Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

VERNAKULARISASI AL-QUR’AN DALAM TAFSIR AL-MU’IN: STUDI ANALITIS KARYA ANREGURUTTA KH. ABDUL MUIN YUSUF Khaerussalam, Ahmad; Hasbi, Muhammad
TAFASIR: Journal of Quranic Studies Vol 3, No 1 (2025): TAFASIR: Journal of Qur'anic Studies
Publisher : Ma'had Aly As'adiyah Sengkang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62376/tafasir.v3i1.54

Abstract

Penelitian ini mengkaji Tafsir al-Mu’in, sebuah tafsir al-Qur’an berbahasa Bugis dengan aksara Lontara yang disusun oleh Anregurutta KH. Abdul Muin Yusuf bersama Tim MUI Sulawesi Selatan. Tafsir ini merepresentasikan upaya vernakularisasi Al-Qur’an di Sulawesi Selatan dan mencakup 30 juz. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis isi, penelitian ini mengungkap bahwa Tafsir al-Mu’in mengombinasikan metode tahlili dan ijmali, dengan dominasi tafsir bi al-ra’yi. Corak penafsirannya menonjolkan aspek fikih, sufistik, dan teologis. Tafsir al-Mu’in merujuk pada berbagai kitab tafsir otoritatif, baik klasik maupun modern, dan ditulis dengan mempertimbangkan kondisi sosio-kultural masyarakat Bugis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Tafsir al-Mu’in merupakan karya monumental yang berkontribusi dalam khazanah tafsir Nusantara dan revitalisasi budaya Bugis melalui pendekatan intelektual yang berbasis pada tradisi lokal.
Tafsir Al-Munir by Anregurutta Daud Ismail: A Visionary Scholar from South Sulawesi Khaerussalam, Ahmad; Resky Eka Yulianti; Mumtazatul Kamilah
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2025): JUNE
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59622/jiat.v6i1.151

Abstract

This study explores the contribution of Daud Ismail to the development of Quranic interpretation in the Bugis language through Tafsir Al-Munir. Using a descriptive-analytical method with a historical-critical approach, the research highlights how Anregurutta Daud Ismail contextualized the ijmali method with an adabi ijtimai style, aligning Quranic messages with Bugis traditions. The findings reveal three distinctive features: (1) the use of the Bugis language and lontarak script as a medium for preserving culture and preaching Islam; (2) the application of a moderate exegetical approach combining bi al-matsur and bi al-ray; and (3) a critical response to religious practices considered to diverge from Islamic teachings. Tafsir Al-Munir reflects a jurisprudential and communal outlook, affirming Daud Ismail’s role as a visionary scholar who connects generations. This study underscores the significance of local-language tafsir in enhancing Quranic understanding and reinforcing an Islamic identity that harmonizes with indigenous values.
Qawâ’id al-Tafsîr as an Integrative Methodological Framework: Its Relation to Arabic Language and Uṣûl al-Fiqh: Qawâ’id al-Tafsîr sebagai Kerangka Metodologis Integratif: Relasi dengan Bahasa Arab dan Uṣûl al-Fiqh Khaerussalam, Ahmad; Rokhim, Abdur
ABHATS: Jurnal Islam Ulil Albab Vol. 7 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Direktorat Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/abhats.vol7.iss1.art8

Abstract

The study of qawâ’id al-tafsîr occupies a central position in Qur’anic exegesis as it serves as a methodological framework that ensures consistency, objectivity, and validity in interpreting the Qur’an. This article aims to analyze the concept of qawâ’id al-tafsîr and examine its relationship with the Arabic language and uṣûl al-fiqh as two foundational disciplines of tafsîr methodology. This research employs a qualitative approach through library research by examining classical and contemporary exegetical works, Arabic linguistic literature, and uṣûl al-fiqh sources. The findings reveal that qawâ’id al-tafsîr has a structural connection with the Arabic language, particularly in grammatical, semantic, and rhetorical aspects that determine the accuracy of Qur’anic textual interpretation. Furthermore, its relationship with uṣūl al-fiqh is evident through shared methodological principles, such as ‘âm-khâṣṣ, muṭlaq-muqayyad, and nâsikh-mansûkh, which function to balance textual meaning with the objectives of Islamic law (maqâṣid al-sharî’ah). This article argues that the integration of qawâ’id al-tafsîr, Arabic linguistics, and uṣûl al-fiqh is a prerequisite for constructing a comprehensive and systematic tafsîr methodology that remains relevant to contemporary scholarly challenges. [Kajian qawâ’id al-tafsîr menempati posisi sentral dalam ilmu tafsir karena berfungsi sebagai kerangka metodologis yang menjaga konsistensi, objektivitas, dan validitas penafsiran Al-Qur’an. Artikel ini bertujuan menganalisis konsep qawâ’id al-tafsîr serta mengkaji relasinya dengan bahasa Arab dan uṣûl al-fiqh sebagai dua disiplin yang membentuk fondasi metodologis tafsir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dengan menelaah karya tafsir klasik dan kontemporer, literatur kebahasaan Arab, serta sumber-sumber uṣûl al-fiqh. Hasil kajian menunjukkan bahwa qawâ’id al-tafsîr memiliki keterkaitan struktural dengan bahasa Arab, khususnya dalam aspek gramatika, semantik, dan retorika, yang berperan menentukan ketepatan pemaknaan teks Al-Qur’an. Selain itu, relasinya dengan uṣûl al-fiqh tampak melalui kesamaan prinsip metodologis, seperti ‘âm-khâṣṣ, muṭlaq-muqayyad, dan nâsikh-mansûkh, yang berfungsi menyeimbangkan makna tekstual dengan tujuan hukum Islam (maqâṣid al-sharî’ah). Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi qawâ’id al-tafsîr, bahasa Arab, dan uṣûl al-fiqh merupakan prasyarat bagi terbentuknya metodologi tafsir yang komprehensif, sistematis, dan relevan dalam menjawab tantangan keilmuan kontemporer.]