Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Patriarchy and the cycle of violence: deconstructing the normalization of violence against women and children in Nagekeo Mite, Petrus Selestinus
The International Journal of Politics and Sociology Research Vol. 13 No. 1 (2025): June: Law, Politic and Sosiology
Publisher : Trigin Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/ijopsor.v13i1.294

Abstract

Cases of violence against children and women are one of the complex and certainly urgent social issues, especially for regions or regions with strong patriarchal social structures. Violence against women and children is not only influenced by patriarchal structures, but is also reinforced by cycles of normalization that perpetuate the practice as part of cultural "normality." This research aims to deconstruct how patriarchal norms work in shaping people's perceptions of violence, analyze the mechanisms of the cycle of violence (reproduction, justification, and impunity), and identify gaps in culture-based interventions to break the chain of violence. A qualitative approach with a content analysis approach through violence case data from the Nagekeo Village Community Empowerment Office (PMD) and content analysis of local media news and previous studies. The things that can be used as novelties in this paper are to provide new knowledge about how patriarchal norms are transforming or persisting in the current era, as well as their implications for violence against women in the local context, especially the Nagekeo-NTT Society. The process and way to find out how patriarchal culture works is to study case data collected by the Village Community Empowerment Office, especially in the field of women and child empowerment. The analysis of the data proves that the number of violence per quarter of the last year tends to be stable and there is a significant increase. These conditions want to strengthen the basic thesis that there is a kind of habit that is considered normal if violence is committed against children and women. Even in terms of awareness, there are people who have dared to report these cases to the relevant agencies or NGOs that handle them.
OBJEKTIFIKASI VISUAL SENSUALITAS ALA TRANSPORTASI UMUM: MELACAK KEBIJAKAN DAN IMPLEMENTASINYA DI KOTA KUPANG Liu, Martha Yulianti; Nenu, Lorensa Marani Panda; Sari, Delviana; Riweng, Aflina; Jehamat, Lasarus; Mite, Petrus Salestinus; Gero, Helga Maria Evarista; Meka, Cristin Erika
Responsive Vol 8, No 2 (2025): Responsive: Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Administrasi, Sosial, Humaniora Dan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/responsive.v8i2.59087

Abstract

Studi ini adalah studi kebijakan publik yang mengatur objektifikasi visual sensualitas pada transportasi umum dengan menggunakan pendekatan teori kontrak sosial Jean-Jacques Rousseau. Problematika melanggar martabat  dengan memvisualisasikan sensualitas berkelana menyusuri jalanan Kota Kupang. Pemerintah sebagai payung warga melalui kebijakannya menjadi dalil sah untuk melindungi dan memenuhi hak warganya.  Menggunakan metode penelitian kualitatif pendekatan institusional, mendapati hasil bahwa kebijakan yang mengatur objektifikasi visual sensualitas pada transportasi umum berbasis perizinan operasional yang telah memenuhi standarisasi program Gender, Equality, Disability, and Social Inclusion. Upaya peninjaklanjutan pelanggaran dilakukan dalam bentuk penertiban dan pembimbingan. Tantangan utama tindakan ini masif terjadi karena ketergantungan ekonomi pengemudi serta kurangnya edukasi mengenai objektifikasi visual sensualitas baik kepada pengemudi maupun masyarakat sebagai user.  Upaya lainnya dilakukan melalui pelaksanaan lomba bemo ramah bahasa atau disingkat raisa. Berdasarkan temuan tersebut dan fenomena aktual yang terjadi, dapat disimpulkan bahwa kebijakan, program yang telah dilaksanakan belum optimal dalam penanganan objektivikasi visual sensualitas pada transportasi umum.  This study is a public policy study that regulates the visual objectification of sensuality on public transportation using Jean-Jacques Rousseau's social contract theory approach. Problems of violating dignity by visualizing sensuality wander through the streets of Kupang City. The government as the umbrella of citizens through its policies is a legitimate argument to protect and fulfill the rights of its citizens.  Using a qualitative research method with an institutional approach, we found that the policy governing visual objectification of sensuality on public transportation is based on operational licensing that has met the standardization of the Gender, Equality, Disability, and Social Inclusion program. Efforts to follow up on violations are carried out in the form of curbing and guiding. The main challenge of this action is massive due to the economic dependence of drivers and the lack of education on visual objectification of sensuality both to drivers and the public as users.  Other efforts are made through the implementation of language-friendly bemo competitions or raisa for short. Based on these findings and the actual phenomena that occur, it can be concluded that the policies and programs that have been implemented have not been optimal in handling the visual objectification of sensuality in public transportation.
Optimalisasi Wifi Bakti Aksi dalam Meningkatkan Kualitas Pelayanan Pengurusan Dokumen Administrasi Kependudukan di Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu Hotlif A Nope; Aprianus Paskalius Taboen; Imelda Nahak; Petrus Selestinus Mite
Devotion: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah, Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/devotion.v3i1.1-12

