Aulia, Noni Angelina Tazky
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Stik Bawang Kombinasi Modified Cassava Flour, Isolated Soy Protein, Teri Medan, dan Guar Gum dengan Protein dan Kalsium sebagai Kudapan Alternatif bagi Anak Penyandang Autism: Garlic Stick with Modified Cassava Flour, Isolated Soy Protein, Medan Anchovy, and Guar Gum Containing Protein and Calcium as an Alternative Snack for Children with Autism Aulia, Noni Angelina Tazky; Adi, Annis Catur
Amerta Nutrition Vol. 9 No. 2 (2025): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v9i2.2025.291-301

Abstract

Background: Sensitivity to gluten and casein in children with Autism Spectrum Disorder (ASD) is crucial to symptom severity, making their elimination necessary. However, the rising prevalence of ASD in Indonesia is not matched by the recommended dietary consumption. A garlic stick formulated with Modified Cassava Flour (MOCAF), Isolated Soy Protein (ISP), medan anchovy, and guar gum offers a gluten- and casein-free alternative while serving as a potential source of protein and calcium for ASD children aged 4-9 years. Objectives: To analyze the acceptability and nutrient content (protein and calcium) of garlic sticks made with MOCAF, ISP, medan anchovy, and guar gum. Methods: This research was a pure experimental study using a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments. F0 (0% MOCAF, 0% ISP, 0% medan anchovy, 0% guar gum), F1 (51% MOCAF, 9% ISP, 2% medan anchovy, 1% guar gum), F2 (42% MOCAF, 16% ISP, 4% medan anchovy, 2% guar gum), and F3 (32% MOCAF, 23% ISP, 6% medan anchovy, 3% guar gum). Organoleptic values were analyzed using Kruskal-Wallis and Mann-Whitney U test. Protein and calcium levels were assessed using the Kjeldahl method and Atomic Absorption Spectroscopy. Results: F3 had the highest organoleptic acceptability. The protein and calcium content per 100 g of garlic stick were 8.26 g and 89.24 mg, respectively. A significant difference was observed between F0 and F3 flavor (p-value=0.004). Conclusions: F3 was the optimal formula. One serving (55 g) met 11-18% of the protein requirement, while two servings were necessary to fulfill the calcium requirement for a single snacking occasion.
ASUHAN GIZI PASIEN OSTEOSARKOMA ON KEMOTERAPI, MODERATE MALNUTRITION, DAN ANEMIA MIKROSITIK HIPOKROMIK Aulia, Noni Angelina Tazky
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.29815

Abstract

Osteosarkoma merupakan salah satu jenis kanker yang umum menyerang remaja dan mampu memicu malnutrisi sebagai akibat dari perubahan intake makanan. Oleh karena itu, pemberian asuhan gizi yang tepat untuk meminimalisasi defisiensi dan keparahan perlu dilakukan. Studi ini bertujuan untuk mengetahui implementasi proses asuhan gizi terstandar pasien. Studi kasus dilaksanakan pada 26 s.d. 28 Oktober 2023 di Instalasi Rawat Inap Anak RS X Kota Surabaya. Metode penelitian yang digunakan yaitu melalui observasi, wawancara, dan pengecekan rekam medis. Proses asuhan gizi yang dilaksanakan meliputi asesmen gizi, diagnosis gizi, intervensi gizi, dan monitoring serta evaluasi gizi. Asesmen gizi yang dilakukan meliputi pemeriksaan antropometri, pemeriksaan biokimia (berdasarkan hasil rekam medis pasien), pemeriksaan fisik/klinis (berdasarkan hasil rekam medis pasien dan observasi), dan pemeriksaan asupan makanan. Hasil observasi terhadap antropometri dan biokimia tidak menunjukkan adanya perubahan, hasil observasi terhadap kondisi fisik/klinis menunjukkan indikator adanya anemia dan munculnya efek samping akibat kemoterapi berupa mual. Sementara hasil observasi terhadap asupan gizi menunjukkan bahwa terapi diet tinggi energi tinggi protein (TETP) melalui pemberian makanan utama 1700 kkal dan full cream milk dengan frekuensi yaitu 3 kali makanan utama dan 3 kali makanan selingan mampu memperbaiki asupan makan pasien meskipun cenderung fluktuatif akibat efek samping kemoterapi. Oleh karena itu, pemberian terapi diet tinggi energi tinggi protein (TETP) pada pasien osteosarkoma on kemoterapi, moderate malnutrition, dan anemia mikrositik hipokromik dapat dilanjutkan seiring dengan pemberian edukasi lebih lanjut sebagai upaya untuk menjaga asupan harian agar tetap terpenuhi.