of Maumere woven fabric as a fashion item. The study employs a descriptive qualitative approach, involving 100 informants comprising both native Maumere residents and non-Maumere residents through online questionnaires, digital observations, and literature review. The results indicate that TikTok has successfully redefined the image of Maumere woven fabric, transforming it from formal traditional attire into a relevant and sought-after element of modern fashion particularly among the younger generation through creative content, personalized algorithms, and the active roles of content creators, influencers, and SME operators. This process was analyzed using Berger and Luckmann’s social construction theory across three stages: objectification, externalization, and internalization. In addition to shifting public perceptions, TikTok has also opened economic opportunities for local weavers as market demand increases. However, an educational approach to content remains necessary to ensure that the cultural value of Maumere weaving is not reduced to merely a visual trend.