Abstract

Program pengabdian ini bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan jaringan Wifi Bakti Aksi dalam meningkatkan kualitas pelayanan pengurusan dokumen administrasi kependudukan di Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu. Meskipun infrastruktur internet telah tersedia di desa- desa, pemanfaatannya masih terbatas pada kebutuhan internal. Melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR), kegiatan ini melibatkan masyarakat, pemerintah desa, dan Disdukcapil secara aktif dalam sosialisasi, pelatihan, dan simulasi penggunaan aplikasi layanan digital SAPA Raimanuk. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam literasi digital masyarakat, kapasitas aparatur desa, serta kolaborasi lintas sektor. Kegiatan ini membuktikan bahwa penguatan kapasitas lokal dan pendekatan berbasis komunitas mampu mendorong transformasi digital pelayanan publik di wilayah 3T. Rekomendasi diarahkan pada replikasi model ini di wilayah serupa, dengan dukungan regulasi dan pendampingan berkelanjutan.
Persahabatan Lawan Jenis Terhadap Preferensi Perilaku Wanita Dewasa Awal Dalam Perspektif Konstruksi Sosial Taboen, Aprianus Paskalius; Nahak, Imelda; Mite, Petrus Selestinus; Manafe, Jacklin Stefany
Sosioglobal Vol 10, No 1 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i1.66806

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana persahabatan lawan jenis membentuk pemaknaan dan preferensi perilaku perempuan dewasa awal melalui proses konstruksi sosial. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis, penelitian ini melibatkan enam perempuan berusia 20–30 tahun dari Pontianak, Jakarta, dan Kupang yang memiliki pengalaman persahabatan intens dengan sahabat pria. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta telaah interaksi digital, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik Braun dan Clarke. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi lintas gender menjadi arena terbentuknya pola pikir yang lebih rasional, peningkatan kemandirian dalam pengambilan keputusan, dan penyesuaian gaya komunikasi yang lebih lugas. Proses resosialisasi nilai tampak ketika perempuan mengadopsi pola berpikir sistematis, strategi komunikasi terstruktur, dan memperoleh pemahaman baru mengenai dinamika relasi romantis. Namun, temuan juga mengungkap keberlanjutan tekanan sosial melalui norma yang mengaitkan kedekatan pria–wanita dengan potensi romansa, termasuk tantangan yang muncul pada ruang digital berupa ambiguitas relasi dan perubahan batasan interaksi. Secara keseluruhan, pemaknaan dan preferensi perilaku perempuan dalam persahabatan lawan jenis merupakan hasil interaksi dialektis antara struktur sosial, norma gender, dan agensi individu. Temuan ini memperkaya literatur sosiologi hubungan sosial terkait rekonstruksi makna gender dalam konteks persahabatan heterosocial.Kata kunci: Persahabatan Lawan Jenis, Konstruksi Sosial, Wanita Dewasa Awal, Interaksi Lintas Gender ABSTRACT This study examines how cross-gender friendships shape the meaning-making processes and behavioral preferences of early adult women through social construction. Using a qualitative phenomenological design, the research involved six women aged 20–30 from Pontianak, Jakarta, and Kupang who had intensive cross-gender friendship experiences. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and analysis of digital interactions, and were analyzed using Braun and Clarke’s thematic analysis. The findings reveal that cross-gender interactions function as a site where more rational thinking patterns, greater independence in decision-making, and more direct communication styles are formed. A process of value resocialization occurs as women adopt systematic modes of reasoning, structured communication strategies, and new understandings of romantic relationship dynamics. However, the study also identifies persistent social pressures stemming from norms that associate male–female closeness with potential romantic involvement, alongside emerging challenges in digital spaces such as relational ambiguity and shifting interaction boundaries. Overall, women’s meaning-making and behavioral preferences in cross-gender friendships are shaped through dialectical interactions among social structures, gender norms, and individual agency. These findings contribute to sociological scholarship by illuminating the reconstruction of gender meanings within heterosocial friendship contexts.Keywords: Cross-Gender Friendship, Social Construction, Early Adult Women, Heterosocial Interaction   
Ekologi Sosial Di Bawah Tekanan Iklim: Pola Adaptasi Masyarakat Pesisir Oeba, Kota Kupang Terhadap Perubahan Lingkungan pada Musim Penghujan Akhir Tahun: Penelitian Olivia, Irene; Melani Ndun; Femy Taek; Petrus Selestinus Mite; Lasarus Jehamat; Imelda Nahak
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.4343

