Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DETERMINASI PENETAPAN KADAR TANIN EKSTRAK ETANOL DAUN JATI (Tectona grandis L.f) SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS Basuki, Dewy Resty; Pri Hardini; Abdul Aziz, Muhammad
JURNAL PHARMA BHAKTA Vol 5 No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : FACULTY OF PHARMACY, INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56710/jpb.v5i1.136

Abstract

Latar Belakang : Salah satu tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan obat yaitu tanaman jati (Tectona grandis L.f) dan banyak ditemukan di Indonesia. Komoditas tanaman jati digunakan untuk berbagai hal mulai dari bahan baku furniture, meubel sampai bahan obat. Tanaman jati merupakan tergolong dalam famili Lamiaceae yang memiliki karakterisitik daun yang spesifik dengan adanya pigmen warna antosianin yang memiliki antioksidan tinggi. Daun jati merupakan tanaman empiris yang digunakan sebagai obat antara lain, obat jantung, penurun kadar kolesterol, anemia, kegemukan, hipertensi, diabetes, luka dan obat radang pada tenggorokan maupun sendi, tidak hanya untuk pengobatan penyakit, namun juga bisa digunakan sebagai pewarna alami. Uji pendahuluan ekstrak dan infusa daun jati menunjukan adanya senyawa metabolit sekunder meliputi alkaloid, flavanoid, tanin, dan saponin. Infusa dari daun jati hanya mengandung terpenoid.. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan kadar tanin dalam ekstrak etanol daun jati pada berbagai konsentrasi dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Metode Penelitian : Sampel uji penelitian ini adalah daun tanaman jati yang diekstraksi dengan pelarut etanol, kemudian dilakukan skrining fitokimia. Pengujian kadar tanin dilakukan pada beragam konsentrasi seperti 2, 4, 6, 8, dan 10 ppm diukur menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang maksimal. 738 nm. Hasil : Hasil uji skirining fitokimia menunjukan positif adanya senyawa alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin. Hasil penetapan kadar tanin didapatkan kadar sebesar 9,191% den gan persamaan garis lurus y = 0,0917 x + 0,0041. Kesimpulan : Kadar senyawa tanin sebesar 9,191%.
Profil Penggunaan Obat dan Suplementasi pada Pasien Thalasemia di Rumah Sakit Daerah: Implikasi terhadap Kebijakan Pelayanan Kesehatan Nasional basuki, dewy; Yogi Bhakti Marhenta; Pri Hardini
Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF) Vol. 4 No. 1 (2026): Januari : Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF)
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/jrikuf.v4i1.936

Abstract

Thalassemia is a chronic genetic disorder requiring lifelong management, including regular blood transfusions, iron chelation therapy, and supportive supplementation. Regional hospitals play a strategic role in providing thalassemia care; however, data on drug and supplement utilization at the regional level remain limited. This study aimed to describe the profile of drug and supplement use among thalassemia patients in regional hospitals and to analyze its implications for national health service policies. This study employed a descriptive observational design with a retrospective approach. Data were collected from medical records of thalassemia patients treated at RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Blitar Regency, and RSUD Jombang, East Java. Variables observed included patient characteristics, transfusion therapy, iron chelation drugs, and supportive supplementation. Data were analyzed descriptively. The results showed that most patients with thalassemia major received regular blood transfusions and iron chelation therapy. Deferiprone was the most commonly used iron chelator, while folic acid was the main supportive supplement. Variations in additional supplementation, such as vitamin E and vitamin D, were observed between hospitals. Overall, treatment patterns were generally consistent with national guidelines, although variations in clinical practice were identified. The profile of drug and supplement use among thalassemia patients in regional hospitals generally aligns with national guidelines; however, variations in practice remain. These findings provide important evidence to support evaluation and strengthening of national health service policies to improve the quality and equity of thalassemia care in Indonesia.