Budaya patriarki yang telah mengakar kuat dalam masyarakat Indonesia menjadi salah satu faktor utama yang menghambat terwujudnya kesetaraan gender. Ketimpangan peran antara laki-laki dan perempuan masih tampak jelas, terutama dalam ranah domestik dan pengambilan keputusan dalam keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hambatan utama dalam proses transformasi budaya patriarki menuju budaya yang lebih egaliter, serta mengeksplorasi bagaimana keterlibatan ayah dalam keluarga dapat menjadi strategi efektif untuk mendukung kesetaraan gender. Metodologi yang digunakan adalah kajian literatur dengan pendekatan kualitatif deskriptif, berdasarkan data sekunder dari berbagai sumber ilmiah seperti jurnal, buku, dan laporan penelitian yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa hambatan utama terletak pada norma sosial dan budaya, stereotip gender, diskriminasi struktural, serta keterbatasan akses terhadap pendidikan bagi perempuan. Di sisi lain, keterlibatan ayah dalam pengasuhan, pendidikan anak, dan pengambilan keputusan rumah tangga berperan penting dalam membentuk lingkungan keluarga yang lebih setara. Ditekankan bahwa peran ayah dapat menjadi katalis perubahan sosial apabila didukung oleh pendidikan, kampanye kesadaran publik, kebijakan pemerintah, serta kolaborasi dengan tokoh masyarakat. Kesimpulan dari kajian ini adalah bahwa transformasi budaya patriarki membutuhkan pendekatan kolektif dan berkelanjutan, dan bahwa ayah memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Rekomendasi mencakup penyusunan kebijakan inklusif, penguatan program pendidikan gender, dan sosialisasi peran ayah yang egaliter dalam masyarakat.