Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Kajian Proses Destilasi Fraksinasi Biodiesel Kemiri Sunan (Reutealis trisperma) Fathia Salsabila Emmaputri; Sarifah Nurjanah; Efri Mardawati; M. Ade Moetangad Kramadibrata; Mimin Muhaemin; Wahyu Daradjat; Handarto Handarto; Totok Herwanto; S. Rosalinda
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 12, No 2 (2018): TEKNOTAN, Desember 2018
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1404.187 KB) | DOI: 10.24198/jt.vol12n2.5

Abstract

Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif yang berasal dari minyak nabati. Kemiri sunan (Reutealis trisperma) merupakan salah satu tanaman yang memiliki potensi sebagai bahan baku biodiesel. Untuk mendapatkan mutu biodiesel yang optimal, perlu dilakukan peningkatan asam lemak ester yang relevan melalui proses destilasi fraksinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh temperatur destilasi fraksinasi terhadap mutu biodiesel, mengetahui fraksi biodiesel dengan rendemen dan mutu terbaik, serta mengetahui mutu biodiesel kemiri sunan. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental dengan analisis deskriptif. Destilasi fraksinasi dilakukan dengan tiga perlakuan suhu yaitu A = 260-330°C; B = 330-348°C; dan C = 348-360°C. Percobaan dilakukan sebanyak tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biodiesel terdestilasi pada perlakuan A dan B. Fraksi biodiesel terbaik apabila ditinjau dari kebutuhan mesin dan kebutuhan proses merupakan fraksi biodiesel hasil perlakuan A dengan perolehan nilai terbaik dari rendemen, viskositas kinematik, densitas, kadar air, bilangan asam, bilangan iod, titik nyala, serta angka setana secara berturut-turut adalah 16,08%; 2,69 mm2/s; 872,27 g/cm3; 0,22%; 0,27 mg KOH/g minyak; 17,83 g-I2/100 g minyak; 288,33°C; dan 71,50.Kata Kunci: Biodiesel, kemiri sunan, destilasi fraksinasi
Kajian Pengaruh Rasio Refluks Terhadap Karakteristik Minyak Nilam Hasil Distilasi Fraksinasi Rifki Amrullah; Sarifah Nurjanah; Asri Widyasanti; Mimin Muhaemin
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 11, No 2 (2017): TEKNOTAN, Agustus 2017
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1009.094 KB) | DOI: 10.24198/jt.vol11n2.8

Abstract

Minyak nilam yang diproduksi oleh petani lokal umumnya masih memiliki mutu rendah yang disebabkan oleh proses penyulingan yang relatif singkat serta masih menggunakan metode dan peralatan yang sederhana. Rasio refluks pada distilasi fraksinasi dapat digunakan sebagai perlakuan untuk meningkatkan mutu minyak nilam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari rasio refluks terhadap mutu dan karakteristik minyak nilam hasil distilasi fraksinasi serta kondisi proses yang terjadi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan analisis deskriptif. Penelitian ini dilakukan dengan tiga variabel penelitian yaitu rasio refluks (20:1), (30:1), dan (40:1) dengan pengulangan sebanyak tiga kali, serta diatur untuk menghasilkan 3 fraksi (cut) pada masing-masing variabel penelitian. Parameter yang diukur meliputi rendemen proses, kadar patchouli alcohol, warna, bobot jenis, indeks bias, bilangan asam, dan kelarutan dalam etanol 90%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio refluks tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap karakteristik minyak nilam yang dihasilkan pada cut yang sama, kecuali pada nilai bilangan asam. Rasio refluks (20:1) sudah cukup baik dalam menghasilkan mutu minyak nilam, khususnya pada cut 3 karena memiliki kadar patchouli alcohol yang tinggi sebesar 85,39%, serta serta memiliki kondisi proses paling efisien karena memiliki waktu proses paling singkat, yaitu 13,28 jam serta menghasilkan rendemen tertinggi sebesar 95%.Kata Kunci: distilasi fraksinasi, minyak nilam, rasio refluks
PERANCANGAN PROGRAM KLASIFIKASI TOMAT (Lycopersicum esculantum) BERDASARKAN BERAT DAN WARNA MENGGUNAKAN PENGOLAHAN CITRA Dedy Prijatna; Ranie Ananda Poetri; Mimin Muhaemin
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konvensional metode dalam mengklasifikasikan tomat terbukti tidak objektif, tidak akurat, dan destruktif.  Upaya telah dilakukan untuk merancang suatu program klasifikasi non-destruktif dengan mengaplikasikan suatu sistem visual dengan pengolahan citra melalui warna dan berat. Matlab digunakan sebagai bahasa program yang mampu menentukan berat melalui hubungan luas citra dan berat, dan mengidentifikasi warna tomat dengan indeks RGB. Kapabilitas program kemudian dibandingkan hasilnya dengan metode konvensional. Hasil menunjukan bahwa system ini memiliki akurasi 94,54 persen yang meningkat menjadi 98.18 persen dengan mengganti luas citra dengan volumenya Kapasitas aktual dari sistem ini adalah 576 buah tomat/jam, sedang kapasitas teoritisnya 1690,54 buah tomat/jam, sehingga efisiensi dari sistem ini adalah 34,07%. Kata kunci : Tomat, Pengolahan citra, Klasifikasi, Program klasifikasi 
Chemical Characteristics Comparison of Palm Civet Coffee (Kopi Luwak) and Arabica Coffee Beans Ifmalinda Ifmalinda; Imas Siti Setiasih; Mimin Muhaemin; Sarifah Nurjanah
Jurnal Ilmu dan Teknologi Terapan Pertanian Vol 3 No 2 (2019): Journal of Applied Agricultural Science and Technology
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32530/jaast.v3i2.110

