Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

The Impact of Qiraat Asyrah Diversity on The Meaning Of Qur'an Surah Al-Maidah Abdul Aziz, Ahmad Arif; Ojim
Journal of Ulumul Qur'an and Tafsir Studies Vol. 4 No. 1 (2025): JUQUTS: Journal of Ulumul Quran and Tafsir Studies
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/3an4nd16

Abstract

Al-Qur'an diturunkan dalam berbagai variasi bacaan (qiraat) dengan tujuan memudahkan umat Islam dalam membaca dan memahami kandungannya. Namun, tidak semua umat Islam memahami bahwa hanya bacaan tertentu yang divalidasi sebagai bagian dari Al-Qur'an. Salah satu faktor yang mempengaruhi makna ayat adalah adanya perbedaan huruf atau lafaz dalam bacaan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lafaz-lafaz dalam surah Al-Maidah yang mengandung varian bacaan qiraat asyrah dan mengkaji dampaknya terhadap makna ayat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, mengumpulkan data berupa ayat-ayat dalam Qs. Al-Maidah yang memiliki variasi bacaan qiraat asyrah. Teknik analisis melibatkan penerapan kaidah ilmu qiraat, yaitu farsyul huruf, yang menisbatkan bacaan kepada imam qiraat, serta kaidah ushul untuk menilai apakah varian tersebut mempengaruhi makna ayat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada Qs. Al-Maidah ayat 6, terdapat varian bacaan pada lafaz "اَوْ لٰمَسْتُمُ" menurut riwayat Hafs an Ashim yang bermakna "saling bersentuhan", sementara bacaan Hamzah tanpa mad pada huruf lam memiliki makna "menyentuh". Perbedaan ini mempengaruhi interpretasi hukum batalnya wudhu; pada riwayat Hafs, batal wudhu terjadi saat hubungan intim, sedangkan pada riwayat Hamzah, wudhu batal dengan sekadar menyentuh perempuan, baik disengaja maupun tidak. Meskipun perubahan huruf dapat menyebabkan perbedaan makna, penelitian ini juga menemukan bahwa tidak semua varian bacaan dalam surah Al-Maidah berdampak signifikan pada maknanya.
Stilistika Al-Qur’an Surat Al-Baqarah: 94, 95 dan 218 Lestari, Ayu; Ojim
Journal of Ulumul Qur'an and Tafsir Studies Vol. 1 No. 1 (2022): JUQUTS: Journal of Ulumul Quran and Tafsir Studies
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/juquts.v1i1.89

Abstract

[Studi Analisis Terminologi Ulul Albab dalam Al-Qur’an] Banyak sekali rahasia dan keistimewaan yang terkandung di dalam Al-Qur’an, salah satunya yaitu dari aspek bahasa. Penggunaan kata di dalam Al-Qur’an tidak hanya dari segi keindahan saja, tetapi juga dari aspek makna yang nantinya akan menghadirkan paham yang berbeda. Seperti halnya kata al-Tamanni dan al-Taraji di dalam al-Qur’an. Apabila diartikan kata al-Tamanni dan al-Taraji memiliki arti pengharapan. Seringkali ada yang menganggap bahwa al-Tamanni dan taraji memiliki makna yang sama, tetapi pada dasarnya kedua lafadz tersebut memiliki makna yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk dapat menganalisa dan memahami makna uslub al-Tamanni dan al-Taraji dan bagaimana penerapannya di dalam QS. Al-Baqarah: 94, 95 dan 218. Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan ilmu stilistika yaitu pendekatan gaya bahasa. Hasil penelitian ini yaitu di dalam QS. Al-Baqarah: 94 dan 95 disana tidak terdapat uslub al-Tamanni tetapi di dalam QS. An-Naba: 40, disana memakai adat dengan lafadz لَيْتَ berfungsi sebagai mengungkapan pengharapan yang mustahil dan sangat jauh, seperti harapan mereka (orang-orang kafir) supaya menjadi tanah kembali agar terhindar dari ancaman azab Allah SWT. dan pengharapan mereka merupakan angan-angan yang sia-sia. Dan uslub al-Taraji terdapat pada QS. Al-Baqarah: 218 disana menggunakan lafadz يَرْجُوْن pengharapan pada ayat ini memeliki makna al-Taraji yang mana pengharapan disini disertai denganrasa khawatir, yang mana khawatir ini menghadirkan iktiar merekadalam mencari ridha Allah SWT.
Rekonstruksi Penafsiran Kesederhanaan Dan Implikasinya Terhadap Kemiskinan Struktural Intan Nur Amalia; Ojim; Haris Muslim; Mimin Muhaemin
Jurnal Syntax Fusion Vol 6 No 02 (2026): Jurnal Fusion: Jurnal Nasional Indonesia
Publisher : CV RIFAINSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/fusion.v6i02.511

Abstract

This study examines the high rate of poverty in Indonesia, particularly among Muslims, which is often associated with a misconceived understanding of simplicity in Islamic teachings. Simplicity is frequently interpreted as passive acceptance of deprivation and even regarded as a sign of piety, reinforcing structural poverty and social injustice. This research aims to deconstruct and reconstruct the Qur’anic concept of simplicity by emphasizing a liberative interpretation that promotes social justice rather than resignation. The study employs a qualitative approach through discourse analysis and thematic interpretation. It focuses on Qur’anic verses related to poverty and simplicity, while analyzing the social discourse shaped by their interpretations. This research is a library study, drawing on primary sources such as the Qur’an and classical as well as contemporary tafsir works, alongside relevant scholarly references. The theoretical framework combines Al-Farmawi’s thematic tafsir method and Anthony Giddens’ structuration theory to explain how individuals can critically engage with and transform oppressive social structures through reflexive action. The findings from QS. Al-Furqan: 67, QS. Al-A’raf: 29, and QS. An-Nisa: 79 indicate that simplicity in Islam is closely related to justice, self-restraint, and social responsibility in controlling consumerism. These results demonstrate that Islam does not legitimize poverty but calls for justice and resistance against oppressive structures.