Inflamasi merupakan respon fisiologis tubuh terhadap cedera jaringan akibat trauma fisik, kimia, atau mikrobiologik. Terapi menggunakan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dan steroid sering menimbulkan efek samping serius, sehingga diperlukan alternatif berbasis bahan alam. Kunyit (Curcuma longa L.) diketahui mengandung senyawa kurkuminoid, terutama kurkumin, yang memiliki aktivitas antiinflamasi. Namun, bioavailabilitas kurkumin yang rendah membatasi efektivitasnya, sehingga dikembangkan dalam bentuk nanoemulsi untuk meningkatkan kelarutan dan penetrasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antiinflamasi nanoemulsi ekstrak kunyit serta menentukan dosis optimum terhadap mencit jantan yang diinduksi karagenan 1%. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode Ultrasound Assisted Extraction dengan pelarut etanol 96%, diikuti pembuatan nanoemulsi melalui metode emulsifikasi energi rendah menggunakan VCO, PEG 40, dan PEG 400. Nanoemulsi dievaluasi secara fisik (organoleptik, pH, viskositas, stabilitas, ukuran partikel). Rata-rata ukuran partikel sebesar 67,72 ± 1,21 nm yang berada dalam rentang ukuran nanoemulsi (20-200 nm). Uji aktivitas antiinflamasi menggunakan metode induksi karagenan menunjukkan bahwa nanoemulsi ekstrak kunyit menurunkan volume peradangan relatif secara signifikan dibandingkan kontrol negatif (Kruskal-Wallis, p = 0,009). Nilai Area Under Curve (AUC) menurun seiring peningkatan dosis, dengan hasil terbaik pada dosis 200 mg/kgBB, mendekati efektivitas kontrol positif (kalium diklofenak 6,5 mg/kgBB). Begitu pula dengan persentase hambatan peradangan yang cukup tinggi pada menit ke-300 sebesar 83,07% (200 mg/kgBB). Hasil ini menunjukkan bahwa nanoemulsi ekstrak kunyit berpotensi sebagai kandidat sediaan antiinflamasi alami yang efektif, uji lanjutan diperlukan uji toksisitas, stabilitas jangka panjang, serta uji klinis lebih lanjut guna menjamin mutu dan keamanan sediaan.