Abstract

Perubahan iklim di wilayah pesisir Oeba menyebabkan tekanan ekologis yang signifikan, termasuk peningkatan curah hujan, banjir bandang, dan ketidakstabilan cuaca ekstrem yang mengganggu kegiatan sosial-ekonomi masyarakat, terutama nelayan. Melalui perspektif ekologi sosial, perubahan ekologi ini tidak hanya mempengaruhi sistem sosial, tetapi juga mendapat umpan balik melalui respon adaptif masyarakat yang berdampak langsung pada kelangsungan lingkungan pesisir. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi untuk mengkaji hubungan timbal balik antara sistem ekologi yang tertekan dan strategi adaptasi sosial masyarakat pesisir Oeba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan iklim mendorong lahirnya berbagai bentuk adaptasi masyarakat, seperti diversifikasi mata pencaharian (menjual makanan olahan ikan, menjadi pekerja pelabuhan), memperkuat jejaring sosial, dan memanfaatkan kearifan lokal. Adaptasi ini tidak hanya berfungsi sebagai strategi bertahan hidup, tetapi juga sebagai mekanisme sosial-ekologis yang membantu menstabilkan kondisi lingkungan dan ekonomi masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa masyarakat Oeba tidak hanya menjadi korban perubahan iklim, tetapi juga aktor aktif yang mampu menciptakan strategi bertahan hidup berdasarkan pengetahuan dan pengalaman bersama. Namun, ketimpangan kebijakan dan dukungan pemerintah yang tidak merata menjadi hambatan dalam membangun ketahanan jangka panjang. Penelitian ini menekankan pentingnya penguatan kapasitas sosial dan kebijakan adaptif berbasis masyarakat. Perubahan iklim di wilayah pesisir Oeba menyebabkan tekanan ekologis yang signifikan, termasuk peningkatan curah hujan, banjir bandang, dan ketidakstabilan cuaca ekstrem yang mengganggu aktivitas sosial-ekonomi masyarakat, terutama nelayan. Melalui perspektif ekologi sosial, perubahan ekologis ini tidak hanya memengaruhi sistem sosial, tetapi juga memperoleh umpan balik melalui respons adaptif masyarakat yang secara langsung berdampak pada keberlanjutan lingkungan pesisir. Studi ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi untuk meneliti hubungan timbal balik antara sistem ekologis yang tertekan dan strategi adaptasi sosial masyarakat pesisir Oeba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan iklim mendorong munculnya berbagai bentuk adaptasi dari masyarakat, seperti diversifikasi mata pencaharian (menjual ikan olahan, menjadi pekerja pelabuhan), memperkuat jaringan sosial, dan memanfaatkan kearifan lokal. Adaptasi ini tidak hanya berfungsi sebagai strategi bertahan hidup, tetapi juga sebagai mekanisme sosial-ekologis yang membantu menstabilkan kondisi lingkungan dan ekonomi masyarakat. Studi ini menyimpulkan bahwa masyarakat Oeba bukan hanya korban perubahan iklim, tetapi juga aktor aktif yang mampu menciptakan strategi bertahan hidup berdasarkan pengetahuan dan pengalaman bersama. Namun, ketidaksetaraan kebijakan dan dukungan pemerintah yang tidak merata merupakan hambatan dalam membangun ketahanan jangka panjang. Penelitian ini menekankan pentingnya penguatan kapasitas sosial dan kebijakan adaptif berbasis komunitas.
FOMO dan Negosiasi Identitas Generasi Z Di Ruang Digital Mahasiswa Universitas Nusa Cendana Kupang: (Scrooling- Self Constrution) Petrus Selestinus Mite; Maria Valentina Jelita; Dafrosa Desfita Atriwanti; Angely Victory; Yohanes Debrito Pake; Lasarus Jehamat; Imelda Nahak
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3506

