Ketahanan pangan keluarga menjadi isu penting yang memerlukan inovasi dalam pemanfaatan lahan terbatas. Inovasi sederhana yang mengintegrasikan antara pembudidayaan ikan dan penanaman sayuran dalam satu wadah (Budikdamber) merupakan sistem Akuaponik yang menghasilkan manfaat ganda berupa sumber protein hewani dan nabati. Budikdamber menjadi solusi potensial dalam meningkatkan ketahanan pangan masyarakat di pedesaan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan di Desa Pekuncen, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan ibu-ibu PKK dalam menerapkan Budikdamber secara mandiri. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) meliputi tahapan discovery, dream, design, define, destiny. Metode pembinaan berupa demonstrasi langsung, praktik, dan diskusi partisipatif. Mitra kegiatan adalah ibu-ibu PKK Desa Pekuncen untuk pegembangan Budikdamber secara mandiri. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test yang bertujuan unuk mengetahui peningkatan pemahaman peserta mengenai Budikdamber, dan mengetahui kemajuan keterampilan praktik dalam menyiapkan media, mengelola air, dan merawat ikan serta tanaman. Budikdamber terbukti hemat lahan, efisien dalam penggunaan air, dan ramah lingkungan dengan potensi panen berkala setiap 10-16 hari untuk kangkung dan 2 bulan untuk ikan lele. Hasil ini menunjukan bahwa pembinaan Budikdamber dapat menjadi strategi efektif untuk mendukung ketahanan pangan keluarga, optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan, dan pelestarian lingkungan keluarga. Kata kunci: Akuaponik, Budikdamber, ketahanan pangan, pengabdian masyarakat, Asset Based Community Development. ABSTRACT Ensuring family food security is an important issue that requires innovative use of limited land. One simple innovation is the Budikdamber, an aquaponics system that integrates fish farming and vegetable cultivation in one container. It produces dual benefits in the form of animal and plant protein sources. Budikdamber has the potential to improve food security for rural communities. This community service research project was conducted in Pekuncen Village, Sempor District, Kebumen Regency, Central Java Province. The project aimed to improve the understanding and skills of PKK women so they could independently implement Budikdamber. The activities were implemented using the Asset Based Community Development (ABCD) approach, which includes the stages of discovery, dreaming, designing, defining, and destiny. Coaching took the form of direct demonstrations, practice, and participatory discussions. The sample consisted of Pekuncen Village PKK women for the development of independent aquaponics. Pre- and post-tests were used to evaluate the increase in participants' understanding of aquaponics and their progress in developing practical skills in preparing media, managing water, and caring for fish and plants. Aquaponics proved to be a land- and water-efficient, environmentally friendly method with the potential for periodic harvests: every 10–16 days for kale and every two months for catfish. These results suggest that aquaponics training could effectively support family food security, optimize yard space usage, and preserve the family environment. Keywords: Aquaponics, Budikdamber, food security, community service, Asset Based Community Development.