Abstract

Chemical characteristics of coffee are depended on types of coffee. Different types of coffee have the unique characteristic. Chemical components have significant effects on taste and aroma of brewing. Those characteristics are the result of volatile and nonvolatile components during roasting then affecting taste. Kopi Luwak has distinct chemical and taste from regular coffee. On previous research, Marcone (2004b) and Mahendratta et al. (2011) explained that quality improvement on Kopi Luwak is result of lower protein content and higher fat content compared to regular coffee. Lower protein content reduces bitter taste while higher fat content can increase body or feeling heavy. The aim of this research was to obtain information about chemical compound of Kopi Luwak and regular Arabica coffee. From this study, it can be analyzed that protein content of regular green coffee beans was 9.48%, and regular roasted bean was 11.3% while protein content of Kopi Luwak green bean was 8.8%, and its roasted bean was 10.12%. Further, caffeine content had been analyzed where regular coffee beans contained 0.70% and its roasted bean contained 0.61% while caffeine content of green bean from Kopi Luwak was 0.51%, and its roasted bean was 0.47%. pH valued was also observed where regular green bean was 6.7 and regular roasted bean was 6.9 while green bean of Kopi Luwak was 5.3 and its roasted bean 5.7. Moreover, sugar content of regular coffee beans was 1.9% and its roasted bean was 0.015% while sugar content of Kopi Luwak green bean was 1.6% while its roasted bean was 0.013%. Fat content of regular green coffee beans was 8.5% and its roasted bean was 11.7% while fat content of Kopi Luwak green bean was 9.3% and its roasted bean was 12.2%. Fatty acid content of regular coffee beans consisted of hexadecanoic acid with area 40.3%, Kopi Luwak bean was 44.3%, and octadecenoic content with area 2.46% while Kopi Luwak bean was 7.12%.
RANCANG BANGUN UNIT KONVEYOR PADA MESIN GRADING BIJI PALA (Myristica fragrans houtt) Wahyu Kristian Sugandi; Totok Herwanto; Mimin Muhaemin
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem Vol 8 No 1 (2020): Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan & Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram dan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (894.907 KB) | DOI: 10.29303/jrpb.v8i1.164