Abstract

Perkembangan teknologi digital yang pesat telah secara signifikan mengubah cara individu membangun, menampilkan, dan menegosiasikan identitas sosial mereka. Media sosial tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai ruang untuk representasi diri dan konstruksi makna sosial baru. Generasi Z, sebagai penduduk asli digital yang tumbuh dengan akses konstan terhadap teknologi, merupakan kelompok yang paling terpengaruh oleh dinamika ini. Studi ini bertujuan untuk meneliti peran media sosial dalam membentuk fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dan untuk memahami bagaimana FOMO berkontribusi pada proses konstruksi identitas di kalangan Generasi Z, khususnya mahasiswa Universitas Nusa Cendana di Kupang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi yang melibatkan informan yang dipilih secara purposif yang merupakan pengguna media sosial aktif dan menunjukkan perilaku terkait FOMO. Temuan menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang intensif, terutama pengguliran pasif, paparan konten viral, dan interaksi antar teman sebaya mendorong perbandingan sosial yang memicu FOMO. Fenomena ini memotivasi siswa untuk mengikuti tren, terlibat dalam konsumsi simbolis, dan mengelola presentasi diri mereka untuk mendapatkan pengakuan sosial. Akibatnya, identitas siswa bersifat cair, performatif, dan terus-menerus dinegosiasikan antara otentisitas pribadi dan ekspektasi sosial digital. Meskipun demikian, beberapa siswa menunjukkan kesadaran reflektif dan mengembangkan strategi untuk mengelola FOMO, mengatur penggunaan media sosial, dan menjaga kesejahteraan mental. Studi ini menyimpulkan bahwa media sosial memainkan peran penting dalam membentuk FOMO dan konstruksi identitas digital di kalangan siswa Generasi Z dalam konteks lokal Kupang. Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah mengubah cara individu membangun dan menegosiasikan identitas sosial, khususnya pada Generasi Z yang tumbuh menjadi digital native. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai ruang representasi diri, konstruksi makna sosial, serta pembentukan identitas digital. Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran media sosial dalam menciptakan fenomena Fear of Missing Out (FOMO) serta bagaimana FOMO berkontribusi dalam proses konstruksi identitas Generasi Z, khususnya mahasiswa Universitas Nusa Cendana Kupang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap informan yang dipilih secara purposive, yaitu mahasiswa Generasi Z yang aktif menggunakan media sosial dan menunjukkan kecenderungan perilaku FOMO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial, terutama aktivitas scrolling dan paparan konten viral, memicu komunikasi sosial yang berakhir pada FOMO. Fenomena ini mendorong mahasiswa untuk mengikuti tren, melakukan konsumsi simbolik, serta mengelola citra diri demi memperoleh pengakuan sosial. Proses tersebut menunjukkan bahwa identitas siswa bersifat cair, performatif, dan terus dinegosiasikan antara keaslian diri dan tuntutan norma digital. Meskipun demikian, sebagian mahasiswa juga menunjukkan kesadaran reflektif dan resistensi strategi untuk mengelola tekanan FOMO dan menjaga kesehatan mental. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media sosial berperan signifikan dalam membentuk dinamika FOMO dan konstruksi identitas digital mahasiswa Generasi Z di Kota Kupang.
Dinamika Interaksi Sosial, Persaingan Ruang, dan Adaptasi Digital UMKM di CFD El Tari Kupang Chetryn Malelak, Ajeng; Fangidae, Yuliati; Telik, Yovita Febiana; Afriano, Blasius; Jehamat, Lasarus; Nahak, Imelda; Mite, Petrus Salestinus
Journal of Entrepreneurship and Strategic Management Vol. 4 No. 02 (2025): Journal Of Entrepeneurship and Strategic Management
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jesm.v4i02.628

Abstract

Penelitian ini mengkaji dinamika interaksi sosial, persaingan ruang, dan adaptasi digital pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pada kegiatan Car Free Day (CFD) El Tari Kupang sebagai ruang publik yang berfungsi sebagai arena ekonomi dan sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam dan observasi terhadap empat pelaku UMKM yang aktif berjualan di CFD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antar pelaku UMKM berlangsung secara situasional dan fungsional, yakni meskipun berada dalam ruang yang kompetitif, mereka tetap menjaga komunikasi, etika sosial, dan solidaritas sederhana. Interaksi pelaku UMKM dengan konsumen menunjukkan adanya dinamika pelayanan terutama ketika kondisi ramai, di mana kesalahpahaman terkait antrian dan waktu pelayanan kerap muncul, namun dapat dikelola melalui komunikasi interpersonal yang baik. Di sisi lain, persaingan ruang menjadi tantangan utama akibat tidak adanya penataan lapak yang terstruktur sehingga lokasi strategis banyak diperebutkan dan memicu sensitivitas antar pelaku usaha. Penelitian ini juga mendapati bahwa digitalisasi melalui pemanfaatan media sosial (TikTok, Instagram, Facebook, WhatsApp) serta sistem pembayaran QRIS telah menjadi strategi penting bagi UMKM dalam mempromosikan produk, memperluas jangkauan pasar, mempercepat transaksi, dan meningkatkan tata kelola keuangan. Temuan penelitian menegaskan bahwa keberhasilan UMKM di CFD ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan interaksi sosial, navigasi terhadap dinamika ruang, dan pemanfaatan teknologi digital secara bersamaan. Kajian ini berkontribusi pada pengembangan strategi pemberdayaan UMKM berbasis digital dan pengelolaan ruang publik yang lebih efektif.