Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Religiosity Values: Narrative and Cinematic Analysis in Japanese Slice of Life Film Wood Job! Saraswati, Agni; Fatmawati, Nindya Galuh
Journal of Urban Society's Arts Vol 12, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v12i1.14944

Abstract

Being religious or “menjadi religius” is a stage above the phase of having a religion, namely “religion”. Faith and obedience to religion can be seen in the manners of daily life not only in rituals. It gives an understanding of goodness, equality, humanity, and justice for others, not only in humans but also in nature. Through its narrative and cinematic aspects, the film can provide answers to problems in life, especially regarding religious knowledge and philosophy of life. The purpose of the study is to find out how Wood Job! (2014) film can provide an immersive experience for the audience. The research methodology involves a multidimensional approach of filmology that includes the narrative (dialogue) and cinematic (mise en scene) languages to see depictions and fragments of daily humanistic life full of religious values. The theoretical approach is David Morgan’s theory of three general modes of embodiment consisting of sacred visual constructions, namely ‘the body before the image, body in the image, and body beyond the image’ in the Religious Studies. The film contains 62 scenes which have 11 scenes depicting religious values in everyday life through its dialogue and mise en scene. This film illustrates religious values in accordance with Shinto beliefs. The result shows ‘the body in the image’ from Yuki’s attitude and ‘the body beyond the image’ from the attitude of the people in Kamusari can be seen in 17,7% from the total scenes. Nilai-Nilai Religiositas: Analisis Naratif dan Sinematik dalam Film Jepang Slice of Life Wood Job! Being religious atau “menjadi religius” merupakan tahap di atas fase having religion, yaitu “beragama”. Beriman dan ketaatan pada agama terlihat dari budi pekerti kehidupan sehari-hari tidak hanya sebatas ritual, namun dapat melahirkan pemahaman kebaikan, kesetaraan, kemanusiaan, dan keadilan kepada sesama makhluk tidak hanya pada manusia namun juga pada alam. Film, baik melalui aspek naratif maupun sinematiknya, mampu memberikan jawaban atas permasalahan hidup, khususnya pengetahuan agama dan filosofi hidup. Tujuan penelitian membedah film Jepang, bergenre drama slice of life, berjudul Wood Job! dianggap mampu memberikan pengalaman mendalam bagi penonton. Metodologi penelitian ini melibatkan pendekatan multidimensi yang mencakup bahasa naratif (dialog) dan sinematik (mise en scene) untuk melihat penggambaran dan penggalan kehidupan sehari-hari yang humanis sarat akan nilai religiusitas. Teori yang digunakan adalah teori religi David Morgan mengenai tiga mode umum perwujudan konstruksi visual sakral, yaitu the body before the image, body in the image, dan body beyond the image dalam Religious Studies. Terdapat total 62 scene yang mencakup 11 scene menggambarkan nilai religiositas dalam keseharian melalui dialog dan mise en scene. Film menampilkan nilai religi yang sesuai dengan kepercayaan Shinto. Hasil penelitian menunjukkan dua mode perwujudan konstruksi visual sakral, the body in the image terlihat dari sikap Yuki dan the body beyond the image terlihat dari sikap masyarakat yang memiliki keyakinan sama di Kamusari yang tercermin dalam 17,7% scene dari keseluruhan total scene.
OPTIMISME MASA DEPAN DAN IDE PENAKLUKAN DALAM KARYA BEEPLE Saraswati, Agni; Fatmawati, Nindya Galuh
Jurnal Senirupa Warna Vol. 12 No. 1 (2024): Menjelajahi batas-batas baru
Publisher : Faculty of Arts and Design, Jakarta Institute of the Arts

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/jsrw.v12i1.214

Abstract

Human One merupakan karya seni instalasi berupa patung video kinetik yang terdiri atas 4 layar LED karya seniman Amerika, Beeple. Sejak dipamerkan pada tahun 2021, karya ini sukses menarik perhatian dunia karena karakternya dianggap sebagai orang pertama yang lahir di dalam Metaverse. Penelitian bertujuan untuk menganalisis konsep karya dari segi komentar sosial dan representasi psikologis dari Human One karya Beeple. Studi dilakukan untuk mengeksplorasi visual karakter sosok astronot dan representasi psikologis yang menyembunyikan narasi mengenai pencerahan sekaligus penaklukan alam oleh manusia. Penelitian menguak bagaimana Human One secara kritis menantang ego sekaligus spiritual manusia. Metode deskriptif kualitatif digunakan untuk mengkaji objek masalah yang kemudian dianalisis menggunakan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa astronot merepresentasikan adanya keinginan penaklukan yang dikuasai ego manusia, namun terdapat individuation process yang dilalui manusia untuk memperoleh pencerahan, sesuai dengan teori psikologi analitik Carl Gustav Jung. Terdapat beberapa arketipe yang terlihat dominan dari karya tersebut, antara lain persona, shadow, dan hero.
KEINDAHAN YANG TIDAK TERSENTUH PADA FILM PERFECT DAYS saraswati, agni; Fatmawati, Nindya Galuh
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 11 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Dian Nuswantoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wim Wenders melalui karya film terbarunya yang berjudul Perfect Days (2023), menawarkan pengalaman sehari-hari yang dibungkus dalam bahasa visual yang penuh dengan tatapan kebaikan atau ia sebut sebagai “peaceful” gaze. Penelitian bertujuan menginvestigasi estetika sehari-hari yang muncul di film Perfect Days yang ditampilkan senafas dengan estetika tradisional Jepang yaitu wabi-sabi yang dianalisis menggunakan teori Cinema of desire atau sinema hasrat, dari Todd McGowan. Metode penelitian memakai deskriptif kualitatif untuk mengkaji objek masalah yang kemudian dianalisis menggunakan pendekatan psikoanalisis. Hasil penelitian menunjukkan kesimpulan bahwa objek a dalam film Perfect Days (2023) ini muncul dari mise en scene dan musik, karena dua unsur filmis ini memberikan dorongan untuk mendapatkan momen guna mengetahui hasrat yang hilang. Estetika sehari-hari sekaligus menjadi object A pada film Perfect Days ini dibagi menjadi tiga bagian yang menawarkan makna dan keterwakilan hasrat terkait: keindahan akan waktu, romantisme trauma dan kehilangan, dan nihilnya akan dorongan material.
UNTOUCHABLE BEAUTY OF EVERYDAY AESTHETICS IN WIM WENDERS’ PERFECT DAYS Fatmawati, Nindya Galuh; Saraswati, Agni
Paradigma: Jurnal Kajian Budaya
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wim Wenders, in his latest film Perfect Days (2023), presents an everyday aesthetic experience conveyed through a visually striking aesthetic characterized by a "peaceful" gaze. This study aims to explore the everyday aesthetics depicted in Perfect Days, which align with traditional Japanese aesthetics, specifically wabi-sabi. The analysis is framed using Todd McGowan's Cinema of Desire theory. The research employs a qualitative descriptive method to examine the subject and utilizes a Psychoanalytic approach for analysis. The findings reveal that object ‘a’ in Perfect Days is highlighted through mise-en-scène and music, as these two cinematic elements facilitate a moment of reconnecting with lost desire. The everyday aesthetics and object a in the film can be categorized into three key areas that convey meaning and represent various desires: the beauty of time, the romance of trauma and loss, and the absence of material drives.