Abstract

Buah pala (Myristica fragrans houtt) merupakan jenis rempah dengan nilai ekonomi yang tinggi di pasar dunia. Buah pala mampu dimanfaatkan dalam berbagai sektor bidang industri. Petani biji pala di Maluku masih menggunakan sistem tradisional atau manual pada proses pasca panen. Proses pasca panen yang dilakukan yaitu pengkelasan atau grading. Grading manual memiliki kekurangan dari segi waktu, keseragaman, dan ketelitian. Proses grading secara otomatis perlu dilakukan untuk mempermudah petani pala untuk pengkelasan dan meningkatkan hasil produksi biji pala.Tujuan dari penelitian ini untuk merancang bangun unit pembawa (Bucket- Conveyor) mesin grading biji pala dan mengetahui kecepatan maksimum yang dibutuhkan agar kapasitas mesin 500 kg/hari dapat tercapai. Unit pembawa berfungsi untuk menghantarkan biji pala dari unit pengumpan menuju kotak citra dan diteruskan ke pintu pembagi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode rekayasa. Proses yang dilakukan yaitu menentukan dasar perancangan, rancangan fungsional, rancangan struktural dan analisis teknik, kemudian dilakukan uji kinerja pada Bucket Conveyor. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa unit pembawa mesin grading biji pala memiliki dimensi panjang 1800 mm, lebar 300 mm dan tinggi 600 mm. Komponen dari unit pembawa terdiri dari bucket, belt pvc, roller, dan plat pembatas. Hasil pengujian kapasitas unit pengumpan adalah 37,29 kg/jam dengan kecepatan putar puli penggerak sebesar 32 rpm.
PELUANG DAN TANTANGAN TEKNOLOGI ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) PADA PROSES ROASTING BIJI KOPI Wibowo, Jony Winaryo; Muhaemin, Mimin; Fakhrurroja, Hanif
SEMNASTERA (Seminar Nasional Teknologi dan Riset Terapan) Vol 6 (2024)
Publisher : SEMNASTERA (Seminar Nasional Teknologi dan Riset Terapan)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kopi adalah salah satu minuman paling umum dan favorit yang dikonsumsi banyak orang di seluruh dunia. Proses roasting kopi memegang peranan penting dalam menentukan rasa kopi. Tahapan dalam proses roasting kopi terdiri dari pengeringan, penguningan, pecahan pertama, roast development, dan pecahan kedua. Dari kelima tahapan tersebut, proses pecahan pertama kopi merupakan awal mula terbentuknya karakteristik biji kopi. Pada tahap ini, seorang penyangrai biji kopi profesional harus memastikan suhu dan waktu yang sesuai agar biji kopi tidak hangus/gosong. Pada alat roasting kopi manual, hal ini menimbulkan ketidakonsistenan hasil roasting biji kopi karena sangat bergantung dari kemampuan dan pengalaman sang penyangrai biji kopi sedangkan pada smart coffee roaster menggunakan sensor dan control cerdas untuk mengoperasikan roaster dan mendapatkan kopi dengan konsistensi terbaik dan akurat. Makalah kali ini membahas tentang peluang dan tantangan yang diperlukan untuk membuat versi terbaik dari smart coffee roaster dari sisi system elektronik, desain, dan Artificial Intelligence (AI). Sistem elektronik terdiri dari sensor, control, dan aktuator. Desain yang Ergonomis, estetis, serta kenyamanan pengguna menjadi kunci utama yang diperlukan untuk membuat desain terbaik. Aplikasi AI mendeteksi kematangan biji kopi dan deteksi suara “retak” dengan memanfaatkan teknologi machine learning. Studi awal dilakukan dengan format audio hasil roasting dan dipisahkan antara audio yang mengandung suara retakan biji kopi dan audio yang tidak mengandung suara retakan biji kopi. Dataset audio tersebut kemudian diubah ke dalam format gambar menggunakan metode Mel-frequency cepstral coefficients (MFCC), untuk kemudian dilakukan pemodelan dengan menggunakan supervised learning convolutional neural network (CNN).
Rancang Bangun Ultrasonic Vibration System dengan Daya Sembur yang Dapat Diatur untuk Aplikasi Rumah Tanaman Kurniadi, Deni Permana; Muhaemin, Mimin; Sugandi, Gandi
SEMNASTERA (Seminar Nasional Teknologi dan Riset Terapan) Vol 6 (2024)
Publisher : SEMNASTERA (Seminar Nasional Teknologi dan Riset Terapan)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi akan menjadi pilihan yang diandalkan pada pertanian modern untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas, salah satu contoh adalah penggunaan rumah tanaman (planthouse), yang digunakan untuk kegiatan budidaya tanaman, dengan tujuan untuk melindungi tanaman dari hujan, angin dan hama, serta dapat mengontrol lingkungan secara optimal [1]. Peralatan yang dipakai untuk mengatur tingkat kelembapan udara yang merupakan salah satu parameter penting selain temperatur adalah humidifier [2]. Namun ternyata humidifier konvensional yang masih banyak dipakai seringkali menghadapi kendala seperti konsumsi energi yang tinggi, distribusi uap air yang tidak merata, serta perawatan yang komplek [3][4]. Kemudian teknologi humidifier ultrasonic vibration system muncul sebagai alternatif yang lebih efisien dan efektif dalam mengontrol kelembapan [5]. Teknologi ini menggunakan prinsip getaran ultrasonik untuk menghasilkan partikel uap air yang sangat halus, sehingga distribusi kelembapan menjadi lebih merata dan hemat energi [6]. Selain itu, humidifier jenis ini memiliki keunggulan dalam hal kebisingan dan minimnya pembentukan kerak mineral. Karena penerapan teknologi ini khususnya dalam konteks pengontrol kelembapan rumah tanaman masih relatif terbatas, maka dalam penelitian ini akan dibuat sebuah purwarupa humidifier ultrasonic vibration system dengan daya sembur yang dapat diatur, sehingga dapat mengontrol kelembapan yang lebih presisi, efisiensi energi yang lebih baik, serta peningkatan produktivitas tanaman dalam lingkungan rumah tanaman.
The Application of Nanobubble Technology in Hydroponic SWU-01 to Increase Dissolved Oxygen Concentration and Lettuce Plant Growth Asep Yusuf; Chay Asdak; Mimin Muhaemin; Eza Zahrotul Fuadah; Sophia Dwiratna; Muhammad Achirul Nanda; Anto Tri Sugiarto; Hilman Syaeful Alam
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol 13, No 4 (2024): December 2024
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtep-l.v13i4.1395-1402

Abstract

Hydroponic model SWU-01 is a new hydroponic system innovation that regulates watering automatically and independently by utilizing gravity and Archimedes' law. Dissolved oxygen concentration in SWU-01 is only around 3-4.2 mg/L. DO values can be increased by applying nanobubble technology. Ultrafine bubble or nanobubble is a gas bubble in a liquid that has a diameter of <200 nm. The purpose of this study was to determine the effect of nanobubble on dissolved oxygen concentration and growth of lettuce plants cultivated with SWU-01 hydroponics. The experiment used a one-factor randomized complete block design, namely intermittent administration of nanobubble for 15 min every 3 day (P1) and 7 days (P2), and without nanobubble (P0l). The results obtained based on the ANOVA test at the 5% level with the Least Significant Difference (LSD) follow-up test, namely the parameters of fresh weight and number of leaves of lettuce P1 significantly different from P0 and P2, and no significant differences were found in root length, canopy width, and plant height. The P1 treatment is more effective in increasing dissolved oxygen concentration, leaf count, and fresh weight of lettuce produced in lettuce cultivation using the SWU-01 hydroponic system. Keywords: Dissolved oxygen, Hydroponics, Lettuce, Nanobubbles, Plant growth.
The Implementation of Micro/Nanobubbles (MNBs) Technology to Treat Basin Water as The Primary Water Source for Hydroponics in Greenhouse Asep Yusuf; Chay Asdak; Mimin Muhaemin; Sophia Dwiratna N.P; Anto Tri Sugiarto; Hilman Syaeful Alam
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol 13, No 1 (2024): March 2024
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtep-l.v13i1.197-204

Abstract

The greenhouse plays a pivotal role in creating an ideal environment for hydroponic cultivation. The greenhouse has utilized rainwater and basin water as a source of raw water for hydroponic farming. Presently, the water quality of Leuwi Padjadjaran basin fails to meet the standards required for hydroponics due to its turbidity, sediment content, discoloration, pH levels exceeding 7, and low dissolved oxygen (DO) concentration of 2.2 mg/l. The micro/nanobubbles (MNBs) technology stands as a viable method for water treatment owing to its capacity to bind impurities via radical OH. The application of MNBs for the treatment of basin water involves the use of a hydrodynamic cavitation MNBs generator with a dual-chamber rotating flow nozzle. The parameters evaluated in this research encompass DO concentration, MNBs stability, microbubble size, and the visual response to MNBs application. MNBs treatment was conducted with three different gases: air, oxygen, and ozone. Microbubbles were measured using the particle image velocimetry (PIV) method. The DO concentration reaches 21.6 mg/l when employing oxygen-based MNBs. On the third day post-generation, MNBs stability still maintains DO concentrations above the initial levels. Thus it can be used as hydroponic raw water.  Keywords:  DO concentration, Greenhouse, Micro/nanobubbles, Water treatment.
The Implementation of Micro/Nanobubbles (MNBs) Technology to Treat Basin Water as The Primary Water Source for Hydroponics in Greenhouse Yusuf, Asep; Asdak, Chay; Muhaemin, Mimin; N.P, Sophia Dwiratna; Sugiarto, Anto Tri; Alam, Hilman Syaeful
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol. 13 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtep-l.v13i1.197-204

Abstract

The greenhouse plays a pivotal role in creating an ideal environment for hydroponic cultivation. The greenhouse has utilized rainwater and basin water as a source of raw water for hydroponic farming. Presently, the water quality of Leuwi Padjadjaran basin fails to meet the standards required for hydroponics due to its turbidity, sediment content, discoloration, pH levels exceeding 7, and low dissolved oxygen (DO) concentration of 2.2 mg/l. The micro/nanobubbles (MNBs) technology stands as a viable method for water treatment owing to its capacity to bind impurities via radical OH. The application of MNBs for the treatment of basin water involves the use of a hydrodynamic cavitation MNBs generator with a dual-chamber rotating flow nozzle. The parameters evaluated in this research encompass DO concentration, MNBs stability, microbubble size, and the visual response to MNBs application. MNBs treatment was conducted with three different gases: air, oxygen, and ozone. Microbubbles were measured using the particle image velocimetry (PIV) method. The DO concentration reaches 21.6 mg/l when employing oxygen-based MNBs. On the third day post-generation, MNBs stability still maintains DO concentrations above the initial levels. Thus it can be used as hydroponic raw water.  Keywords:  DO concentration, Greenhouse, Micro/nanobubbles, Water treatment.